Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 191 : Maaf Untuk Semua Kesalahan


__ADS_3

''Kamu pandai sekali mengarang cerita, Masss!!'' gerutu Mentari dalam hati.


Ingin rasanya Mentari maju ke depan lalu membungkam mulut suaminya itu agar tidak berlebihan dalam berbicara. Meskipun orang-orang disana sangat mempercayai ungkapan Edgar.


Sejak kapan pernikahan ini dilaksanakan atas dasar saling mencintai. Tentu saja Mentari menyangkal pernyataan itu.


Tapi, ia bisa berpikir positif. Hal ini di ungkapkan oleh Edgar tentu saja dengan alasan yang sangat masuk akal. Tidak mungkin Edgar maupun Mentari mengatakan bahwa pernikahan ini terlaksana atas dasar paksaan. Bisa jadi bakal menjadi pergunjingan seumur hidup di lingkungan rumah lama Mentari. Yang penting dari perjalanan itu, akhirnya kini mereka menjalani pernikahan dengan serius.


''Ternyata sejak awal kalian sudah saling mencintai. Kamu pandai juga merahasiakan semua ini, Dira.'' bathin Rita sembari menatap Mentari.


Edgar masih melanjutkan penyampaiannya kepada warga sekitar yang hadir.


''Saya berharap Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan semua warga bisa menerima keberadaan Pak Ramlan dan Bu Titi yang kami percayakan untuk menempati rumah ini.''


''Sebagai penutup, saya memohon do'a kepada Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan semua yang hadir, semoga pernikahan kami langgeng sampai menua bersama, dan memiliki anak yang banyak. Iya 'kan, sayang?''


Semua mata langsung tertuju pada Mentari yang sudah terbelalak. Namun, karena menyadari tatapan itu, Mentari langsung nyengir menahan malu.


Hehehe


''Hmmmm, Mas Edgaaarr!!'' bathin Mentari geregetan sendiri.


Sedangkan yang ditatap tajam bersikap santai sembari menutup sambutannya.


Setelah dua jam acara itu berlangsung, akhirnya acara selesai dengan lancar. Cuaca juga sangat mendukung karena tidak turun hujan. Warga yang hadir terlihat sangat bahagia, apalagi setelah selesai acara, kedua tangan mereka tidak ada yang kosong karena mendapatkan snack, makanan berat, dan juga bingkisan lainnya.


''Istriku pasti lelah ya? punggungnya sakit, ya?'' tanya Edgar sembari memberikan pijitan pelan di punggung sang istri.


Mentari sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Rita. Sedangkan Edgar dan Jimmy tadinya masih berada di luar rumah karena ada beberapa warga yang mengajaknya berbincang.


Dengan kedatangan Edgar, Rita langsung sedikit bergeser.


''Nggak, Mas.''


''Kamu ngobrol sama Jimmy aja dulu. Aku masih mau ngobrol sama Rita.'' ujar Mentari.


''Eh, nggak papa, Mentari. Sepertinya aku mau langsung pulang saja, soalnya sudah malam.'' ujar Rita.


Edgar dan Mentari langsung menoleh ke arah Rita.


''Nggak nginep?'' tanya keduanya bersamaan.


Rita langsung menggeleng.

__ADS_1


''Nggak, terima kasih, Mentari, Tuan.''


''Rita, ini sudah jam 10 lebih, jalanan pasti ramai banget, apalagi ini malam Minggu. Nginep aja disini, pulang besok pagi.'' ujar Mentari.


''Sangat bahaya perempuan malam-malam keluar sendiri.'' imbuh Edgar.


''Iya.'' timpal Mentari menyetujui.


Rita kembali menggelengkan kepalanya lalu tersenyum tipis.


''Nggak papa, justru kalau ramai saya menjadi tidak takut, Tuan.''


Rita memegang lengan Mentari.


''Jangan khawatir, aku pasti baik-baik saja. Nggak bakal ngebut kok.''


