
Edgar mengambil suapan pertama. Bibir yang tadinya tersenyum lebar karena yakin masakan Mentari pasti enak, tiba-tiba bibirnya langsung mengatup rapat dengan pipi terlihat mengembung, seperti menahan sesuatu.
Mentari sengaja menunggu Edgar merasakan hasil masakannya baru ia mengikuti. Namun, melihat ekspresi wajah Edgar membuatnya sangat panik, ia langsung merasa gagal.
Mentari sibuk mengambilkan tisu dan juga menyodorkan air minum untuk suaminya.
''Maaf Mas, maaf kalau rasanya nggak enak. Tolong paksa telen sekali ini, abis itu minum yang banyak, ya, jangan dibuang..'' ucap Mentari memohon.
''Maaf Mas..'' ucap Mentari lagi.
Disaat Mentari sedang sibuk pada objek lain, Edgar melanjutkan kunyahannya hingga ia telan.
''Masakan kamu sederhana, sayang.. tapi, rasanya sangat lezat.'' puji Edgar.
Lagi-lagi Mentari dibuat terkejut oleh Edgar. Ia yang masih hendak menyingkirkan piring Edgar, justru dagunya diraih dan diberi kecupan singkat.
''Mas.. apa-apaan?''
''Aku tadi becanda.'' tutur Edgar menarik kembali piring yang akan disingkirkan oleh Mentari.
Bug!
Dengan bibirnya yang menggerutu, Mentari memukul pelan dada bidang Edgar karena kesal diisengin terus.
Tentu saja pukulan itu sama sekali tidak membuat Edgar merasakan sakit. Baginya justru menggemaskan.
''Maaf ya..'' ucap Edgar seraya menggenggam tangan Mentari yang masih berada di dadanya.
''Beneran rasanya gimana? jangan bohong.''
__ADS_1
Edgar kembali mengambil makanannya dan menyuapkan untuk sang istri. Awalnya ragu untuk membuka mulut, akhirnya Mentari mau menerima suapan dari Edgar.
''Aa....em''
Hal yang sudah terbiasa Mentari lakukan adalah memasak tanpa mencicipi, ia hanya menggunakan ilmu perkiraan. Hal itu juga yang membuatnya tadi yakin hasil masakannya tidak cocok dengan Edgar.
''Enak..'' gumam Mentari sembari menutup mulutnya.
''Terimakasih sayang.'' ucap Edgar lalu mengusapkan jarinya ke sudut bibir Mentari yang sudah tidak ditutupi.
Meskipun jantungnya kembali berdebar, Mentari sangat menikmati momen ini.
"Jangan jail terus Mas, aku takut beneran nggak enak." protes Mentari setelah selesai menelan.
"Iya, sayang.."
''Sayang, sepertinya kamu harus bertanggungjawab.'' ujar Edgar setelah keduanya selesai makan.
Kedua alis Mentari langsung menyatu.
''Memangnya aku berbuat apa Mas?''
''Karena masakan kamu sangat enak, setiap hari kamu harus masakin aku buat makan siang dikantor, dan kamu yang antar langsung.'' jawab Edgar.
Jawaban Edgar membuat Mentari mendengus.
''Nanti diantar supir.'' ujar Edgar.
''Tapi, aku malu, Mas..''
__ADS_1
Mentari masih beranggapan bahwa dirinya juga seorang karyawan biasa yang bekerja pada Raymond Group. Meskipun pada kenyataannya dialah istri dari orang nomor satu dikantor itu, tetapi rasanya masih sungkan jika harus bertatapan dengan para pekerja disana.
Edgar meraih kedua bahu Mentari agar menghadapnya.
''Sayang, mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan itu semua. Kamu bebas kapanpun mau datang, bahkan kalau ada karyawan yang bikin kamu nggak suka, kamu berhak untuk memintaku untuk menghentikannya.''
Mentari tersenyum tipis dan memberikan anggukan kecil.
''Aku akan berusaha, Mas..''
Gantian Edgar yang mengangguk pelan lalu membawa Mentari ke dalam pelukannya.
Seketika ingatan Edgar kembali pada masa beberapa tahun yang lalu. Ketika dirinya masih menjadi suaminya wanita lain dan hidup di negara orang. Wanita itu selalu menginginkan untuk ditampilkan sebagai menantu Erick Raymond. Edgar sendiri tidak bisa berbuat apa-apa kala itu, karena keputusan ada ditangan sang ayah yang juga belum menampilkannya.
Meskipun untuk soal fasilitas tidak pernah kekurangan, tetapi wanita itu selalu menagih untuk cepat agar orang-orang tau bahwa dirinya sudah masuk dalam keluarga Raymond. Namun, pada akhirnya, ketidaksabarannya membawa wanita itu ke dalam ketidaksetiaan pada suaminya meskipun kondisinya sedang berbadan dua.
Ah, Edgar tidak mau lagi memusingkan hal itu. Setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda. Sekarang ia bersama dengan seorang wanita yang jauh berbeda. Edgar tidak ingin membanding-bandingkan, karena itu bisa menyakiti perasaannya.
''Dalam kondisi apapun, tolong jangan pernah tinggalkan aku, jangan pernah mendua..'' lirih Edgar seraya mengurai pelukannya.
Keduanya pun saling menatap intens.
''Justru aku yang khawatir akan hal itu, Mas..'' balas Mentari dengan tatapan sendu.
''Aku khawatir kamu seperti orang kaya lainnya, yang bebas mencari kepuasan diluar sana ketika rasa bosan datang.'' sambungnya sedikit menunduk.
Edgar langsung menggeleng cepat.
"Tidak sayang, tidak akan.." jawabnya langsung kembali memeluk Mentari dengan erat.
__ADS_1