
Mentari menyambut kedatangan Edgar dengan bibir manyun.
''Lama ya sayang? maaf.'' ucap Edgar seraya mengusap rambut sang istri.
''Bukan itu.'' balas Mentari sedikit ketus.
Aroma bumbu-bumbu makanan yang dibawa oleh Edgar sudah menusuk hidungnya. Tetapi Mentari masih dalam mode cemburu secara tiba-tiba.
Edgar pun tidak langsung menghidupkan mesin mobilnya, ia duduk menghadap sang istri.
''Ada apa, sayang? kenapa tiba-tiba marah?''
''Ada yang kamu mau lagi?''
''Ayo kita cari sampai dapat ya.''
Mentari menatap lurus ke depan dengan kedua tangannya menyilang. Ia hanya melirik sekilas pada Edgar lalu kembali menatap ke depan.
''Ngapain tadi kamu senyum-senyum sama gadis-gadis itu?!''
''Ooohhhhhh..'' Edgar hampir saja tertawa, tapi, masih bisa ditahan karena mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.
Cemburu Mentari ketika dulu belum menjadi ibu hamil masih bisa ia sembunyikan. Tapi, beberapa waktu terakhir ini, ia tidak bisa menahan rasa cemburunya. Di benaknya selalu mendorong untuk mengungkapkan rasa cemburunya itu secara langsung.
''Ceritanya istriku lagi cemburu nih? sayang..'' Edgar membelai wajah Mentari dengan lembut.
''Maaf ya sudah bikin bumil kesayanganku ini jadi cemburu. Tadi aku sekedar menyapa saja.'' jelas Edgar dengan menggenggam tangan Mentari.
''Kamu tau nggak sih Mas kalau senyuman kamu itu bisa bikin jantung gemetaran?'' balas Mentari.
''Gadis-gadis itu pasti pada baper.''
''Genit ih!''
__ADS_1
Edgar menyimak apa yang dikatakan oleh Mentari, ia juga tidak marah karena menurutnya Mentari sedang bersikap diluar kendalinya. Justru ia merasa senang ketika Mentari mengungkapkan rasa cemburunya itu.
''Kenapa diem aja, Mas?''
''Jadi, sudah boleh jawab nih?'' balas Edgar.
Mentari justru malah melengos.
''Berarti dari dulu kamu juga gemetaran dong kalau lihat senyumanku?'' goda Edgar.
''Sudah tergoda sejak awal ya?'' imbuh Edgar dengan godaannya yang membuat Mentari salah tingkah.
Mentari menatap cepat pada Edgar dan kemudian membuang pandangannya lagi.
Edgar terkekeh gemas.
''Sudah ya jangan marah lagi, aku tidak akan menggoda dan tergoda untuk siapapun. Hanya untuk GHADIRA MENTARI seorang dihatinya Edgar Raymond.'' bisik Edgar.
''Yakin?''
Mentari kembali terdiam. Posisi mobil Edgar pun masih di tepi jalan angkringan itu, karena tempat tersebut memiliki area parkir yang kurang luas. Sedangkan saat Edgar datang, pengunjung tempat tersebut sudah ramai.
''Terus ini mau di makan kapan?'' tanya Edgar dengan menunjukkan kantong plastik berisikan menu-menu angkringan.
''Mau makan itu sambil keliling.'' jawab Mentari.
''Aku mau jalan-jalan, Mas.'' imbuhnya.
''Boleh nggak?'' tanyanya pelan.
Edgar pun langsung tertawa. Ia menuruti permintaan sang istri. Dengan demikian ia langsung melihat perubahan di wajah Mentari. Sepertinya bumil satu ini langsung melupakan rasa cemburunya. Di wajahnya sudah kembali ceria lagi.
Mentari menikmati pemandangan malam kota ini dengan menikmati menu-menu khas angkringan. Ia juga memberikan beberapa suapan untuk Edgar yang harus fokus pada kemudinya.
__ADS_1
''Sederhana sekali cara membuatmu bahagia, sayang.'' bathin Edgar setelah menerima suapan dari Mentari.
Edgar melirik pada perut Mentari, ia tersenyum gemas. Rasa bahagia dan bangga karena beberapa bulan lagi akan lahir mahakarya yang luar biasa.
--
Setelah dari bandara untuk mengantarkan Erin dan juga kedua orangtuanya yang tak lain adalah keluarga bosnya sendiri, Jimmy langsung kembali ke apartemennya.
''Bahkan aku belum berani melakukan itu.'' gumamnya sambil memegangi pipinya.
Masih terasa jelas sentuhan itu meskipun hanya sekilas.
Huuuhhh
Jimmy menghela nafasnya lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Bayangan sang kekasih masih terlihat jelas.
''Banyak sekali foto-foto yang dikirimnya.'' gumam Jimmy.
Erin mengirimkan foto-foto yang tadi sempat ia ambil. Jimmy melihat satu persatu dengan senyuman yang selalu terukir di sudut bibirnya.
''Menggemaskan sekali.'' gumamnya.
Sebagai seorang pria lajang dan hidup sendiri, Jimmy sudah terbiasa melakukan aktivitas di rumah.
Jimmy meletakkan ponselnya di atas meja. Ia ingin membuat minuman hangat untuk menemani lemburnya.
''Aarrggghh! bisa-bisanya aku tidak memeluknya sebentar saja.'' kesal Jimmy.
Jimmy memukul-mukul gelas dengan sendok setelah selesai mengaduk minumannya yang sudah selesai ia buat.
''Aaarrghhh!!''
''Aku sangat gugup, sampai bingung harus berbuat apa.''
__ADS_1
Jimmy memegangi dadanya, ia bisa merasakan sendiri bagaimana detak jantungnya itu berdetak kencang.