
Mentari membuat jus mangga untuk sang suami dan juga dirinya. Ia membawa dua gelas tersebut ke balkon sembari menunggu matahari terbenam. Tempat favoritnya untuk bersantai dengan pemandangan kolam renang dan beberapa tanaman bunga dan ada pohon buah-buahan yang tentunya sudah di bonsai. Tanaman yang belakangan ini di tanam oleh Mentari agar terlihat lebih segar.
Mentari kembali ke dalam berniat memanggil sang suami, justru ia mendapati Edgar yang baru keluar dari kamar mandi yang terlihat semakin mempesona. Tangannya mengeringkan rambut dengan handuk, terlihat semakin ber-damage kalau kata anak jaman sekarang.
Glek!
Mentari menelan salivanya kuat-kuat.
Mentari berbalik arah untuk menghindari tatapan matanya yang langsung traveling jauh. Hampir saja ia tersandung sudut dipan.
''Bilang aja kalau tergoda.'' Edgar menahan langkah sang istri yang buru-buru.
Tangannya langsung meraih kedua bahu Mentari agar memutar menghadapnya.
''Mas!''
Tergodanya Mentari beralih pada objek lain.
''Kenapa?'' tanya Edgar heran melihat sang istri merengut dan menatap tajam pada arah lain lalu kembali menatapnya.
Mentari melepaskan tangan Edgar yang berada di bahunya.
''Jangan tarok handuk basah di atas kasur.'' sungut Mentari.
Edgar langsung menggaruk tengkuknya karena ceroboh.
''Hehe.. iya sayang, maaf, aku khilaf..'' rayu Edgar.
Tanpa menjawab, Mentari meletakkan handuk yang habis di pakai oleh Edgar itu ke tempat yang benar.
Bukan waktunya untuk ngambek, Mentari langsung teringat dengan pembicaraan tadi antara dirinya dengan mantan mertua.
''Mas, aku sudah buatkan jus.'' ujar Mentari sudah kembali lembut.
''Terimakasih, istriku.''
Mentari tersenyum.
Keduanya sudah duduk di balkon. Melupakan tragedi handuk basah di atas ranjang.
__ADS_1
Mentari menyodorkan ponselnya kepada Edgar yang masih meneguk jus mangga.
''Kenapa? pulsanya habis?'' ejek Edgar.
''Ish..''
''Tadi mama nelpon, itu rekamannya.'' ujar Mentari sembari menggerakkan ekor matanya.
''Oh ya?''
Edgar langsung meletakkan gelas diatas meja, lalu mengambil ponsel sang istri dan langsung memutar suara yang sudah berhasil di rekam.
Dugaannya tidak meleset, alias benar. Mantan mertua dari istrinya akan memperalat Mentari untuk mendapatkan uang darinya.
''Oke, oke.. kita atur pertemuan dengan mantan mertua kamu ya, sayang.'' ujar Edgar santai.
''Pertemuan?''
Edgar mengangguk yakin, dan meletakkan kembali ponsel Mentari ke atas meja.
''Iya, kita akan bertemu langsung dengannya.''
''Apa wajahku ini sangat meragukan, hem?''
Edgar mendekatkan wajahnya pada Mentari.
Mentari pun langsung mengalihkan pandangannya karena tidak sanggup jika bertatapan sedekat itu.
''Jadi, apa rencana kamu, Mas?'' tanya Mentari.
''Kita bantu saja.'' jawab Edgar enteng.
''Mas..'' Mentari masih ragu dengan keputusan suaminya.
Edgar langsung memeluk Mentari dengan erat. Mentari mendongak menatap wajah Edgar.
''Maafkan aku ya Mas, sampai saat ini aku belum mengandung. Sekarang, seseorang dari masalalu justru hadir dan merepotkan kamu.''
''Semua itu gara-gara aku.'' sambungnya merasa bersalah.
__ADS_1
''Sssttt.. stop bicara yang tidak-tidak. Kita hadapi bersama-sama.'' tutur Edgar.
''Kita sudah mendapatkan kepastian bahwa kita tidak ada masalah. Hanya menunggu waktu, sayang. Anggap saja waktu kita sekarang sebagai gantinya karena kita tidak pacaran dulu. Jadi, pacarannya setelah menikah.'' ujar Edgar menghibur sang istri.
''Gimana mau pacaran, Mas.. kamu aja bikin orang takut.'' celetuk Mentari.
''Hahaha''
Edgar terkekeh sendiri mendengar celetukan sang istri yang memang kenyataan.
''Apa sekarang kamu masih takut juga, hem?''
Edgar mengeecup bibir Mentari beberapa detik.
''Takutlah, takut banget.'' jawab Mentari cepat.
''Takut kalau jauh dari kamu, Mas.'' sambung Mentari dengan senyum yang tertahan.
Edgar menghujani ciiuman di wajah sang istri yang baru saja melontarkan kalimat gombal.
''Makin pinter menggombal ya sekarang, hmmmm..''
Edgar menangkup wajah Mentari dengan gemas dan menciiumnya seperti menciium ke anak kecil.
''Aku bukan bayi, Mas..'' protes Mentari.
''Kamu memang bukan bayi, tapi, bisa bikin bayi.''
''Aww.'' rintih Edgar karena mendapatkan cubitan kecil di lengannya.
Mentari langsung bergegas bangkit dari duduknya dan kabur meninggalkan Edgar yang hendak menyerangnya.
''Maasssss cukupp! udaahh!!'' seru Mentari yang berhasil ditangkap oleh Edgar.
Mentari kegelian karena Edgar memeluknya dari belakang sambil menelusuri tengkuknya hingga ke bawah.
''Persiapkan dirimu, sayang.'' bisik Edgar dengan memberikan tiupan kecil di telinga sang istri.
''Mesum.'' balas Mentari. Seluruh tubuhnya merasa merinding saat mendapatkan bisikan dari Edgar.
__ADS_1
Edgar hanya terkekeh.