
Keberangkatan Edgar bersama dengan Jimmy menggunakan jet pribadi. Hal itu karena agar tidak memakan banyak waktu di perjalanan, karena rencana awal akan menggunakan perjalanan darat.
Sebuah mobil sudah siap menjemput kedatangan Edgar dan Jimmy. Pria itu menyambut hormat kedatangan orang penting itu. Ia bukanlah bagian anggota dari Raymond group, ia hanyalah seseorang yang diminta untuk menjemput dan mengantar ke proyek terbaru Raymond group.
Bahkan para pekerja disana tidak ada yang mengetahui jika Edgar dan Jimmy akan datang hari ini.
Jimmy sudah memberikan penjelasan kepada pria tersebut untuk mengantarkan keduanya hingga urusan selesai.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, akhirnya Edgar dan Jimmy sudah tiba di tempat yang dituju. Baru saja tiba, Edgar sudah dibuat naik darah ketika melihat perkembangan proyek yang sangat lambat ini.
Tanpa menunggu, Edgar langsung turun dari mobil dengan mengenakan kacamata hitam, diikuti oleh Jimmy. Keduanya tampak gagah dan berwibawa.
''Proyek ini di mulai saat masih ada papi disini, kenapa sangat lambat!''
''Tenang dulu, Tuan. Jangan terbawa emosi..'' Jimmy berusaha menenangkan bosnya.
Para pekerja yang melihat kedatangan dua pria gagah itu tampak saling melempar pandangan dan saling mencari jawaban. Namun, semuanya tampak mengangkat bahunya masing-masing.
''Tuan Edgar, Tuan Jimmy..'' sapa seseorang yang terlihat terkejut dengan kedatangan Edgar dan Jimmy.
''Apa kabar, Pak Denny?'' tanya Jimmy.
''Baik, baik..'' jawabnya gugup.
''Sepertinya kita belum membuat jadwal untuk pertemuan ini, bukan?'' tanyanya memberanikan diri.
Edgar langsung melirik ke pria itu, ia melepaskan kacamatanya.
''Apa itu sangat diperlukan, Bapak Denny?'' tanya Jimmy dengan suara tegas.
''Tidak Tuan, tidak..'' jawabnya menciut.
''Ayo Jim kita lihat kesana.'' ajak Edgar.
Jimmy mengangguk. ''Baik Tuan.''
Pria itu mengikuti Edgar dan Jimmy dari belakang dengan perasaan yang tidak tenang.
Para pekerja yang taunya bekerja dibawah pengaturan dan pengawasan mandor tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa mengkhawatirkan yang lain. Mereka hanya sedikit membungkukkan badannya ketika Edgar dan Jimmy semakin dekat.
__ADS_1
''Benar-benar keterlaluan! ini sangat lambat, Jim! kenapa papi tidak tegas.'' gerutunya kesal.
''Sebaiknya kita berbicara langsung dan meminta berkas-berkas yang harus pak Denny pertanggungjawabkan, Tuan.''
''Ya, kau benar, Jim..''
Jimmy beralih menatap pak Denny.
''Bisakah kita berbicara di ruangan anda, Pak Denny?'' tanya Jimmy.
''Ohh, tentu, tentu saja bisa..'' jawabnya.
Pak Denny mempersilahkan Edgar dan Jimmy untuk mengikutinya.
Ketiganya tiba di ruangan yang sudah dijadikan terlebih dahulu untuk mengurus keperluan administrasi yang selama ini selalu digunakan untuk membuat pertanggungjawaban yang akan dikirimkan ke kantor.
''Selain anda, siapa yang bertanggung jawab atas proyek ini?'' tanya Edgar.
''Disini hanya saya, Tuan.''
''Anda sendiri?''
Edgar menatap Jimmy sekilas.
''Bisa saya lihat pertanggungjawaban yang sudah anda buat untuk bulan ini saja?''
Dengan ragu, pak Denny akhirnya mengiyakan dan segera mencari hasil pekerjaannya yang ada didalam laptop.
Jimmy juga langsung menghidupkan laptopnya, ia membuka file yang menyimpan data tentang anggaran dan juga harga-harga material yang sudah ia kumpulkan dari sumber terpercaya.
Pak Denny menyerahkan laptopnya kepada Edgar dengan perasaan cemas, dan Edgar langsung menggeser laptop itu agar Jimmy lebih mudah melihatnya juga. Keduanya mengecek dengan teliti.
''Kenapa pembangunan ini sangat lambat sekali?'' selidik Edgar.
''Ah itu karena....'' pak Denny menggantungkan perkataannya karena mencari alasan.
''Karena beberapa pekerja sering ada yang izin, sehingga kekurangan pekerja, Tuan.''
''Lalu, dari hasil laporan yang saya baca saat tuan Erick masih di Indonesia, kenapa harga material ini terkesan mahal?''
__ADS_1
''Memang harga dipasaran segitu, Tuan.'' jawabnya masih terus mencari alasan.
''Bukankah kita selalu belanja dengan jumlah yang banyak, seharusnya justru mendapatkan potongan harga?'' cerca Edgar.
''Itu..''
''Mulai detik ini, anda bukan bagian dari Raymond group. Silahkan keluar dari sini, saya tidak akan membiarkan pembohong dan pencuri hidup dalam lingkungan saya!'' sergap Edgar tegas.
''Tu-Tuan, saya tidak mencuri, saya juga tidak berbohong.. tolong jangan pecat saya, saya memiliki anak-anak dan istri.''
''Wanita simpananmu tidak anda sebut?''
Pak Denny langsung terkesiap mendengar skakmat dari Edgar.
''So-soal itu..''
''Jim..'' bisik Edgar.
Jimmy mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya setelah mendapatkan kode dari Edgar.
''Untuk gaji terakhir anda tentu kami akan memberikan sebagaimana mestinya, dan ini pesangon untuk keluarga anda. Uang halal ini saya harap, anda benar-benar memberikan kepada anak dan istri anda, bukan kepada wanita malam itu.'' ucap Jimmy.
Pak Denny tampak menahan emosinya, namun, apa daya jika sekarang dirinya memang sudah mati kutu.
''Baik, saya akan meninggalkan tempat ini, terimakasih.'' ucap pak Denny mengambil amplop coklat yang ada di hadapannya. Ia keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang sangat emosi.
Para pekerja melihat pak Denny keluar dari ruangan dengan membawa tasnya, timbul pertanyaan-pertanyaan dibenak masing-masing. Apalagi kedua pria gagah tidak ikut bersamanya.
''Ada pekerjaan diluar kali..'' bisik salah seorang pekerja.
''Iya mungkin.''
Edgar menghela nafasnya dan membuangnya dengan kasar.
''Benar-benar keterlaluan, Jim. Cari orang yang benar-benar bisa dipercaya.''
''Baik Tuan, saya sudah mempersiapkan.''
Sebelum keberangkatannya, Jimmy dan Edgar sudah mengumpulkan bukti-bukti data yang akan mereka bawa kesini. Dan ternyata memang benar jika kecurangan itu tengah berlangsung dan sudah berjalan hampir satu tahun sejak dibawah kepemimpinan tuan Erick Raymond.
__ADS_1