Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 95 : Sumber Mata Air Alami


__ADS_3

Mentari tersenyum tipis.


''Tapi, belum ada tanda-tandanya, Mas..'' balas Mentari dengan lirih. Kemudian ia menunduk.


Edgar langsung memeluk Mentari, ia menyadari perkataannya membuat sang istri sedih.


''Maaf sayang karena perkataanku terdengar ambigu, penantian ini kita berdua yang merasakan, kita berdua yang melalui prosesnya secara bersama. Jadi tidak perlu merasa bersalah dan bersedih sendiri. Maaf sayang, jangan bersedih, aku tidak bermaksud membuat kamu sedih.''


Edgar mengurai pelukannya untuk menatap Mentari. Ia menatap bola mata Mentari dengan lekat.


''Aku tidak menanti secara buru-buru, sayang. Jangan cemas.. kita nikmati semuanya, termasuk penantian ini.'' sambung Edgar.


Mentari tersenyum tipis lalu menatap sang suami.


''Aku nggak marah kok Mas, aku hanya terbawa suasana.''


''Kalau bicara soal anak.. kamu memiliki kenangan tentang harapan, penantian, lalu dihadapkan dengan kekecewaan. Semua itu pasti berat banget, aku takut membuat kamu kecewa Mas..'' Mentari kembali menunduk.


''No...'' Edgar langsung memeluk Mentari kembali.


''Jangan pernah katakan seperti itu lagi, sayang.''


''Kita sudahi pembahasan ini, maaf.. justru aku yang membuat malam pertama kita disini menjadi canggung seperti ini.''


Edgar merasa bersalah atas perkataan yang keluar dari bibirnya.


Mentari terlihat menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan pelan.

__ADS_1


Mentari terlihat tersenyum dan lebih baik.


''Ya sudah mari kita cairkan kecanggungan ini.'' ujar Mentari dengan memberikan kedipan mata untuk suami tercinta.


Edgar langsung terkejut karena tiba-tiba Mentari seperti menggodanya. Sebagai pria yang normal dan merasa di goda oleh wanita yang dicintainya tentu saja membuat sekujur tubuhnya terasa mendapatkan sebuah sinyal. Sinyal untuk melahapnya tanpa ampun.


Mentari beranjak dari sofa terlebih dahulu, membiarkan Edgar yang masih duduk dengan keterkejutannya.


''Mas..'' panggil Mentari.


Edgar langsung menoleh.


''Hah? iya sayang..''


Lagi-lagi Mentari membuatnya melongo.


Mentari duduk dengan posisi yang seksi dan menantang. Ditambah dengan memberikan isyarat dengan jari telunjuknya agar suami mendekati. Ia menggigit bibir bawahnya yang semakin membuat sekujur tubuh Edgar mendidih.


Akkhh


Edgar mengerang merasakan sesuatu yang sangat mengeras di bawah sana. Elangnya seperti mau menjebol kandang.


Mentari reflek menatap celana pendek yang dikenakan sang suami.


''Mau nunggu apalagi, sayang?''


Lagi-lagi Edgar terkejut, antara percaya dan tidak. Senyumnya langsung mengembang diwajahnya.

__ADS_1


''Tidak menunggu apa-apa, sayang. Selamat menikmati..'' balas Edgar yang sudah sangat terpancing.


Edgar melepaskan kaos pendeknya dengan cepat dan melemparnya ke sembarang arah. Tidak ingin menunda, ia langsung melahap dua permen kenyal itu.


Mentari bergerak mundur untuk mendapatkan posisi ke tengah agar semakin nyaman tanpa saling melepaskan apa yang sedang mereka lakukan.


Setelah beberapa saat, Edgar melepaskan pertautannya karena merasakan Mentari sudah kehabisan nafas sehingga kekuatan mengimbanginya berkurang.


Keduanya sama-sama masih duduk saling berhadapan. Mentari menatap ke dirinya sendiri, pakaiannya masih utuh melekat ditubuhnya.


''Malam ini aku yang memegang kendali..'' senyum Mentari membuat Edgar melongo lagi.


Edgar mengangguk tetapi sedikit ragu, apa yang sudah merasuki jiwa istrinya itu membuatnya bingung.


''Oh iya, boleh, boleh banget sayang.''


Edgar langsung bergeser, Mentari mendorong dadanya agar telentang. Sementara Mentari sudah berada diatas tubuhnya.


Edgar masih diam termangu dan siap menerima kejutan dari sang istri. Sungguh diluar dugaan, yang berulang tahun justru yang memberikannya kejutan. Disaat kejutan lain yang sudah ia persiapkan pun belum ia berikan.


Mentari melepaskan pakaiannya, menyisakan kacamata pelindung sumber mata air alami miliknya. Lalu pelan tapi pasti, ia semakin maju dan mulai menciiumi sang suami.


Edgar tak diam begitu saja, kedua tangannya pun ikut berolahraga di sumber mata air tersebut.


Setelah Mentari menuntaskan untuk yang pertama kalinya, Edgar merasakan kasihan. Edgar langsung membalikkan tubuh Mentari, agar ia yang kembali memegang kendali.


''Cukup, sayang. Biarkan kembali aku yang memegang kendali..'' bisik Edgar.

__ADS_1


Mentari mengangguk.


Mereka kembali memulai untuk melakukan proses pembuatan generasi baru.


__ADS_2