
Mentari bersama dengan Eva dan Listi ke supermarket untuk berbelanja keperluan dapur dan lain-lain. Mereka pergi diantar oleh supir, tentunya Mentari sudah meminta izin terlebih dulu kepada Edgar jika hari ini jadwal berbelanja.
Meskipun bukan kali pertama, Mentari tetap selalu meminta persetujuan terlebih dulu. Karena dikhawatirkan Edgar akan berubah pikiran. Kemarin-kemarin dibolehkan, belum tentu untuk hari ini dan esok.
Di tengah-tengah sedang berbelanja, ponsel Mentari berdering. Sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, sudah bisa dipastikan itu telepon dari Edgar.
''Sebentar ya..'' ujar Mentari pada Listi dan Eva.
''Baik Non.'' jawab keduanya.
Mentari menjawab telepon dari sang suami.
''Masih di supermarket?'' tanya Edgar dari sambungan telepon.
''Iya Mas, ini sudah di supermarket, sebentar lagi selesai.'' jawab Mentari melalui sambungan telepon.
''Tunggu disana, aku jemput kita makan siang bareng.''
''Memangnya kamu nggak sibuk, Mas?'' tanya Mentari.
''Sudah hampir waktunya jam makan siang sayang.'' jawab Edgar.
''Yaudah, aku tunggu ya Mas.''
''Daa.. i love you, muuuaahhh..''
Mentari tertawa kecil dengan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
''Disini ramai.'' jawab Mentari.
Disana Edgar terdengar tertawa. Sudah pasti itu kode bahwa Mentari tidak bisa membalasnya karena disekelilingnya banyak orang-orang yang sedang berbelanja juga.
Edgar menyudahi teleponnya, Mentari pun langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
__ADS_1
''Sudah cukup semua kah ini?'' tanya Mentari melihat keranjang belanja yang sudah penuh.
''Sudah Non.'' jawab Listi.
''Oke.''
''Sekalian cari keperluan kalian, seperti pembalut atau apa gitu yang sekiranya sudah mau habis.'' ujar Mentari.
Listi dan Eva saling menatap.
''Hehe..''
''Ahh kalian ini pasti malu-malu kucing. Nggak di potong gaji kok, sekalian ambil cemilan yang kalian suka, buat yang lain juga.''
''Tenang aja, pakai duitnya tuan Edgar hihi..'' canda Mentari.
Setelah dipaksa-paksa, keduanya langsung mau. Mereka mencari perlengkapan perempuan dan beberapa cemilan.
''E... nanti tuan Edgar mau jemput saya. Jadi, kita tunggu sebentar ya..'' ujar Mentari seraya menunggu totalan.
''Jadi Non Mentari nggak ikut kami pulang?'' tanya Listi.
''Iya, kalau tuan Edgar sudah datang, kalian bisa langsung pulang ke rumah.''
''Baik Non.''
Barang-barang belanjaan yang sangat banyak itu sudah di masukkan ke dalam mobil. Bagian belakang sangat penuh. Dari yang basah sampai yang kering.
Mentari serta yang lainnya menunggu Edgar di dalam mobil. Sudah hampir lima belas menit, belum juga datang. Jika di hitung dari waktu menelpon tadi, seharusnya sudah datang. Apalagi ini belum jam istirahat para pekerja.
Mentari akhirnya mencoba menghubungi nomor Edgar, tetapi tidak diangkat juga. Sekali, dua kali, tiga kali.. panggilan itu berdering, tetapi, masih saja tidak ada jawaban dari Edgar.
''Apa mungkin ada kepentingan mendadak ya?'' gumam Mentari.
__ADS_1
''Maaf Non, bagaimana? apa tuan Edgar sudah di jalan menuju sini?'' tanya supir yang membawanya. Ia terlihat gusar karena bosnya belum juga nongol.
Mentari menatap supir yang berada di depannya itu.
''Itulah Pak, telpon saya nggak di jawab juga.'' jawab Mentari.
''Jangan-jangan tuan Edgar kecelakaan. upps!'' Listi langsung menutup mulutnya rapat-rapat karena sembarangan berkata.
''Jangan sembarangan bicara seperti itu Listi!'' ujar pak supir.
''Maaf Pak.'' ucap Listi.
''Maaf Non, saya tidak bermaksud apa-apa, keceplosan.'' ucap Listi lirih. Ia langsung tak enak hati.
Mentari hanya mengangguk dan berusaha tetap menunjukkan senyumnya.
Listi menjadi salah tingkah, ia khawatir Mentari akan membuat hukuman atas kecerobohannya dalam mengeluarkan kata-kata.
''Jalan saja Pak ke kantor, mungkin tuan Edgar masih ada pekerjaan yang belum bisa ditinggal dan sangat mendadak, jadinya belum sempat menghubungi saya.'' ujar Mentari.
''Baik Non.'' jawabnya.
Mobil kembali berjalan menuju kantor pusat Raymond. Mentari masih berusaha berpikir positif. Ia meyakini suaminya masih disibukkan dengan pekerjaannya.
''Pak, Pak.. itu bukannya mobil tuan Edgar kan?'' tanya Mentari sembari menunjuk arah depan.
Listi langsung melongok ke arah depan mengikuti telunjuk Mentari.
''Betul Non.. tapi, kenapa arahnya sama seperti kita? apa ada orang lain yang memakainya?''
''Kita ikuti saja Pak, sepertinya mobil itu ngebut.'' ujar Mentari.
''Baik Non.''
__ADS_1