
Jam sepuluh malam waktu Indonesia. Tiga puluh menit yang lalu Jimmy baru tiba di apartemen setelah menyelesaikan urusan dengan Rita.
Ia duduk di sofa sembari menunggu kabar dari Erin yang sudah mengirimkan pesan akan segera menghubunginya. Segelas kopi panas menjadi teman untuk menunggu.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Jimmy langsung tersenyum lebar setelah memastikan bahwa sang kekasih yang menelepon, ia langsung menjawab panggilan video itu.
Yang selalu menjadi awalan ketika panggilan sudah dijawab adalah sama-sama tersenyum lalu baru menyapa.
''Maafkan aku ya, Kak. Hari ini aku seperti dikerjain, hufftt.'' gerutu Erin mengadu pada kekasihnya itu.
Jimmy terkekeh gemas.
''Iya, nggak papa. Semangat banget kerjanya, mau buat apa?'' tanya Jimmy.
''Buat modal berumahtangga, hahaha''
Erin yang tadinya mode menggerutu langsung tertawa lebar karena geli dengan omongannya sendiri. Jimmy pun ikut tertawa mendengar tawa itu.
''Oh, iya, gimana keadaan kak Rita?'' tanya Erin mengalihkan perbincangan.
''Dia sudah siap untuk operasi dan jadwalnya lusa, sayang.'' jawab Jimmy.
''Ohh, semoga berjalan dengan lancar.''
''Aamiin.'' balas Jimmy.
Jimmy tersenyum dengan menatap layar ponselnya. Erin langsung menutup wajahnya karena grogi dengan tatapan itu.
''Aku malu tau, Kak.'' protes Erin dengan mengintip dari sela-sela jarinya.
''Kakak ada kabar bahagia.'' ujar Jimmy.
Erin langsung menyingkirkan tangannya.
''Kabar bahagia apa, Kak?'' tanya Erin dibuat penasaran.
''Coba tebak apa?''
''Ih, Kakaaakk! jangan bikin aku nanti malam nggak bisa tidur, lho.'' protes Erin.
''Kakak ipar sudah memberikan lampu hijau untuk kita.''
''Hah?!''
''Kakak ipar?!''
''Maksudnya kak Edgar???'' pekik Erin yang langsung duduk tegak.
Jimmy mengangguk.
Erin langsung menutup mulutnya karena tidak percaya. Ingin rasanya ia jingkrak-jingkrak untuk meluapkan rasa senangnya.
''Eh, bentar-bentar ... bagaimana ceritanya?''
Jimmy pun menceritakan tentang surat perjanjian yang diberikan oleh Edgar pada sang kekasih yang sudah di penuhi rasa penasaran dengan kabar gembira sekaligus membuat tanda tanya besar itu.
''Tidak ada hal yang sulit, bukan?'' ujar Jimmy di ujung ceritanya.
Erin menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan langkah yang dilakukan oleh sang kakak.
''Kak Edgar benar-benar tidak ada yang mudah, hmm.'' gerutu Erin.
''Aku takut karena kak Edgar tidak menghubungiku sama sekali. Kak Mentari juga cuma ngirim pesan buat jaga kesehatan, aku juga takut mau nelpon duluan.'' keluh Erin.
''Sepertinya mereka hanya ingin membuat kejutan untuk adik tersayangnya.'' jawab Jimmy.
Erin terkekeh, memang lain dari yang lain cara kasih sayang dari sang kakak untuknya. Suka bikin kesal dan juga emosi tingkat tinggi.
__ADS_1
''Maaf Kak, hanya supaya bisa bersama, Kakak harus mengikuti cara yang dilakukan oleh kak Edgar, Kakak juga harus sabar menuruti permintaanku.'' ucap Erin dengan rasa bersalahnya.
''Tidak apa-apa, lagian tidak sulit untuk Kakak. Dan sekarang Kakak lebih lega setelah tuan Edgar tau hubungan kita. Tinggal ke calon mertua, hehe''
Erin langsung tersenyum tipis, ia bingung harus menjawab apa.
