
Mentari tidak mengalihkan pandangannya dari layar lebar tersebut. Ia sangat fokus pada jalan cerita yang sedang diperankan oleh artis-artis itu.
Saking fokusnya, Mentari sampai terisak karena menghayati akting yang sangat berhasil. Terkadang suara tawa juga memenuhi ruang tersebut saat pemeran pendukung juga sangat berhasil mengisi sisi komedi yang tidak membosankan.
Film yang berdurasi hampir dua jam itu akhirnya selesai, happy ending. Pengunjung bioskop sudah mulai keluar dari ruang tersebut, sedangkan Edgar menahan Mentari untuk tetap tenang ditempat karena tidak ingin berdesak-desakan dengan lainnya.
''Bagus ya Mas filmnya?'' tanya Mentari.
''Iya, bagus hehe..'' jawab Edgar dengan menggaruk tengkuknya.
Melihat raut wajah Edgar saat menjawab pertanyaannya pun langsung membuat Mentari paham.
''Kamu nggak nonton ya Mas?'' selidik Mentari.
''Hehehehehe''
''Aku nontonin kamu, sayang. Kamu lucu karena tertawa, nangis, sembunyi lihat orang ciuman, padahal kita kan malah lebih hot dari mereka.'' ceplos Edgar.
''Maassss..'' pekik Mentari, ia tak ingin orang lain mendengarkan perkataan Edgar yang vulgar.
Bukannya takut, Edgar justru meraih tengkuk sang istri dan menciumnya hingga semakin dalam. Mentari dibuat gelagapan oleh perbuatan suaminya yang mendadak itu.
Awalnya Mentari langsung terdiam dengan kedua matanya yang terbelalak. Sesaat kemudian ia tersadarkan untuk segera menyudahinya.
__ADS_1
''Kamu suka aneh-aneh, Mas!'' sungut Mentari ketika berhasil melepaskan pertautan dengan suaminya.
Edgar justru semakin tersenyum jahil menggoda sang istri.
''Nanti gimana kalau kita diusir?''
''Mereka tidak akan mungkin berani, sayang.'' balas Edgar dengan mengusapkan jarinya di sudut bibir Mentari.
Mentari pun langsung mendengus kesal. Dan keduanya keluar dari bioskop tersebut setelah keadaan sepi.
''Nanti kita kembali ke rumah kan, Mas?'' tanya Mentari.
''Iya sayang.''
''Aku yang sepi, Mas, kalau kamu pergi ke kantor.'' protes Mentari lirih.
''Tidak mungkin aku meninggalkanmu sendirian.'' Edgar menarik hidung Mentari gemas.
Genggaman tangan keduanya tidak lepas, Edgar terus menjaga jarak Mentari agar tidak bersentuhan dengan orang lain disana.
Edgar dan Mentari berjalan menuju area food court yang penuh dengan pengunjung. Dari sudut ke sudut terlihat sumpek, Edgar mendengus kesal melihat pemandangan itu, pemandangan yang sangat membosankan baginya.
''Kita cari tempat lain aja Mas, jangan disini..'' ujar Mentari yang paham dengan raut wajah sang suami.
__ADS_1
Edgar beralih menatap wajah Mentari, ia membelai rambut sang istri dengan lembut dan menyelipkan di belakang telinga. Rasa bersalah menyelimuti perasaannya karena gagal mengendalikan dirinya.
''Maafkan aku..'' ucap Edgar.
''Hmm, tidak masalah, aku juga tidak nyaman melihat penuh seperti itu, Mas..'' balas Mentari kemudian tersenyum.
Edgar mengusap lembut rambut Mentari dengan senyum yang terukir di bibirnya.
''Terimakasih, sayang..''
Akhirnya setelah gagal masuk ke food court karena penuh, mereka memilih untuk meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut. Awalnya ingin mengisi perut disana setelah selesai menonton, namun, saat melihat keramaian yang pastinya akan berakibat pada pelayanan yang lebih lambat, keduanya memutuskan untuk mencari tempat lain saja.
Karena tak ingin keluar dengan tangan yang kosong, Edgar menghentikan langkahnya di depan stand minuman dan ia memilih kopi susu dua cup.
Tak lama kemudian, dua cup kopi yang memiliki rasa campuran dengan gula aren itu sudah berada di tangan Edgar.
''DIRA!''
''DIRA!''
''Mas, apa suara itu manggil aku?'' tanya Mentari lirih pada Edgar ketika mereka hendak masuk ke dalam mobil.
Edgar langsung mengedarkan pandangannya, begitu juga dengan Mentari.
__ADS_1
''Dira, tunggu!'' seru suara itu yang semakin dekat.