
Pedn Vounder Beach
(gambar dari pinterest)
Pemandangan yang indah, hamparan air pantai sangat menyejukkan sejauh mata memandang. Meskipun perjalanan menuju pantai ini terbilang tidak mudah, tetapi semua itu terbayarkan dengan keindahan alamnya.
Edgar dan Mentari berjalan di sisi pantai dengan bergandengan tangan, menikmati udara yang menyejukkan. Angin yang kencang meniup dress panjang yang dikenakan oleh Mentari. Rambutnya yang diurai juga tak kalah dari terpaan angin pantai.
Edgar menghentikan langkahnya, lalu menghadap sang istri. Ia meraih tangan satunya, ia menatap dan mengusap lembut jari jemari Mentari.
''Aku mencintaimu''
''Ah.. jangan pernah bertanya apa aku tidak bosan mengatakan itu terus menerus. Karena jawabannya aku tidak akan pernah bosan untuk mengingatkan kamu kalau suamimu ini sangat mencintaimu.'' sambung Edgar.
Mentari tertawa kecil. Ia menatap hamparan air di disisi kirinya.
''Dan aku tidak akan pernah bosan untuk mengucapkan terimakasih untuk suamiku.'' balas Mentari.
Edgar mengeratkan bibirnya membentuk sebuah senyuman.
Cup
Edgar mendaratkan ciiumannya di bibir Mentari dengan mesra. Air yang terbawa arus membasahi kaki keduanya.
Edgar mengusap sudut bibir Mentari.
''Jangan memikirkan mimpi buruk itu. Percayalah padaku..'' ujar Edgar.
Mentari tersenyum sembari menatap lekat mata yang terkadang tajam, namun bisa juga memberikan tatapan yang meneduhkan untuknya itu.
''Iya Mas, aku percaya.'' balas Mentari.
Keduanya kembali berpelukan erat sesaat.
''Mas mau ngapain?'' tanya Mentari yang tiba-tiba melihat sang suami membelakanginya.
Edgar menepuk-nepuk pundaknya sendiri. Sementara Mentari langsung mengernyitkan keningnya memahami maksud dari kode itu.
__ADS_1
''Gendong?''
Edgar mengangguk. ''He'em.''
''Depan apa belakang?''
Mentari terkekeh dan langsung merangkul Edgar dari belakang sebagai jawaban kalau dirinya memilih gendong belakang.
Keduanya tertawa bersama, menikmati indahnya pantai beserta pemandangan indah disana.
''Aaa Mas, jangan lari-lari, nanti jatuh!'' pekik Mentari.
Hahaha
Edgar tertawa senang, ia sengaja sedikit berlari agar Mentari mengeratkan pegangannya.
''Kamu pasti jatuh, sayang. Tapi, jatuhnya jatuh cinta pada Edgar seorang.'' seru Edgar.
Mentari langsung tertawa mendengar kalimat menggombal yang keluar dari bibir suaminya.
''Pede banget.'' seru Mentari.
''Harus dong.'' balas Edgar.
Cup
Benar-benar merasakan kebahagiaan tanpa ada gangguan.
Setelah puas berlarian sembari menggendong, Edgar menurunkan Mentari.
''Oh ya Mas, kenapa pantai ini sangat sepi?'' Mentari celingukan kesana kemari mencari pengunjung lain.
''Hari ini khusus untuk kita, sayang.''
Mentari yang masih mengedarkan pandangannya ke arah lain langsung terbelalak menatap wajah Edgar.
Edgar terkekeh gemas melihat ekspresi wajah terkejut dari sang istri.
''Maksud kamu, Mas?''
''Aku tidak suka menikmati pantai ini bersama pengunjung lain. Aku hanya ingin berdua sama kamu, yahh kecuali mereka yang memang bekerja disini.'' jelas Edgar.
__ADS_1
Mentari tidak percaya jika suaminya melakukan hal ini. Mentari langsung menghitung berapa banyak dana yang dihabiskan untuk perjalanan mereka berdua.
''Mas, kamu benar-benar cuma buang-buang uang, Mas..'' protes Mentari yang justru membuat sang suami gemas.
''Mas, aku serius..'' imbuhnya.
Edgar masih berusaha menahan tawanya.
''Ishh Mas, malah ketawa sih..''
''Nanti aku akan bekerja lebih giat lagi supaya balik modal.'' jawab Edgar masih berusaha menahan tawa.
''Kamu jangan khawatir, sayang. Tugasmu cukup selalu mendo'akan suamimu ini, dan...."
''Do'a itu pasti, dan apa Mas?'' tanya Mentari penasaran.
Edgar menatap genit ke arah Mentari. Mentari yang menyadari arti itu langsung mencubit kecil paha Edgar yang hanya mengenakan celana pendek.
''Cukup mudah, bukan?'' goda Edgar.
''Jangan keras-keras ngomongnya, Mas.. nanti ada yang dengar.'' protes Mentari.
''Meskipun mendengar, mereka tidak mengerti kita bicara apa, sayang..''
Mentari langsung menepuk keningnya sendiri karena lupa sedang berada dimana.
Setelah cukup lelah, Edgar dan Mentari mengunjungi restoran yang berada disana. Untuk bergerak kesana kemari ternyata membuat cacing-cacing di dalam perutnya terasa sedang melakukan aksi demo.
Sembari menunggu pesanan, Edgar berbincang dengan pengelola pantai tersebut. Mentari yang tidak terlalu fasih menggunakan bahasa asing hanya mendengarkan saja, sedikit-sedikit ia mengerti.
''Terimakasih atas kunjungan anda, Tuan Edgar dan Nona Mentari.'' ucap pria itu dalam bahasa Inggris.
''Sama-sama, kami sangat senang tiba disini, meskipun perjalanannya tidak mudah, semua itu terbayarkan dengan keindahan pantainya dan juga pelayanan yang kami terima.'' ucap Edgar.
''Kami akan selalu meningkatkan fasilitas agar lebih baik, Tuan."
"Jika kedatangan kalian kali ini sedang berbulan madu, saya harap kedatangan berikutnya kalian sudah bersama seorang bayi.'' harap pria itu.
''Ohh aamiin..'' balas Edgar dan Mentari bersamaan.
Setelah pesanan datang, pria itu undur diri untuk mengurus pekerjaan lainnya.
__ADS_1
Mentari dan juga Edgar menikmati menu andalan yang ada di restoran tersebut sembari menunggu matahari terbenam yang tidak lama lagi.