''Kakak nggak memaksakan secepatnya kok.'' ujar Jimmy yang melihat raut wajah Erin tampak berubah.
''Setelah kak Edgar tau dan memberikan restu. Selanjutnya terserah Kakak kapan mau meminta izin ke papi sama mami.'' balas Erin.
''Oh ya? kamu serius?'' tanya Jimmy yang tidak percaya dengan perkataan Erin itu.
Erin mengangguk.
Senyum lebar Erin berubah menjadi ciut. Ia seperti menyembunyikan sesuatu.
''Sayang, ada apa?''
''Kamu jangan sembunyikan apapun dari Kakak.'' ujar Jimmy khawatir.
Disana Erin meletakkan ponselnya di atas meja, sehingga layar ponselnya memperlihatkan langit-langit kamar. Sedangkan Erin tengah menghapus air mata yang sedari tadi ia tahan.
''Sayang.''
''Kamu nangis ya?''
Erin langsung cepat menyedot hidungnya dengan tisu hingga terdengar bunyi sruuutt. wkwkwk
Setelah itu ia kembali meraih ponselnya dengan wajah tersenyum. ''Aku nggak nangis kok.'' ujar Erin.
''Jangan bohong, Kakak tau kamu menangis. Ada apa?'' selidik Jimmy.
''Apa kamu tidak percaya lagi sama Kakak?'' tanya Jimmy dengan raut wajahnya yang serius.
Erin menarik nafasnya dalam-dalam.
''Sebenarnya ini tidak boleh diceritakan ke siapapun. Tapi, aku nggak tau. Aku harap Kakak bisa menyimpan pembicaraanku dari siapa pun, terutama kak Edgar, apalagi kak Mentari.''
''Iya, Kakak berjanji akan menyimpannya.'' jawab Jimmy.
Erin tersenyum lalu menatap ke atas seolah ingin menahan agar tidak ada air mata yang jatuh.
''Papi di rawat di rumah sakit sudah tiga hari ini. Jantungnya bermasalah lagi sejak beberapa waktu terakhir ini, Kak. Kali ini lebih parah dari yang pernah terjadi waktu dulu.'' jelas Erin.
Tuan Erick sudah di diagnosa bahwa jantungnya memang bermasalah sejak beberapa tahun yang lalu. Namun, sejak saat itu bisa teratasi karena menjalani kontrol rutin dengan obat-obatan yang diberikan oleh dokter ahli. Edgar dan Jimmy pun sudah mengetahui tentang hal itu. Namun, tidak pernah sampai harus di rawat, hanya pernah di bawa ke rumah sakit pada pagi hari, dan sore hari sudah bisa kembali ke rumah dengan dokter yang rutin mengontrol.
Jimmy langsung tampak shock mendengar kabar itu. Tidak ada yang baik-baik saja ketika menghadapi orang terdekat kita sedang sakit. Jimmy memahami perasaan Erin saat ini.
''Lalu, bagaimana kondisi tuan Erick, sayang? dan siapa yang menemaninya di rumah sakit?''
''Mami yang menemani, kalau malam aku nyusul.''
''Papi masih belum bisa lepas dari peralatan medis. Ditubuhnya sudah banyak terpasang ..,''
Erin tidak kuat lagi untuk melanjutkan ceritanya karena menangis sesenggukan.
Setelah tangisnya cukup berkurang, Erin kembali meraih ponselnya. ''Maaf, Kak.'' ucap Erin yang berusaha untuk tersenyum.
''Kakak yang seharusnya minta maaf.'' ucap Jimmy.
Erin mengangguk.
''Semoga tuan Erick segera sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasanya.'' imbuh Jimmy.
''Aamiin.'' jawab Erin.
''Sebenarnya hari ini aku berhenti bekerja. Untuk itu karena ini hari terakhir, para senior seperti sedang mengujiku.''
