
Resto milik Afryan dan Dini untuk hari ini dan besok sengaja tutup demi mempersiapkan acara ulangtahun Ashilla pada esok hari, putri yang masih menjadi semata wayang mereka karena belum ada niat untuk program anak kedua.
Pasangan muda itu sedang berbincang dengan seorang event organizer, disana juga beberapa orang sedang sibuk mendekorasi ruangan itu, dari kesan elegan menjadi meriah sesuai dengan tema ulang tahun anak-anak.
''Iya Kak, nanti meja untuk kuenya disana, souvernir ada di sebelah sana.'' tunjuk Dini.
Meskipun menggunakan jasa organizer, Dini tetap mengungkapkan pendapatnya. Karena ada beberapa hal yang menurutnya kurang cocok.
Pemasangan dekorasi hampir selesai, Ashilla tampak bahagia dengan banyaknya balon-balon yang terpasang. Tangan kecilnya itu ingin meraihnya, namun, Afryan selalu menjaga sang anak agar tidak mengambil balon yang sudah di pasang.
''Sebentar ya, Nak. Itu masih ditiupkan balonnya sama Tante.'' ujar Fryan.
Salah satu dari mereka yang mengerjakan dekorasi pun menyerahkan balon yang selesai ditiup pada Ashilla.
''Bilang apa sama Tantenya?'' tanya Dini.
''Terima kasih, Tantee.'' ucap Ashilla sedikit malu-malu sembari menerima balon itu. Ia langsung berputar dan sembunyi di belakang badan ayahnya sembari menggigit jari.
''Sama-sama, Shilla.'' jawab wanita itu.
''No, ya. Tidak boleh gigit jari ya.'' ujar Dini langsung berjongkok dan menarik pelan jari Shilla.
''Ayo mainan sama Papa.'' ajak Afryan.
Gadis kecil itu nurut, ia langsung berpindah tempat bersama ayahnya, mereka bermain lempar-lemparan balon. Suara tawa keras keluar dari mulut Ashilla, ia sangat senang sekali.
Dekorasi sudah selesai, tulisan ''Happy Birthday Ashilla" juga sudah terpampang disana. Semua meja dan kursi yang siap untuk menyambut kedatangan tamu-tamu pun sudah tersusun rapi.
__ADS_1
''Sebentar lagi jam makan siang, ayo kita ke atas, sepertinya sudah selesai.'' ujar Dini pada mereka.
Dini menggunakan ruangan di lantai dasar, karena acara anak-anak. Sekarang mereka beranjak ke lantai dua.
--
Hari ini akhirnya tiba, Edgar dan Mentari sudah selesai bersiap-siap untuk menghadiri acara ulangtahun Ashilla. Tanpa mengenakan jas dan pakaian formal. Edgar mengenakan t-shirt berwarna merah muda yang dibelinya bersama sang istri waktu itu, dan dipadupadankan dengan celana berwarna putih tulang.
Mentari pun juga sudah siap dengan blouse berwarna putih dan rok tutu berwarna merah muda.
Edgar berdiri di belakang Mentari, melingkarkan tangannya di perut sang istri, lalu menempelkan dagunya.
''Kita ke acara kakak Shilla dulu ya, Nak. Nanti gantian kakak Shilla yang datang ke acara kita.'' ucap Edgar sembari mengusap-usap lembut perut Mentari.
Mentari pun tersenyum, ia menumpuk telapak tangannya di atas punggung tangan Edgar. Ia menoleh ke belakang, Edgar langsung mencium bibirnya.
''Cantik sekali istriku.'' puji Edgar.
Mentari berpenampilan simpel, ia juga merias wajahnya sendiri. Ajakan Edgar untuk membawa sang istri ke perias profesional di tolak, karena Mentari beralasan untuk menghemat demi persiapan kelahirannya nanti.
Edgar masih ingin tertawa jika mengingat kalimat itu. Tapi, ia tidak mau memaksa, karena memang yang diinginkan oleh sang istri adalah penampilan yang sesuai keinginannya. Dan ternyata, meskipun Mentari bukan wanita yang kerap memoles wajah, tetapi hasilnya cukup bagus. Edgar pun sangat menyukainya.
''Ayo jalan sekarang, Mas.'' ajak Mentari.
''Let's go.'' jawab Edgar.
Mentari meraih tas kecilnya yang berwarna putih itu. Edgar memasukkan dompet ke saku celananya, lalu meraih kunci mobil.
__ADS_1
Acara akan dimulai pada pukul 14.00 WIB, sekarang masih jam 13.15 WIB.
''Sebentar aku telpon orangnya dulu ya, sayang. Dia harus bersiap-siap juga.'' ucap Edgar.
Mentari mengangguk lalu memasang sabuk pengamannya.
Sementara itu, Edgar masih menghubungi seseorang yang ia temui beberapa waktu yang lalu. Perbincangan itu terdengar serius.
''Nanti saya hubungi ketika tamu yang lain sudah tidak begitu ramai.'' ujar Edgar.
''.....''
''Hm, ya, baik. Terima kasih, Pak.'' ucap Edgar, lalu menyudahi telepon itu.
''Gimana, Mas?'' tanya Mentari.
''Aman, sayang.'' jawab Edgar.
''Syukurlah.'' balas Mentari lalu kembali menyandarkan punggungnya.
...****************...
Sambil nunggu Cimai update part selanjutnya, Cimai rekomendasikan lagi novel yang bikin penasaran pake banget.
Novel karya author TIE TIK, yang berjudul "SOSIALITA"
Wajib banget untuk masuk ke dalam daftar rak favorit kalian 😍
__ADS_1
Terima kasih 🙏