
''Kira-kira kak Jimmy sudah selesai apa belum ya ngegymnya?'' gumam Erin.
Sebelum jalan ke tempat ngegym, Jimmy sudah mengirimkan pesan pada kekasihnya itu. Saat mengirim pesan, Erin masih terlelap sehingga tidak langsung mendapatkan balasan. Biasanya juga saat di tempat gym, Jimmy kerap menghubungi Erin di sela-sela waktu istirahatnya.
''Dari tadi belum nelfon.''
Akhirnya Erin memutuskan untuk menghubungi Jimmy terlebih dulu. Dua kali panggilan telepon dari Erin tidak mendapatkan jawaban.
Erin menjadi bertanya-tanya. Keberadaan yang sangat jauh diantara mereka tentu saja memancing rasa khawatir dan cemburunya.
Erin mencoba untuk menghubungi Jimmy lagi.
''Kak, kemana sih kok belum ada kabar juga? jangan bikin aku khawatir.'' gumamnya.
Panggilan teleponnya berakhir dengan suara operator yang menandakan tidak ada jawaban.
Erin menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba untuk berpikir positif mengenai kekasihnya itu. Tidak mungkin Jimmy akan menyakitinya. Ini hanyalah faktor rasa cintanya yang teramat dalam sehingga membuat rasa khawatir itu menjadi tinggi.
''Mungkin masih ingin serius olahraga.'' gumamnya mencoba untuk tersenyum.
Akhirnya Erin meletakkan ponselnya di atas ranjang. Ia akan keluar kamar terlebih dulu daripada berlarut dalam kekhawatiran.
Empat puluh lima menit berlalu, Erin kembali lagi ke dalam kamarnya. Wajahnya menampilkan senyuman manis. Ia berharap di dalam ponselnya ada pesan yang ia harapkan.
Erin duduk di tepi ranjangnya dan meraih ponselnya yang tergeletak. Sesaat kemudian senyuman yang tadi terpancar diwajahnya itu kini berubah menciut.
''Masih belum ada kabar apapun.'' gumamnya lalu kembali menarik nafas panjang. Berusaha untuk menepis bayang-bayang tentang hal yang tak diinginkan.
--
Jimmy tidak berlama-lama di tempat gym itu. Bahkan jauh lebih cepat dari waktu biasanya. Moodnya terasa kurang baik dibawa kesini. Ia pun akhirnya memutuskan untuk menyudahinya sebelum keringatnya belum terlalu banyak yang bercucuran.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Jimmy melihat ponselnya. Ia akan menghubungi seseorang tetapi di urungkan.
''Nanti saja kalau sudah sampai rumah.'' gumamnya.
Jimmy pun langsung masuk ke dalam mobil dan kembali menyusuri jalanan yang lumayan ramai karena akhir pekan. Baik kendaraan umum atau pun pribadi berlalu lalang untuk tiba ke tempat tujuan.
Di saat sudah hampir sampai di apartemen miliknya, ia melihat kerumunan di tepi jalan. Sepertinya sedang terjadi sesuatu disana. Sehingga Jimmy pun langsung memutuskan untuk menepikan mobilnya.
''Ada apa ini, Pak? apa ada kecelakaan?'' tanya Jimmy pada seorang pria paruh baya.
''Itu, tadi ada ibu-ibu mau belok kiri tapi, lampu sennya di kanan. Akhirnya pas belok ketabrak sama motor di belakangnya karena posisinya tidak jauh. Ibu itu tidak terima dan masih ngotot menyalahkan supir ojek online yang dibelakangnya. Padahal yang terluka malah yang ojol.'' jelas bapak itu pada Jimmy.
Jimmy mengucapkan terima kasih atas penjelasan yang diberikan bapak itu.
''Ibu tadi posisinya juga tidak di kiri, Bu ... Ibu tiba-tiba belok tanpa melihat dibelakang ada kendaraan lain atau tidak, sedangkan posisi kami sudah benar di kiri! untung saja jarak sama kendaraan lainnya jauh, kalau tidak, tadi bisa terjadi kecelakaan beruntun! lihatlah kami juga terluka, Bu!'' seru seseorang.
Jimmy langsung menoleh ke kerumunan itu, tidak terlihat siapa yang mengatakan tadi. Tapi, sepertinya suara itu tidak asing di telinganya.
''Sekali lagi terima kasih Pak, saya akan melihat kesana.'' ucap Jimmy.
''Iya sama-sama. Dari tadi belum damai juga, Mas. Tolong kalau bisa di lerai.'' ujar bapak itu.
Jimmy mengangguk.
Dengan langkah panjangnya, Jimmy menerobos di antara kerumunan itu.
__ADS_1
''Maaf ... permisi.'' ucap Jimmy sembari meminta celah untuk ia lewati.
''ADA APA INI?!'' seru Jimmy.
Seketika semuanya terdiam.
''RITA?''
''TUAN JIMMY?''
Rita dan Jimmy saling terkejut.
''Jelaskan ada apa ini?''
Jimmy langsung mendekati Rita yang terduduk di pinggir jalan dengan mencoba menenangkan supir ojek online yang terlihat sudah tidak muda lagi itu. Sedangkan mereka sedang berhadapan dengan seorang ibu yang keras kepala.
Rita langsung menjelaskan kronologi kejadiannya, ditambah dengan saksi yang melihat kejadian itu.
Jimmy langsung menarik nafasnya lalu berdiri.
