Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 206 : Surat Perjanjian


__ADS_3

Keesokan harinya


Seperti hari-hari biasanya Edgar akan beraktivitas di kantor. Dan hari ini, Edgar dan Jimmy tiba di kantor secara bersamaan. Keduanya masuk ke dalam lift juga secara bersamaan meskipun tanpa perbincangan.


Jimmy menyapa bosnya itu dengan senyuman dan membungkukkan badannya.


''Ehm.'' Edgar berdehem saat keduanya sudah di dalam lift.


''Apa kamu serius dengan adikku?'' tanya Edgar tanpa menatap Jimmy.


Jimmy langsung menoleh dengan raut wajahnya yang terkejut atas pertanyaan itu. Wajahnya pun langsung membentuk senyuman yang mengembang.


''Tentu saja, Tuan. Saya sangat serius menjalani hubungan ini.'' jawab Jimmy dengan semangat.


Pintu lift terbuka, keduanya keluar tanpa melanjutkan bicara. Mereka juga tidak mau pemandangan negatif kemarin terulang lagi.


''Ke ruanganku sekarang.'' ujar Edgar.


Jimmy mengangguk. ''Baik Tuan.''


Edgar masuk ke dalam ruangannya dengan memasukkan satu tangannya di saku celananya. Sementara Jimmy berdiri dua langkah di belakang Edgar.


Edgar menghentikan langkahnya di depan meja, ia menyandarkan pant4tnya pada sudut meja sembari melipat kedua tangannya di depan. Tatapan matanya menelisik Jimmy dari ujung kepala hingga ujung kaki.


''Kamu tau 'kan bagaimana aku?'' tanya Edgar.


''Iya Tuan.''


''Kamu benar-benar serius dengan adikku atau hanya kasian karena selama ini dia yang berusaha mendekatimu?'' selidik Edgar.


Bagaimana pun juga Edgar tetap teringat dengan sikap sang adik yang seringkali ia tangkap sedang mencari perhatian dari Jimmy dengan sikap manjanya itu. Keingatannya itu yang membuat Edgar merasa khawatir dengan keseriusan Jimmy. Dulu ia tidak berpikiran demikian, setelah sekarang terjadi seperti ini, ia baru mengingat kembali momen-momen kebersamaannya dulu.


Jimmy langsung balik menatap Edgar.


''Demi Allah saya serius menjalani hubungan dengan Erin, Tuan.'' tegas Jimmy.


Edgar mengangguk-angguk lalu mengambil sesuatu dari dalam tas hitamnya lalu memberikannya kepada Jimmy.


''Apa ini, Tuan?'' tanya Jimmy dengan kerutan di keningnya.


''Surat perjanjian, baca dan pahamilah.'' balas Edgar dengan tegas.


''Surat perjanjian?'' balas Jimmy sembari menerima.


Jimmy langsung membuka map yang diberikan oleh Edgar itu. Ia mengeluarkan lembar kertas yang konon katanya berisi surat perjanjian.


...***...


...SURAT PERJANJIAN...


PIHAK 1 : EDGAR RAYMOND


PIHAK 2 : JIMMY ARGANTA


Surat perjanjian ini dibuat oleh pihak 1 mengenai hubungan antara pihak 2 dengan adik kandung dari pihak 1.


Adapun hal-hal yang harus disetujui oleh pihak 2 jika masih tetap ingin melanjutkan hubungan tersebut.


1. Pihak 2 harus memiliki komitmen yang kuat.


2. Selama menjalani hubungan sebelum terikat oleh pernikahan. Pihak 2 dan adik pihak 1 dilarang melakukan tindakan diluar batas yang merugikan.


3. Jika pihak 2 terbukti melakukan kesalahan atau hal-hal yang menyakiti adik pihak 1, maka :

__ADS_1


- Hubungan tidak dapat dilanjutkan dengan alasan apapun.


- Pihak 2 akan di blacklist dari Kantor Urusan Agama manapun.


