Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 150 : Tampan Sekali Pacarku


__ADS_3

Sebelumnya, Edgar sudah memasang alat di telinganya untuk menyambung ke ponsel.


''Hallo, Jim.''


''.....''


''Sudah jalan kah?''


''.....''


''Oh, syukurlah. Ya sudah.''


Edgar langsung mematikan teleponnya untuk kembali fokus ke kemudinya.


''Gimana Mas? sudah ketemu sama Rita?'' tanya Mentari.


''Sudah, sayang.'' jawab Edgar.


Mentari bisa bernafas lega mendengarkan jawaban Edgar.


Tidak ada yang memperhatikan perubahan ekspresi wajah Erin, karena kebetulan dia duduk di belakang. Tak dipungkiri rasa kecemburuan itu hadir dimana ia harus sabar melihat kekasihnya itu berdua bersama dengan perempuan lain.


Erin menatap ke arah luar kaca, melihat kendaraan lain yang saling mendahului.


''Sampai kapan harus diam-diam seperti ini?'' gumamnya dalam hati.


°°


Jimmy baru saja menghentikan laju mobilnya, ponselnya berdering dan menampilkan nama bosnya sendiri.


Setelah selesai menjawab panggilan telepon masuk dari Edgar, Jimmy membuka kacanya karena melihat Rita yang sudah menunggu. Mungkin setelah mendapatkan kiriman pesan darinya, ia langsung keluar rumah.


''Buruan masuk.'' ujar Jimmy tanpa turun dari mobil.


Rita mengangguk.


''Baik Tuan.''


Sebelum masuk ke dalam mobil Jimmy, Rita terlihat menarik nafasnya dan membuang kasar.


Selama di perjalanan, tidak ada obrolan sama sekali, keduanya sama-sama diam. Jimmy fokus menyetir, sedangkan Rita fokus dengan jantungnya yang berdegup kencang.


''Sungguh indah sekali ciptaan-Mu.. jantungku berdebar-debar.'' ungkap Rita dalam hati.


°°

__ADS_1


Ternyata kedatangan mereka yang dari arah berbeda pun bisa tidak jauh selisihnya.


''Bu, Pak.. apa kabar? sehat semua, kan?'' tanya Mentari menyambut keluarga bu Maryam yang baru datang.


''Tentunya kami sehat, Mentari.''


''Syukurlah.'' jawab Mentari senang.


''Kamu gimana?''


Mentari tersenyum tipis lalu memeluk erat bu Maryam.


''Aku hamil, Bu.'' ucapnya lirih.


''Oh ya? ya Allah Ibu sangat senang sekali, akhirnya ya, Nak.''


''Mohon do'anya terus ya Bu.. titip salam buat anak-anak juga.''


''Pasti, pasti Ibu do'akan terus.''


Sudah lama tidak mengobrol, apalagi bertemu. Meskipun demikian, mereka tetap seperti dulu yang sudah seperti keluarga sendiri.


Mereka saling bertegur sapa sebelum masuk ke dalam resto. Bu Maryam terlihat sedang berbicara dengan mami dan papi. Mentari melihat adik iparnya seperti sedang menunggu seseorang.


''Kamu kenapa, Erin? kok kelihatannya gelisah gitu?'' selidik Mentari.


''Nunggu Jimmy sama Rita.'' jawab Mentari.


Niatnya mengalihkan pembahasan, justru Erin salah mengeluarkan pertanyaan.


''Ohh, iya-iya hehe.'' balasnya salah tingkah.


''Itu dia.'' ujar Mentari memberitahu adiknya bahwa mobil Jimmy datang.


Erin menatap mobil tersebut tanpa berkedip, pandangannya tidak teralihkan kemanapun. Seorang pria tampan turun dari mobilnya, bersamaan dengan pintu sebelahnya juga turun seorang wanita yang cantik.


Erin mendapatkan tatapan dan senyuman itu. Seketika itu ia langsung menoleh ke kanan dan ke kiri karena takut ada yang memperhatikan tatapan itu dengan jeli.


''Tampan sekali pacarku.'' bathin Erin.


Rita tampak terlihat malu-malu dan gugup. Ia menyapa keluarga bosnya dan juga keluarga bu Maryam.


°°


Di dalam resto sudah penuh. Mereka saling berkenalan satu sama lain. Terlebih Mentari dan juga mertua dari Dini, karena mereka sempat memiliki masalah dengan orang yang sama.

__ADS_1


''Dini bercerita tentang masalah itu, syukurlah kalau sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, dia benar-benar wanita yang licik.'' ujar mertua Dini.


Mentari mengangguk dan tersenyum.


''Ayo Nak, itu ada aunty Mentari.''


Mentari mendengar suara itu, ternyata Dini yang berpamitan ke belakang sedang menjemput anaknya di ruangannya.


''Hallo sayang, anak cantik.. siapa namanya?'' sapa Mentari dengan mengulurkan tangannya.


Dini membantu mengulurkan tangan putrinya.


''Namaku Ashilla, Aunty.''


Dini yang menjawab, karena gadis kecil itu masih terlihat malu-malu.


''Boleh Kakak gendong?'' izin Mentari pada Dini.


''Boleh dong Kak.''


''Aunty mau gendong Shilla sebentar ya. Aunty baik kok.''


Gadis kecil itu pun mau, ia tidak menolak, hanya saja belum mau berbicara apapun karena malu. Tatapan polosnya terus memperhatikan wajah Mentari yang sedang memangku.


Melihat sang istri memangku gadis kecil, Edgar yang tadinya masih berbicara dengan ayah Dini pun langsung izin mendekati Mentari.


''Cantik sekali, siapa namanya?''


''Namanya Ashilla, Uncle.'' jawab Dini yang masih setia di dekat Mentari karena juga tengah mengawasi putrinya.


''Nama yang cantik.''


Edgar terlihat senang dengan anak kecil itu. Ia meminta gantian menggendong Ashilla, karena selain gemas, ia juga tak tega dengan Mentari yang sedang mengandung.


Gelak tawa beberapa orang yang memperhatikan Shilla tengah menatap Edgar tanpa berkedip.


°°


Cukup hangat kebersamaan malam ini, beberapa keluarga menjadi satu. Yang sebelumnya tidak kenal, kini saling mengenal.


Dini dan suaminya, serta timnya berusaha semaksimal mungkin untuk membuat mereka nyaman ketika berada di restonya.


Semua terlihat menikmati berbagai menu makan malam andalan restonya.


''Lega ya Fry?'' ujar Dini pada suaminya ketika melihat semuanya tersenyum senang.

__ADS_1


''Iya sayang.'' jawab Afryan.


__ADS_2