Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 189 : Kelilipan Cogan


__ADS_3

''Eittss..! mau kemana?'' Mentari menahan lengan Edgar yang hendak berdiri.


''Mau tau siapa yang datang pagi-pagi seperti ini?'' jawab Edgar penasaran.


''Cobain ini dulu.'' paksa Mentari yang sudah menyodorkan tangannya dengan satu tusuk cilok.


Edgar melirik cilok tersebut lalu beralih menatap sang istri. Tatapan itu sudah menandakan sebuah ancaman untuk tidak boleh ada penolakan.


''Emm.'' Edgar akhirnya memakan cilok itu.


Melihat Edgar memakan cilok itu membuat Mentari tersenyum, bahkan sampai bertepuk tangan seperti baru saja mendapatkan hadiah.


''Enak 'kan?'' tanyanya sumringah.


Edgar mengangguk dan masih mengunyah.


''Ayo ke depan, sayang. Aku penasaran orang yang datang.'' ujar Edgar karena sudah selesai menelan satu butir cilok.


Karena Edgar sudah menuruti permintaannya, Mentari pun juga langsung beranjak untuk ke depan bersama dengan sang suami. Menemui tamu yang katanya seorang perempuan.


''RITA?!'' seru Mentari.


Rita. Gadis itu akhirnya datang ke rumah Mentari. Ia mengangkat wajahnya ketika mendengar suara Mentari yang menyebutkan namanya. Gadis itu tersenyum tipis dan langsung berdiri.


Hal yang sama, Mentari dan Rita sama-sama melangkah maju. Keduanya pun langsung saling berpelukan erat. Tidak biasanya Rita menangis sesenggukan. Mentari juga dibuat terkejut.


''Hey,, Rita nggak pakai Sugiarto?''


''Kenapa kamu menangis, ha? ada apa?''


Mentari mengurai pelukannya itu. Rita langsung membungkukkan kepalanya saat menatap Edgar yang berdiri dua meter di belakang Mentari.


''Selamat pagi, Tuan.'' sapa Rita.


''Iya, pagi.'' jawab Edgar.

__ADS_1


Mentari menatap ke arah Edgar dengan memberikan sebuah kode, dan juga kepada bu Titi yang sedari tadi menemani Rita menunggu Mentari keluar. Edgar langsung memahami kode tersebut, ia pun memberikan waktu kepada dua wanita itu. Bu Titi juga langsung pamit karena hendak mempersiapkan bahan-bahan untuk memasak siang nanti.


''Bu, minta tolong ambilkan minum, ya.'' pinta Mentari sebelum bu Titi pergi dari sana.


''Oh, iya Non. Saya juga hampir lupa, maaf hehe''


Mentari tersenyum.


Tak berapa lama kemudian, bu Titi keluar lagi dengan membawa air dingin. Karena di meja ruang tamu sudah di sediakan beberapa kue kering.


Di ruang tamu tersebut menyisakan Rita dan Mentari. Kedua mata Rita terlihat sangat sembab.


''Apa yang membawamu kesini, Rit?'' tanya Mentari sebelum menanyakan ke hal yang lebih sensitif.


''Aku naik motor kesayanganku. Ah, rindunya hatiku ini sudah sangat lama tidak bersandar di sofa legend kesayanganmu ini.''


''Bilang saja sofa jelek!'' sungut Mentari.


Rita langsung tertawa mendengarnya.


''Di ganti kenapa, Bu Bos?? sekali kedipkan mata saja, pasti sofa baru akan datang.'' goda Rita pada Mentari. Ia pun mengedipkan matanya berkali-kali.


Mentari tersenyum tipis, berbeda dengan Rita yang menampakkan agar terlihat bahagia. Tetapi Mentari menelisik wanita di hadapannya itu. Ada perubahan yang terjadi di dalam diri Rita.


''Rita?'' panggil Mentari lirih.


Rita yang sedari tadi sedang mengoceh langsung menghentikan ocehannya. Ia menerima tatapan Mentari yang serius menatapnya.


''Ada apa sih, Bu Bos??''


''Gitu amat natapnya? jadi gugup loh ini.''


Rita masih berusaha tertawa dengan mengeluarkan candaan. Tetapi Mentari masih dengan wajah datarnya.


''Kamu pasti habis nangis yang cukup lama 'kan?'' selidik Mentari.

__ADS_1


Rita langsung gelagapan mengusap kedua matanya dengan cepat.


''Mana? nggak kok, nggak habis nangis. Cuma tadi aja karena menahan rindu denganmu jadinya terhura, eh terharu.''


''Ini tuh kurang tidur karena keasyikan ngobrol sama saudara sampai begadang, haha''


Suara tawa itu terdengar dibuat-buat. Mentari menatap kedua mata Rita yang tengah menyembunyikan dan menahan sesuatu.


''Berat badan kamu kelihatan turun, Rit?'' selidik Mentari lagi.


Rita langsung terbelalak.


''Ohhh, gue lagi diet. Eh, aku maksudnya.'' jawab Rita kemudian dengan sedikit berbisik. Seakan-akan sedang merahasiakan upaya dietnya itu.


Mentari menarik nafasnya dalam-dalam. Tetap tidak percaya begitu saja dengan jawaban itu. Tapi, ia tidak mau terburu-buru untuk mencari tau kebenarannya. Apalagi Rita juga baru saja datang.


''Percaya kan kalau aku lagi diet?'' tanya Rita.


Mentari mengangkat ujung jarinya. ''Sedikiit.'' jawabnya sembari terkekeh kecil.


''Dih jahat!'' sungut Rita.


Mentari yang berbalik tertawa.


''Apa alasannya sampai diet? kamu kan nggak gemuk?'' selidik Mentari.


''Seperti biasa, biar segera di lirik cogan.'' jawab Rita dengan mengedipkan matanya berkali-kali.


Hahaha


''Kelilipan apa sih?'' balas Mentari melihat kedipan mata Rita.


Rita mendekatkan kepalanya di telinga Mentari. ''Kelilipan cowok ganteng di depan.'' bisik Rita dengan menunjuk arah pintu.


Keduanya langsung tertawa, namun, seketika tawa itu terhenti saat melihat seseorang sudah berada di sana dan juga hendak masuk.

__ADS_1


''Permisi ..,''


Rita dan Mentari langsung melongo melihat orang yang tengah berdiri di depan pintu itu. Apalagi Rita, bibirnya seperti sudah terkunci untuk menjadi bentuk O.


__ADS_2