- Pihak 2 akan kehilangan izin-izin usaha yang telah digelutinya.


Namun, jika hal sebaliknya yang terjadi. Maka, pihak 1 bersedia memohon maaf.


Demikian surat perjanjian ini dibuat untuk disepakati oleh kedua pihak yang bersangkutan.


**Pihak 1 Pihak 2**


Edgar Raymond Jimmy Arganta


...***...


Jimmy menyimpulkan senyumnya setelah selesai membaca isi surat perjanjian tersebut. Ia langsung mengambil pena dan menandatangani surat perjanjian itu tanpa merasakan kesulitan apapun.


Saat Jimmy masih serius membaca, Edgar memperhatikan mimik wajah dari calon adik iparnya itu.


''Santai sekali dia.'' bathin Edgar.


''Saya sudah membaca isi surat ini, Tuan. Dan saya sudah memberikan tanda tangan.'' ujar Jimmy dengan santai sembari memberikan kembali map tersebut.


Edgar menerima.


''Hmm, thank you.'' ucap Edgar datar.


''Your welcome, Kakak ipar.'' balas Jimmy dengan senyum yang memperlihatkan giginya.


Edgar langsung melotot karena sangat risih mendapatkan panggilan itu.


''Sudah-sudah, kembali ke ruangan kamu sendiri.'' usirnya.


''Satu lagi!'' ujar Edgar.


''Baik Tuan.'' jawab Jimmy.


Jimmy yang masih dengan mode senyum lebarnya pun hanya mengangguk dan langsung meninggalkan ruangan Edgar.


''YESSSSSSS!!!'' seru Jimmy saat tiba di ruangannya sendiri.


''FINALLY!!''


Jimmy terus tersenyum lebar. Ia sudah berhasil mendapatkan lampu hijau dari pemegang restu utama.


Namun, tetap saja ada yang mengganjal di dalam pikirannya karena belum meminta restu pada tuan Erick dan nyonya Neeta.


''Semoga mereka juga memberikan lampu hijau untuk kita.'' gumamnya.


-


-


Sejak mendapatkan dukungan dari Jimmy, Rita lebih rutin melakukan kontrol mengenai apa yang dirasakannya. Pikirannya kini sudah mulai lebih baik. Ia tak berharap apapun atas perasaannya pada Jimmy itu. Ia hanya fokus untuk hidup lebih sehat, meskipun ketakutan masih kerap kali ia rasakan.


Jimmy yang sudah mendapatkan izin dari Erin untuk selalu menolong Rita pun benar-benar melakukannya dengan baik. Ia menjadi pria yang tidak mudah goyah terhadap komitmennya. Peringatan keras dari Edgar juga terus terngiang-ngiang di dalam pikirannya. Meskipun terkadang justru membuatnya tergelak.


Seperti malam ini, Jimmy mengantarkan Rita ke psikiater kepercayaannya itu. Setelah itu, mereka menemui seorang dokter yang akan memeriksa kondisi Rita.


Karena hal ini sudah mendapatkan izin dan juga dukungan dari Edgar, Rita pun dialihkan ke psikiater wanita yang pernah mendampingi nyonya Neeta saat menghadapi permasalahan dengan tuan Erick beberapa waktu yang lalu.


Rita juga ditangani oleh seorang dokter wanita yang bertugas di rumah sakit milik Raymond.

__ADS_1


''Sebenarnya saya takut operasi, Tuan.'' ucap Rita lirih ketika mereka tiba di depan ruangan dokter.


Tangan Jimmy yang sudah siap mengetuk pintu tersebut pun langsung diurungkannya.


''Tidak perlu takut, semuanya akan baik-baik saja.''


''Fighting!'' ujar Jimmy diikuti senyumnya.


Rita hanya tersenyum tipis, sementara Jimmy mengetuk pintu tersebut.


