Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 162 : Cepat Nikahi Wanita Itu


__ADS_3

''AW! AW! LIDAHKU.....!! HAAAHHHHH!!"


Jimmy menjulur-julurkan lidahnya berkali-kali karena kepanasan. Minuman yang baru selesai ia aduk langsung ia teguk saja, padahal masih sangat panas.


Lamunannya yang menyesal karena tidak memberikan pelukan untuk sang kekasih menjadi tidak fokus, sehingga minuman yang masih sangat panas langsung ia teguk tanpa sadar.


''Sepertinya lidahku akan mati rasa.'' gumam Jimmy.


Setelah dirasa cukup mendingan, Jimmy memilih untuk pergi ke kamarnya dan melanjutkan niat awalnya yaitu lembur.


--


Di negara yang berbeda, Erin masih di kamarnya untuk beristirahat setelah cukup lama tidak berada di kamar kesayangannya itu.


Erin sudah mengirimkan pesan dengan tujuan memberi kabar bahwa mereka sudah tiba dengan selamat.


''Oh ya, apa ya yang di kasihkan kak Jimmy ke aku?'' gumam Erin.


Gadis itu langsung bergegas untuk mengambil tasnya yang di dalamnya ada pemberian dari seseorang yang ia cintai. Karena saat setelah tiba, ia memilih untuk langsung tidur.


''What?!''


''Apa ini maksudnya?''


''Ohhhh ..,''


Erin menutup mulutnya yang menganga setelah mengetahui isi dari paper bag pemberian Jimmy.


Sebuah kotak kecil berisikan kalung liontin indah dan sangat cantik. Erin mengambilnya dengan tangan gemetar dan meletakkan benda itu di telapak tangannya.


Senyum indah terlukis di wajah gadis itu, ia lalu mencari sesuatu di dalam paper bag tersebut, siapa tau terdapat pesan yang dituliskan untuknya.


''Siapa tau ada suratnya.'' gumam Erin lalu meriah paper bag.


Dan sesuai dengan dugaannya, di dalam paper bag tersebut di selipkan sebuah kertas yang berisikan tulisan tangan.

__ADS_1


...Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk bersikap manis...


...Aku juga tidak bisa menjelma menjadi tokoh favorit di dalam novel yang kamu baca...


...Terima kasih telah menjadi tujuan hidupku...


...I love you, semoga suka...


...Notes :...


...Pakailah, kamu akan semakin cantik...


...Tunggu waktu terindah itu tiba ☺️...


Erin tersenyum lebar setelah membaca tulisan itu. Meskipun keinginannya adalah Jimmy yang memakaikan padanya, tetapi rasanya juga tidak mungkin untuk saat ini. Dia sendirilah yang belum siap mengungkapkan ini pada keluarganya. Apalagi saat melihat sang kakak yang masih tetap menganggapnya sebagai anak kecil.


''Terima kasih, Kak. Aku sangat menyukai hadiah ini.'' gumam Erin.


''Aku telfon saja.''


Setelah mengurungkan niatnya untuk menghubungi Jimmy, Erin beralih mengirimkan pesan, tak lupa ia kirimkan hasil fotonya sebagai bukti bahwa ia menyukai hadiah itu.


Sementara itu, di tanah air, Edgar dan Jimmy sedang berada di lift untuk melakukan meeting di sebuah perusahaan lain. Kedua pria gagah dan tampan itu berdiri tegak seraya menunggu sampai di lantai tujuan.


Di tengah-tengah fokusnya, Jimmy merasakan ponselnya bergetar, ia pun langsung mengambilnya.


Seketika sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


''Siapa? pacar kamu, Jim?''


''Ah! eh! itu, e ... anu Tuan.'' Jimmy langsung menyembunyikan ponselnya.


Edgar melihat kegugupan di wajah Jimmy, ia langsung menepuk bahu pria itu.


''Cepat nikahi wanita itu, jangan lama-lama nanti di ambil orang.'' ujar Edgar.

__ADS_1


Jimmy hendak menjawab, tetapi pintu lift sudah terbuka. Jimmy pun mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan kata-kata yang membahas tentang pribadinya karena banyak karyawan yang saling berpapasan.


''Apakah anda benar-benar belum mengetahui hal ini, Tuan?'' bathin Jimmy.


Edgar sudah masuk ke dalam mobil terlebih dulu, lalu kemudian Jimmy menyusul.


''Apakah anda akan merestui siapapun calon istri yang akan saya pilih, Tuan?'' tanya Jimmy.


''Why not?'' balas Edgar.


''Kamu pasti tidak sembarangan memilih pasangan. Aku percaya itu, Jim.'' imbuhnya.


Jimmy pun tersenyum. ''Terima kasih, Tuan.''


''Apakah wanita itu ... Rita?'' tanya Edgar menebak.


Ciiittt


Baru beberapa meter Jimmy menjalankan mobil, seketika saja ia menginjak rem secara mendadak karena tebakan dari bosnya.


''YA AMPUUN, JIMMYY!!''


Jimmy menarik nafasnya dalam-dalam lalu menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan bosnya baik-baik saja.


''Maaf Tuan, maaf ... saya benar-benar tidak sengaja.''


''Anda baik-baik saja?''


''Ah, kamu ini, aku baik-baik saja. Cepat lanjutkan lagi nanti kita telat menemui pak Axel.'' balas Edgar dengan merapikan jasnya.


''Terima kasih, Tuan.'' ucap Jimmy lalu kembali menatap bunda bulat di depannya.


Sesaat kemudian ia kembali menoleh ke belakang.


''Wanita itu bukan Rita, nanti akan saya katakan jika dia sudah siap, Tuan.''

__ADS_1


''Baiklah.'' jawab Edgar.


__ADS_2