Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 47 : Akan Menjadi Ritual Yang Rutin


__ADS_3

''I-ini ruangan siapa Tuan?'' tanya Mentari.


''Ini kamar, jika sewaktu-waktu ingin istirahat.'' jawab Edgar lalu menutup pintu kembali.


Edgar mengantarkan Mentari ke kamar pribadi yang tersambung langsung dengan ruangan CEO.


Mentari kembali terkagum-kagum dengan kemewahan yang tergambar di ruangan ini.


''Kau istirahat disini saja, karena kalau disana pasti akan terganggu pas ada orang masuk. Kau tetap disini, jangan kemana-mana kalau nanti aku sedang bekerja.'' tutur Edgar memberikan pesan.


Mentari mengangguk.


''Kalau aku sudah selesai, aku akan segera kembali kesini.'' imbuhnya.


Mentari menatap Edgar dengan mendongak karena tinggi badan yang tidak seimbang, kemudian kembali mengangguk.


Edgar menyalakan AC, lalu menghidupkan televisi agar bisa menemani kesendirian Mentari nanti saat ia tinggal nanti.


Saat Edgar mengambil remote control, Mentari berjalan ke arah tirai jendela. Mentari membuka tirai tersebut hingga menampakkan dinding kaca sekitar setengah meter untuk melihat keramaian kota dari lantai puluhan itu.


Edgar memegang remote televisi dan dua minuman, namun, saat berbalik arah, ia melihat Mentari sedang berdiri menatap arah luar.

__ADS_1


Edgar menyimpulkan senyumnya lalu meletakkan remot dan dua minuman dingin tersebut diatas meja. Ia segera menghampiri Mentari.


''Apa yang sedang kau lihat?'' tanya Edgar membuyarkan lamunan Mentari. Ia berdiri di sampingnya dan melebarkan kain gorden yang dibuka.


''Tuan.. maaf saya hanya ingin melihat-lihat.'' jawab Mentari.


''Aku tidak memarahimu, kenapa minta maaf?''


Mentari menggeleng. ''Tidak papa Tuan.''


''Duduklah, kau pasti lelah karena perjalanan ke villa..''


Mentari menuruti, ia mengikuti langkah panjang Edgar. Mereka duduk di sofa sembari menonton televisi.


''Sepertinya aku harus siap-siap, kau baik-baik disini, jangan kemana-mana.'' ucap Edgar.


''Baik Tuan, saya janji tetap disini.'' jawab Mentari.


Edgar berdiri dari tempat duduknya yang diikuti oleh Mentari.


Setelah memberikan senyuman kepada sang istri, Edgar langsung keluar dari kamar tersebut untuk segera memimpin rapat.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, suara pintu kembali dibuka, Mentari langsung menoleh.


''Loh Tuan, kok sudah kembali? apa rapatnya dibatalkan? atau diundur?'' tanya Mentari.


Edgar tersenyum tipis tanpa menjawab, ia langsung mendekati Mentari yang masih dengan wajah penasaran.


''Ada yang ketinggalan.'' jawab Edgar setelah sudah berdiri di depan Mentari dengan jarak yang dekat.


''Ketinggalan? apa Tuan yang tertinggal? barangkali saya bisa bantu untuk mencari..'' Mentari celingukan mencari sesuatu yang dirinya sendiri tidak tau apa yang akan dicari.


Bukannya panik, Edgar justru berusaha menahan tawanya melihat tingkah menggemaskan dari Mentari.


Pergerakan Edgar membuat Mentari langsung terdiam tanpa kata-kata, sepertinya ia kembali shock sehingga diam mematung saat mendapatkan ciuman mendadak itu.


''Kedepannya ini akan menjadi ritual yang rutin sebelum aku memulai pekerjaan.'' goda Edgar lalu kembali mendaratkan ciuman dibibir Mentari.


''Daa. Mentari.'' Edgar langsung pergi meninggalkan Mentari setelah mendapatkan apa yang tertinggal tadi.


Mentari menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, ia terus memegangi bibirnya yang kini sudah kembali tidak ori.


''Kalau sikapnya terus manis begini, saya bisa jatuh cinta betulan..'' gumam Mentari.

__ADS_1


Empat puluh menit hanya menonton televisi, rasanya sangat membosankan bagi Mentari.


Mentari akhirnya beranjak dari tempatnya duduknya, ia melihat pajangan-pajangan yang tertata sangat rapi. Namun, tiba-tiba pandangan Mentari terfokus pada satu foto yang terpajang rapi disana.


__ADS_2