''Buat yang tidak memiliki keperluan silahkan bubar!'' seru Jimmy.
''Tunggu sebentar!'' ujar Jimmy pada Rita.
Jimmy sedikit berlari menuju mobilnya, ia langsung cepat kembali.
''Ini kan mau anda, Bu?''
''Saya rasa itu sangat lebih karena tidak ada yang rusak pada motor anda, dan saya perhatikan anda pun baik-baik saja.''
''Jangan Tuan, tidak usah repot-repot, biar saya saja.''
Jimmy hanya menoleh sekilas.
''Sekarang silahkan anda pergi! jangan pernah ulangi kesalahan yang sama! kalau memang belum paham bagaimana caranya berkendara, lebih baik gunakan kendaraan umum, karena apa yang anda lakukan bisa membahayakan diri anda sendiri dan juga orang lain!'' usir Jimmy pada ibu itu.
Setelah menerima uang dari Jimmy dan pesan yang panjang disertai pengusiran, ibu tadi pun langsung pergi dengan senyuman. Orang-orang juga sudah pergi, menyisakan Jimmy, Rita, dan supir ojol.
''Terima kasih sudah menolong kami. Saya tidak tau harus berbuat apa, ibu tadi sangat bersikeras.'' ucap supir ojol.
''Apakah Bapak terluka? atau motornya ada yang lecet?'' tanya Jimmy.
''Tidak, saya baik-baik saja. Karena saat kaget tiba-tiba ibu tadi belok, saya sempat menahan dengan kaki saya walaupun motornya sudah miring sekali. Sepertinya justru neng ini yang tidak siap, sehingga lengannya lecet, sama kakinya juga.'' jawab bapak ojol.
Seketika Rita langsung menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya, ia berusaha tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.
''Saya tidak apa-apa, saya baik-baik saja kok.'' ujar Rita.
''Jangan bohong Neng, lengannya harus segera di obati, nggak baik kalau dibiarkan saja.'' balas bapak ojol.
Jimmy menarik nafasnya.
''Ke rumah sakit sekarang!''
''Tidak Tuan.'' tolak Rita.
''Kamu harus kembali bekerja secepatnya, kalau luka itu kamu biarkan, justru akan semakin parah? kebentur aspal jangan disepelekan!''
__ADS_1
''Betul Neng, ikuti saja kata Masnya ini. Sepertinya kalian juga sudah saling mengenal.'' timpal bapak ojol.
''Ikut saya sekarang!'' Jimmy menarik tangan kanan Rita yang tidak terluka.
Rita langsung melepaskan paksa tangannya dari genggaman Jimmy.
''Ini untuk Bapak, biar saya yang akan membawa dia ke rumah sakit.'' ujar Jimmy dengan memberikan sejumlah uang.
''Tidak-tidak.'' tolak bapak ojol.
''Saya mohon terima ini, untuk keluarga anda di rumah, silahkan belikan sesuatu untuk mereka.'' ujar Jimmy.
Dengan ragu, bapak ojol menerima pemberian Jimmy. ''Terima kasih banyak, semoga rejeki anda semakin berlimpah.''
''Aamiin.'' jawab Jimmy.
''Ayo!'' ajak Jimmy pada Rita.
Rita menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya.
Bapak ojol tadi lebih dulu berpamitan pergi.
''Anda tidak perlu repot-repot membantu saya seperti itu, Tuan.''
''Seharusnya yang kamu katakan itu terima kasih, bukan penolakan terus menerus.''
''Ayo ke rumah sakit, buruan sebelum semakin parah luka kamu.''
Dan akhirnya Rita mengikuti Jimmy, mereka kembali berada di dalam satu mobil. Selama di perjalanan keduanya sama-sama saling diam. Rita terus melihat luka di lengan kirinya yang semakin terasa nyerinya. Ia hanya bisa menutupi dengan tisu untuk menahan darah.
Tidak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit terdekat.
Rita keluar dari mobil Jimmy, langkahnya sedikit pincang karena ada goresan di tumit kaki kirinya.
''Kamu masih bisa jalan? atau saya panggilkan petugas untuk mengambilkan kursi roda?''
''Tidak Tuan, saya bisa berjalan pelan-pelan.'' jawab Rita.
''Lho, Neng? balik lagi? kok pincang?'' tanya seorang security.
Rita langsung mendelik pada pria itu.
''Kamu dari sini? ada apa?'' tanya Jimmy sedikit berbisik.
''Tidak, saya tidak dari sini.'' bantah Rita cepat.
''Satpam itu salah lihat kali.'' sambungnya.
Rita tidak mau merespon satpam itu. Jimmy langsung mengurus administrasi agar Rita segera ditangani luka-lukanya.
Sementara Rita ditangani, Jimmy menunggu di depan ruangan. Beberapa kali ia mendengar suara Rita yang meringis menahan rasa nyeri dan sakit saat luka-lukanya dibersihkan.
''Kalau pun dia dari rumah sakit ini dan hanya sekedar menjenguk seseorang, kenapa dia tidak mengakui? Sepertinya ada yang disembunyikan sama dia, tidak mungkin satpam itu salah mengenali seseorang.'' bathin Jimmy.
Jimmy beranjak dari kursi, ia melihat Rita dari balik kaca di pintu ruangan itu.
''Kenapa aku jadi penasaran dengan dia?'' bathin Jimmy.
__ADS_1