__ADS_1
''Kamu yang sabar ya, sayang.'' balas Jimmy.
''Tapi, sepertinya mendadak?''
''Iya, keputusanku memang mendadak, Kak. Aku merasa menjadi penyebab utama dari sakitnya papi.''
''No ... jangan membuat kesimpulan seperti itu, sayang.'' ujar Jimmy.
''Bagaimana aku nggak menyalahkan diri sendiri, Kak?''
''Papi terus memaksa aku untuk bekerja di kantornya, tapi, aku terus menolak karena memilih bekerja di tempat lain. Aku sangat egois, sekarang hanya bisa merutuki semua kebod0hanku. Sekarang aku baru menyesalinya karena tidak mau nurut.''
''Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau terjadi apa-apa sama papi. Kak Edgar pasti akan membenciku.''
''Sabar sayang, sabar ya. Tuan Erick pasti sembuh. Beliau pasti semangat untuk sembuh karena masih ingin menikahkan putrinya.''
''Kakak yakin beliau akan sembuh. Kalau mau nangis, nangis saja, nggak papa. Mau melampiaskan marah ke Kakak, silahkan. Yang penting kamu lega. Kakak nggak mau kamu menghadapi itu sendirian.''
Dan benar saja, Erin langsung menangis keras. Ia tak peduli dengan wajahnya yang menjadi kucel dan tidak terkontrol.
Melihat sang kekasih bersedih, membuat hati Jimmy ikut merasakan sesak di dadanya.
''Kakak akan memelukmu erat-erat jika saat ini ada di sampingmu, sayang.'' bathin Jimmy.
Tak lama kemudian, setelah lega karena sudah menangis. Erin langsung merapikan rambutnya.
''Terima kasih sudah menemani aku menangis, semoga Kakak tidak ilfeel setelah melihat wajah jelekku.'' ucap Erin.
Jimmy langsung terkekeh kecil. Disaat sedang sedih, bisa-bisanya anak ini malah melawak.
''Kakak sudah biasa melihat wajah jeleknya nona Erin.'' balas Jimmy meledek.
''KAKAAKKK!!!!'' seru Erin.
''Hahaha, maaf sayang, tapi, Kakak tetap mencintaimu.'' tutur Jimmy sembari menahan tawa karena mendapatkan tatapan tajam dari Erin.
''Hmmmm.''
''Sudah dulu ya Kak, aku mau istirahat dulu sebelum ke rumah sakit.'' pamit Erin.
''Iya sayang, jaga kesehatan ya. Kakak hanya bisa bantu do'a dari sini untuk calon mertua.''
''Terima kasih, Kak. I love you.'' ucap Erin langsung menutup panggilan itu karena malu-malu.
''Hey ... kok sudah mati?'' gumam Jimmy menatap layar ponselnya.
Kemudian ia tersenyum. ''I love you so much.'' gumamnya.
Hidup ini tidak ada yang berjalan lurus, akan ada berbagai macam jenis ujian dan juga teguran yang menghampiri perjalanan manusia.
Jimmy menarik nafas panjang, berharap tuan Erick diberikan kesembuhan dan menerima izinnya untuk meminang Erin, hingga menjadi wali untuk pernikahannya kelak.
Jimmy langsung menghabiskan segelas kopi yang tadinya panas kini sudah menjadi dingin, sedingin sikap Edgar pada Mentari dulu.
(Ehh kenapa di bawa-bawa pak Edgar-nyaa 🤔)
Jimmy langsung beranjak dari sofa dan meletakkan gelas kotor tersebut di wastafel.
Waktu terus berjalan, Jimmy harus mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya karena banyak yang harus ia lalui dengan waktu yang menyita jam istirahat.
.
.
Mari berteman di akun sosmed Cimai 🙏
FB : Ci Author
__ADS_1
IG : cimai_author
Terima kasih 🙏❤️