Suara dokter menjawab dari dalam ruangan dan mempersilahkan Jimmy dan juga Rita untuk masuk. Rita melangkah di belakang Jimmy dengan mengedarkan tatapannya melihat semua benda-benda yang berkaitan dengan medis, baik dari gambar-gambar yang terpasang pada dinding ruangan itu atau benda lainnya.


''Selamat malam, Dokter.'' ucap Jimmy. Rita ikut membungkukkan sedikit badannya.


''Selamat malam, Tuan Jimmy.'' balas dokter tersebut lalu membalas senyuman Rita.


Sebelum membawa Rita ke dokter tersebut, Edgar dan Jimmy sudah lebih dulu berbincang tentang kondisi gadis itu.


Sementara Rita masih dalam pemeriksaan dokter, Jimmy menunggu di depan ruangan itu. Ia pun mengirim pesan pada sang kekasih bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit. Bukti gambar juga tidak ketinggalan ia kirimkan.


''Terima kasih atas pengertianmu, sayang.'' bathinnya setelah pesannya terkirim.


Mengenai surat perjanjian yang sudah ia sepakati bersama dengan Edgar, ia belum sempat menyampaikannya pada Erin. Hal itu dikarenakan Erin sudah mengatakan belum bisa menelpon untuk hari ini karena pekerjaan yang menyita waktu.


Disana Erin masih berpikiran bahwa Edgar masih kecewa. Bahkan Edgar juga tak menghubunginya, saat ini Erin tidak berani untuk menghubungi sang kakak yang membuatnya takut setelah mendengar dari Jimmy.


''Silahkan masuk, Tuan Jimmy.'' ujar asisten dokter.


''Oh, iya baik.'' jawab Jimmy langsung bergegas masuk mengikuti asisten dokter itu.


Rita dan dokter sudah kembali duduk. Jimmy pun langsung duduk di kursi sebelah Rita.


Rita tampak pucat, ia hanya memaksakan senyumnya.


''Bagaimana, Dok?'' tanya Jimmy.


Dokter tersebut menatap Rita yang langsung menunduk.


''Nona Rita harus segera menjalani operasi, Tuan. Dari pengakuannya, sudah cukup lama keseringan mengkonsumsi makanan dan minuman cepat saji. Nona Rita juga kerap kesulitan untuk tidur dengan baik karena menghabiskan waktu untuk menangis dan juga kerap minum obat tidur. Padahal itu tidak baik jika dikonsumsi untuk waktu yang lama.'' terang dokter.


Rita yang menyadari bahwa dirinya sudah ceroboh dalam menjaga dirinya sendiri pun hanya bisa nyengir ketika mendapat tatapan dari Jimmy.


Dokter tersebut tersenyum ramah.


''Tidak ada yang menakutkan dari operasi, Nona.'' ujar dokter tersebut.


"Terima kasih anda sudah memberikan keterangan yang jujur dari diri sendiri."


Rita mengangguk dan tersenyum tipis.


''Akan lebih menakutkan jika kita terus hidup dengan kesakitan yang terus menjalar.'' imbuhnya.


Jimmy belum ingin menambahkan apapun, ia membiarkan dokter yang berbicara karena itu tugasnya.


''Dokter pasti akan memberikan yang terbaik untuk kesembuhan anda selama anda yakin bahwa kami bisa menjadi perantara yang Tuhan izinkan untuk menyembuhkan sakit yang anda derita.''


Rita tampak mengangguk samar-samar.


''Kami semua menunggu senyum kebahagiaanmu, terutama nona Mentari.'' ujar Jimmy lirih.


Rita sedikit menoleh lalu menarik nafas panjang ketika menunduk. Lalu ia pun menghadap ke arah dokter.


''Baik, Dokter. Saya siap menjalani operasi. Silahkan buat jadwal untuk operasi saya.'' ujar Rita dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Dokter dan Jimmy langsung tersenyum lebar. Asisten dokter yang berdiri pun juga menghela nafas lega.


''Terima kasih, Nona.'' ucap dokter tersebut tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Jimmy.


__ADS_2