
Seusai sarapan pagi hari ini, Mentari langsung berangkat ke rumah sakit bersama dengan Edgar. Keduanya akan menjenguk Rita sebelum Edgar berangkat ke kantor yang rencananya Mentari akan ikut kalau nanti di rumah sakit tetap pusing dengan bau obat-obatan.
''Ayo, Mas.'' ajak Mentari yang sudah siap dan tidak sabar untuk bertemu dengan temannya itu.
''Iya, sayang.'' jawab Edgar yang baru saja mengambil kunci mobilnya.
Mobil yang dikendarai oleh Edgar kini sudah membelah jalanan ibukota. Edgar mengendarainya dengan kecepatan sedang. Dan tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit.
Kedatangan mereka disambut oleh petugas keamanan dan mengantarkan keduanya ke ruangan Rita.
''Terima kasih, Pak.'' ucap Edgar.
Petugas tersebut membungkukkan badannya.
''Sama-sama, Tuan.'' balasnya sambil membungkukkan badannya lagi.
Edgar dan Mentari langsung membuka pintu ruangan itu. Tampak Rita tersenyum menyambut kedatangan mereka. Perawat yang menjaga Rita pun langsung menyapa dan izin keluar dari ruangan itu untuk memberikan waktu buat Edgar dan Mentari mengobrol dengan Rita.
''Maaf, saya masih belum leluasa untuk duduk.'' ucap Rita yang tetap berbaring.
''Ooh, nggak papa, tenang. Yang penting kamu cepat sehat.'' jawab Mentari kemudian duduk di kursi sebelah ranjang tempat Rita. Sedangkan Edgar berdiri di belakang Mentari.
''Gimana keadaan kamu sekarang?'' tanya Mentari.
''Sekarang sudah lega. Semua karna kalian yang benar-benar kasih dukungan.'' jawab Rita dengan senyum tipisnya.
Mentari ikut tersenyum tipis, ia teringat dengan rekaman yang sudah ia dengarkan soal Rita. Melihat wajah Rita membuatnya semakin sedih. Ia mengusap punggung tangan temannya itu dengan lembut.
''Apa temanmu semalam menginap disini?'' tanya Edgar.
__ADS_1
''Iya, Tuan. Kak Vika baru pulang tadi subuh.'' jawab Rita.
Rita sangat bersyukur meskipun tidak ada satupun keluarga kandung yang mendampinginya. Tapi, banyak orang yang sudah peduli padanya. Mereka saling bekerjasama satu sama lain demi kesehatannya. Meskipun di dalam pikirannyaya tetap menginginkan ada anggota keluarga yang peduli.
''Rita, aku minta maaf nggak bisa lama-lama disini. Sebenarnya aku pengin banget menemani kamu, tapi, ternyata kepalaku pusing lagi pas nyium bau-bau obat.'' ucap Rita.
''Tidak papa, justru aku merasa menjadi orang yang jahat kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu, Mentari.''
''Jaga calon ponakanku.'' Rita melirik ke perut Mentari lalu tersenyum.
Mentari ikut tersenyum.
''Jangan khawatir, disini aku sudah ada yang menemani 24 jam. Dan mereka selalu melakukan yang terbaik untuk merawatku.''
''Jika diantara mereka tidak melakukan tugasnya dengan baik, kamu bisa laporkan pada Jimmy.'' ujar Edgar.
''Tidak, Tuan. Mereka menjaga kepercayaan itu dengan baik.'' jawab Rita.
Tidak banyak yang Mentari dan Edgar katakan. Mereka menghargai Rita yang masih dalam masa pemulihan pasca operasi.
Setelah satu jam berada di rumah sakit, Edgar mengajak serta sang istri untuk ke kantor. Mentari juga tidak menolak ketika Edgar memberikan persyaratan itu agar diperbolehkan ke rumah sakit. Mentari juga merindukan berada di ruangan khusus sang suami saat sedang istirahat di kantor.
Di kantor
Para karyawan menyambut kedatangan Edgar dan Mentari dengan hormat. Disaat Jimmy sudah terlihat datang lebih awal, Edgar baru saja datang dan membawa pasangannya.
Edgar tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Mentari. Apalagi saat berada di lantai ruangannya, mengingat kejadian waktu bersama dengan Jimmy dan membuat mereka berbisik-bisik.
''Iya, pagi.'' jawab Mentari pada karyawan yang menyapanya.
__ADS_1
''Ternyata sudah lama aku tidak masuk ke dalam sini.'' bathin Mentari ketika pintu ruangan Edgar dibuka.
''Ada apa, sayang?'' tanya Edgar melihat sang istri yang mengedarkan pandangannya.
''Ah, nggak ada apa-apa, Mas. Aku hanya rindu masuk ruangan Pak Bos.'' jawab Mentari sedikit berbisik.
Edgar pun terkekeh sembari merengkuh pinggang sang istri agar menghadapnya.
Keduanya saling menatap lekat dan tersenyum. Edgar langsung menyambar bibir favoritnya itu dengan lembut. Hingga kelembutan itu semakin menuntut untuk lebih.
Namun, baru saja api menyala, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan Edgar. Mentari langsung reflek mendorong dada Edgar.
''Ada orang.'' bisiknya sembari mengusap bibirnya dengan cepat.
''Ya, masuk.'' jawab Edgar yang merasa kesal karena terganggu.
Wajah Jimmy muncul di depan pintu sembari menampilkan senyum lebarnya seperti tanpa dosa. Sebelumnya ia sudah dihubungi oleh Edgar yang akan ke rumah sakit terlebih dahulu, dan juga mengajak Mentari ke kantor, sehingga Jimmy pun tidak terkejut. Justru ia sudah menebak, apa yang baru saja keduanya itu lakukan.
''Wajah-wajah kalian itu sudah menunjukkan.'' bathin Jimmy.
''Aku ke dalam dulu, Mas.'' pamit Mentari.
Edgar langsung mengikuti sang istri, ia belum membukakan pintu ruangan yang masih terkunci itu.
Setelah membuka kunci pintu, Edgar kembali menemui Jimmy.
''Aku dari rumah sakit, Jim.'' ucap Edgar.
''Iya, Tuan. Tadi anda sudah mengabari saya.'' jawab Jimmy dengan santai.
__ADS_1
''Hmm, duduklah.''