Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 78 : Agar Mentari Terus Bersinar


__ADS_3

Mentari sudah meninggalkan makam ibunya, diikuti oleh Edgar yang berjalan pelan dibelakang karena harus hati-hati melewati pinggir-pinggir makam lainnya.


Mentari menghentikan langkahnya setelah beberapa langkah dari makam ibunya, kemudian ia menarik nafas.


''Kenapa berhenti?'' tanya Edgar. Ia memegang satu bucket bunga.


''Kamu nggak papa Mas?'' tanya Mentari lirih.


Edgar maksud dengan pertanyaan Mentari, kemudian ia maju selangkah dan menyerahkan bunga yang ia pegang agar di pegang oleh Mentari.


''Aku menerimamu dengan segala kisah yang sudah terukir, sayang. Ayo..'' titah Edgar.


Mentari menyimpulkan senyumnya.


''Terimakasih, Mas..'' ucap Mentari dan langsung mendapat anggukan dari Edgar.


Keduanya melanjutkan langkahnya ke makam Nando. Tidak jauh dari makam ibu, Mentari menarik nafasnya dalam-dalam sebelum benar-benar dekat.


Edgar mengusap lembut bahu Mentari, ia tau sang istri pasti teringat kesedihan itu. Namun, sekarang sudah ada dirinya, yang harus siap memberikan energi kekuatan agar Mentari terus bersinar terang.


Mentari tertunduk di samping makam Nando, ia belum mengatakan apapun selain helaan nafas panjangnya, ia juga tak ingin berlama-lama disini, dan terlihat Mentari menyeka airmata yang belum terlanjur jatuh ke tanah.


Mentari meletakkan bunga segar yang ia pegang dengan pelan, lalu mengusap nama yang tertera di batu nisan.


''Terimakasih sudah memberikan banyak sekali pelajaran yang begitu berharga. Maafkan aku, dan aku sudah memaafkanmu sejak hari itu..'' ucap Mentari lirih.

__ADS_1


Edgar melihat dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh sang istri. Keluasan hati yang tidak semua orang memilikinya.


Tak bisa dipungkiri, kisah itu teramat pahit bagi Mentari. Sangat berat baginya menerima takdir yang harus kehilangan seseorang.


°°


Selepas dari makam ibu dan juga Nando, Mentari hanya diam dengan lebih banyak mendongak, seolah tak ingin airmatanya jatuh lagi. Edgar pun belum berani berkata apa-apa selain menggenggam tangan Mentari.


Sesampainya di tempat dimana Edgar memarkirkan mobilnya, ia langsung membukakan pintu untuk Mentari. Tanpa mengucap kata apapun, Mentari langsung masuk dan duduk di dalam sana.


Edgar langsung masuk ke dalam mobil setelah menutup pintu untuk Mentari.


''Menangislah..'' kata Edgar setelah ia duduk.


Edgar menarik bahu Mentari dan membawanya ke dalam pelukannya.


Ada sedikit rasa cemburu dihati Edgar saat melihat Mentari masih bersikap manis dengan suaminya yang sudah tiada, meskipun itu hanya dengan namanya saja. Tapi, tentu saja Edgar bukan orang yang tidak bisa berpikir. Ia mengerti situasi dan kondisinya. Justru ia semakin mengagumi sosok Mentari yang tidak menanam kebencian.


Mentari memundurkan kepalanya setelah puas menangis.


''Maaf Mas, baju kamu jadi basah..'' ucapnya sambil menatap sedih baju Edgar.


Mentari sudah lebih lega setelah menumpahkan airmatanya, sekarang tersisa kedua matanya yang merah, hidung pun juga merah, serta suaranya seperti orang sedang flu. Ia masih berusaha untuk tersenyum saat mengatakan maaf kepada suaminya, walaupun sorot matanya tidak bisa berbohong.


Edgar menangkup kedua pipi Mentari yang masih basah, menggerakkan pipi Mentari ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


''Mass, aku jelek ya?'' tanya Mentari dengan sedikit wajah cemberut.


Karena bukannya mengatakan apapun, Edgar justru seperti sedang bermain dengan gemas pipi Mentari yang memerah seperti permainan anak-anak.


''Kamu selalu cantik, sayang.''


''Pinter banget bohongnya.'' bantah Mentari. Baginya mana ada perempuan masih terlihat cantik dengan kondisi acak-acakan seperti ini.


Edgar kembali memeluk Mentari dengan erat.


''Cantikmu hanya untukku.''


Perkataan Edgar membuat Mentari sedikit tersenyum didalam pelukan suaminya.


''Kapanpun kalau kamu ingin menangis, menangislah, jangan dipendam.'' ujar Edgar.


Mentari mengangguk lalu menatap keatas, bersamaan dengan Edgar menunduk sehingga keduanya saling menatap.


''Nggak mau nangis lagi, cukup hari ini aja.'' ucap Mentari membuat Edgar terkekeh pelan, lalu mengiyakan saja.


Edgar mengurai pelukannya dengan kedua tangannya masih berada di bahu Mentari.


''Kita ke satu tempat lagi, ya..'' ucap Edgar berkata serius.


Mentari sudah paham kemana tempat yang dimaksud oleh Edgar.

__ADS_1


''Iya Mas.'' jawabnya.


Keduanya langsung merapikan duduknya, sedangkan Mentari juga merapikan penampilannya. Ia tidak ingin orang melihat Edgar yang tampan nan keren ini berjalan dengan dirinya yang kusut.


__ADS_2