''Rita, kalau kamu seperti itu, jelas saja aku khawatir. Disini kan ada kamar kosong satu.'' paksa Mentari yang balik memegang lengan Rita.


Rita pun menumpuk satu tangannya diatas tangan Mentari.


''Heyy, aku juga sudah sangat merindukan kamarku, Nona Mentari.''


Edgar meninggalkan kedua wanita itu ke luar rumah, dan tak lama kemudian ia kembali.


Rita mengangguk yakin.


''Iya Tuan.''


''Ya sudah, tapi, kamu tidak boleh sendiri. Ada pengawal yang mengikutimu.''


''Oh, tidak perlu repot-repot, Tuan.'' ujar Rita tidak enak.


''Kalau kamu menolak, berarti kamu harus menuruti permintaan istri saya.''


Rita langsung terdiam mendengar pilihan itu. Ia menatap Mentari yang menatapnya sedih. Sebenarnya ia juga tidak tega, tapi, ia juga tidak bisa disini untuk menginap. Apalagi Mentari sudah menaruh banyak pertanyaan untuknya yang masih tersimpan di dalam benaknya. Kalau ia akan berlama-lama disini, pasti pertanyaan itu akan keluar. Rita tidak tega membagikan beban kesedihannya kepada Mentari yang sedang dalam fase menemukan kebahagiaannya sekarang.


''Baiklah, saya akan kembali ke rumah saya dengan pengawal anda, Tuan. Terima kasih.'' ucap Rita.


Mentari langsung memeluk Rita dengan erat.


''Kamu jahat, Rit. Nggak mau nurutin kemauan ibu hamil.''


''Maaf ya, bumil.'' balas Rita.

__ADS_1


Sama halnya dengan para warga yang hadir tadi, Rita juga mendapatkan banyak. Bahkan ada hadiah khusus yang diberikan oleh Mentari untuk teman yang selama ini sudah baik padanya itu. Namun, Rita belum mengetahui isinya, karena sudah dibungkus rapi di dalam box berukuran sedang.


''Ya sudah, buruan sebelum nambah malam. Hati-hati di jalan ya, Rit.'' ujar Mentari.


Rita mengangguk sebagai jawaban.


''Terima kasih, Mentari. Terima kasih, Tuan.''


Rita berjalan ke arah motornya.


''Permintaan istriku, kawal dia sampai tiba di rumahnya. Pastikan dia masuk ke dalam rumah, baru kamu boleh pergi.'' ujar Edgar pada salah satu pengawal.


''Baik Tuan.'' jawab pengawal tersebut.


Jimmy sudah lebih dulu meninggalkan rumah tersebut. Tersisa dua pengawal yang akan beralih mengawal perjalanan Rita pulang ke rumahnya.


''Aku pulang ya..!!'' seru Rita sembari melambaikan tangannya pada Mentari.


Mentari membalas lambaian tangan itu.


''Hati-hati..!'' balas Mentari.


Mentari menarik nafasnya dalam-dalam ketika Rita dan dua pengawal sudah menghilang dari pandangannya. Ia duduk di kursi, lalu Edgar juga mengikutinya.


''Aku merasakan Rita menyembunyikan sesuatu, Mas.'' ujar Mentari.


''Oh ya?'' tanya Edgar.


Mentari mengangguk. Ia menyandarkan kepalanya di dada Edgar. Edgar mengusap lembut sisi kepala sang istri.


''Tapi, aku bingung gimana mencari tau kebenarannya.''


''Kamu jangan berpikiran terlalu dalam. Ingat anak-anak kita dan juga kesehatan kamu sendiri, ya.'' ujar Edgar.


Mentari mengangguk di dalam sandarannya itu.


.


.


Seseorang tengah tersenyum tipis menatap dua orang yang terlihat mesra itu.


''Kamu terlihat tenang di dalam pelukan itu. Maaf untuk semua kesalahan yang mungkin tidak akan pernah kamu maafkan.'' bathinnya dengan tersenyum getir. Lalu seseorang itu pergi setelah bisa melihat seorang yang ia rindukan meskipun dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2