
Mendengar suara pekikan dari Erin membuat semuanya langsung menoleh ke arah gadis itu.
''Hehe, iya Mi.'' jawab Erin yang merasa senang dan juga gugup jadi satu.
''Ya sudah ayo jalan sekarang.'' ajak papi.
''Jangan di macam-macamin, Jim!'' ancam Edgar pada Jimmy yang baru saja akan membuka pintu mobil.
Mentari menyenggol lengan sang suami agar tidak terlalu kaku.
''Baik Tuan.'' balas Jimmy.
Setelah memberikan sebuah pesan, Edgar, Mentari, dan kedua orangtuanya langsung masuk ke dalam satu mobil yang sama. Sedangkan Erin benar-benar bersama Jimmy.
Mentari yang berada di samping ibu mertuanya itu sesekali menoleh ke arah mobil Jimmy untuk memastikan adik iparnya.
''Kok jadi aku yang deg-degan gini sih..'' gerutu Mentari dalam hati.
Sepasang kekasih yang belum lama menjalin hubungan itu tampak sama-sama gugup.
''Kak.'' panggil Erin.
''Iya?'' balas Jimmy langsung menarik nafasnya.
''Kak Mentari sudah tau tentang hubungan kita.'' ujar Erin.
Hampir saja Jimmy menginjak rem secara mendadak, beruntung ia langsung menyadari dan bisa mengontrol dirinya. Sehingga mobil yang ia kendarai terus melaju dengan baik di belakang mobil Edgar.
''Terus? apa katanya? sejak kapan?'' cerca Jimmy.
''Gimana dengan tuan Edgar?'' imbuhnya.
''Hehe, Kakak juga terkejut, kan? sama Kak. Kak Mentari baru ngasih tau tadi.''
Erin langsung melanjutkan ceritanya sembari mengiringi perjalanan menuju bandara.
Selama Erin bercerita, Jimmy sesekali menoleh ke arah kekasihnya itu.
__ADS_1
''Huuhh, untung kak Mentari bisa di andalkan untuk nggak membocorkan rahasia ini.''
''Kalau kamu sudah siap, bilang saja ya.. Kakak langsung izin ke keluarga.'' balas Jimmy lalu mengusap lembut rambut Erin.
Detak jantung Erin langsung semakin kencang ketika mendapatkan sentuhan itu. Sentuhan lembut itu membuatnya langsung terdiam dan kesulitan untuk berbicara.
Jimmy terkekeh kecil melihat ekspresi kekasihnya yang menggemaskan.
''Jangan tertawa, Kak. Aku gugup.'' protes Erin begitu bisa kembali berbicara.
''Gugup kenapa? bukannya kita sudah sering bareng-bareng sejak dulu?'' balas Jimmy terlihat tenang.
Meskipun pembawaannya terlihat tenang, Jimmy juga merasakan detak jantungnya berdebar kencang. Dulu dengan yang sekarang tentu saja berbeda. Jika dulu benar-benar beranggapan hubungan antara kakak beradik, kini, mereka mereka menyebutkan sebagai calon pasangan hidup di masa depan.
''Memangnya Kakak nggak gugup, gitu?'' tanya Erin penasaran.
Jimmy hanya mengangkat kedua bahunya dan tatapan yang tetap fokus ke depan karena sudah tiba di area airport.
''Bisa-bisanya nggak gugup? jantungku aja rasanya seperti mau copot.'' gumam Erin dalam hati.
''Hati-hati, sayang. Sampai jumpa nanti ya.'' ucap Jimmy.
''Terima kasih, Kak. Kak Jimmy jaga kesehatan.'' balas Erin.
Erin bersiap untuk membuka pintu mobil Jimmy, namun, ada tangan yang menahan lengannya.
Seketika Erin langsung menoleh, kekasihnya itu tengah menatapnya lekat. Ingin rasanya ia langsung pingsan saat itu juga karena tidak sanggup dengan tatapan mata itu.
''Jangan nakal disana. Jangan kecantol pria bule.'' ucap Jimmy.
''Jimmy is my dream.'' ujar Erin.
Jimmy langsung tertawa mendengar kalimat itu, ia langsung mengusap-usap kepala Erin dan mencubit gemas kedua pipi kekasihnya itu.
''Ayo turun, nanti pada curiga. Atau mau sekarang aja?'' tantang Jimmy.
''No, Noooooo! Big NO!''
__ADS_1
Erin langsung membuat silang kedua tangannya yang berhasil membuat sang suami melepaskan tawanya.
''Jaga ini.''
Jimmy memberikan paper bag kecil berwarna cokelat.
''Apa ini?'' tanya Erin.
''Langsung masukkan tas, di buka nanti kalau sudah sampai.'' ujar Jimmy.
''Baiklah, terima kasih Kak.'' ucap Erin.
Jimmy mengangguk.
Keduanya langsung siap-siap keluar dari mobil. Namun, sebelum benar-benar keluar, Erin dengan cepat menciium pipi Jimmy sekilas dan langsung keluar dari mobil Jimmy.
Jimmy dibuat mematung oleh gadis itu, ia memegangi pipi dan juga dadanya.
''Apa ini?'' gumamnya.
Jimmy langsung menarik nafasnya dalam-dalam, lalu setelah lebih baik, ia segera menyusul keluar.
''Maafkan Erin yang ketiduran di mobil kamu ya.'' ucap mami.
Jimmy langsung menatap Erin yang tengah menatapnya dan seakan sedang memohon untuk bekerjasama dalam kebohongan yang sementara ini.
''Hehe, tidak masalah kok.'' jawab Jimmy.
Tiga berangkat dan tiga diam di tempat sembari saling melambaikan tangan tanda perpisahan untuk sementara waktu.
''Tuan, Nona, maaf saya izin langsung pulang karena ingin beristirahat.'' ujar Jimmy ketika Erin dan kedua orangtuanya sudah menghilang dari pandangannya.
''Oh, gitu.. ya sudah nggak papa, Jim. Terima kasih ya sudah mengantar mereka.'' ucap Edgar.
''Sama-sama Tuan.''
Setelah berpamitan, Jimmy langsung kembali mengendarai mobilnya. Ia langsung menuju tempat tinggalnya karena memang benar-benar merasakan lelah. Tetapi karena mengingat Erin akan terbang malam ini, akhirnya ia berusaha menahan agar bisa ketemu sebelum LDR lagi.
__ADS_1