
Dunia perdapuran di kediaman Raymond tengah disibukkan dengan kegiatan memasak untuk menyambut kedatangan bos besar. Berbagai bahan menu makanan sudah siap.
''Perkiraan datangnya tuan Erick pas jam makan siang ya, Non?'' tanya asisten senior disana.
''Iya Mbak.'' jawab Mentari kemudian tersenyum.
Mentari masih seperti biasanya, ia hanya diizinkan untuk membantu yang ringan-ringan saja. Sedangkan lainnya sudah berada ditangan yang ahli memasak di dapur tersebut. Ia tidak bisa terus menerus di dalam kamar. Dengan berada di dapur ia bisa ikut mengobrol bersama para pekerja wanita itu meskipun tidak lama. Setidaknya ia tidak lupa dengan cara berkomunikasi dengan orang lain.
Di tempat lain pada hari kemarin
Tak mau memiliki kehidupan yang terus bergantung pada perusahaan milik orang lain, apalagi di usianya yang sudah bukan ABG lagi, Rita mencoba peruntungan dengan membuka usaha clothing store. Belum lama ia meresmikan usahanya tersebut. Ia juga tak membuat acara apapun dalam peresmian usahanya itu. Rita hanya meminta do'a dan juga dukungan dari orang-orang yang ia kenal. Pengumuman grand openingnya ia umumkan melalui sosial medianya dengan memberikan diskon dan juga bingkisan menarik untuk pembeli yang datang pada hari itu.
Dalam menjalani pengobatan, Rita tidak mengeluarkan biaya untuk operasi dan seluruh rangkaian konsultasi yang ia jalani. Karena sudah ada yang menanggung semua biaya itu. Sehingga ia pun memiliki tabungan yang cukup untuk menyewa sebuah tempat yang kebetulan kosong dan tertulis ''dikontrakkan''.
Karena tidak jauh dari komplek tempat ia tinggal, sehingga Rita tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata. Keluarganya pun juga sangat mendukung dengan memberikan tambahan modal.
Hari ini ia bersama satu penjaga tokonya sedang menyusun barang-barang yang baru saja datang tadi malam. Dia gadis remaja berusia 19 tahun yang sudah Rita kenal. Gadis itu baru lulus sekolah tahun lalu dan sudah memiliki pengalaman berdagang saat menempuh pendidikan sekolah menengah kejuruan karena sesuai dengan jurusan yang diambilnya.
''Selamat datang Kakak, silahkan dipilih-pilih dulu.'' ucap Rita pada dua wanita yang baru saja masuk ke tokonya.
''Mau cari apa, Kak?'' tanya Rita lagi.
''Baju atasan yang lagi trend sekarang dong, Kak.'' jawab salah satu dari mereka.
Karyawan Rita pun langsung bergegas untuk menunjukkan pakaian yang dicari oleh wanita itu, khususnya di bagian gantungan khusus atasan. Dengan kelihaiannya dalam berkomunikasi, gadis remaja itu bisa membuat pembeli puas dengan pelayanannya.
''Boleh Kak kalau mau dicoba dulu, kami menyediakan ruang ganti, Kak.'' ujarnya dengan menunjuk pada ruang ganti.
''Ohh, boleh-boleh.'' jawab wanita itu.
__ADS_1
Masing-masing membawa dua potong baju, mereka saling menunggu untuk mencoba baju yang sudah dipilihnya.
Tak lama lagi, datang pembeli lain yang juga seorang wanita.
Karyawan Rita melayani pembeli, sedangkan Rita yang sedang libur dari bekerja pun dengan sigap ikut turun tangan untuk beraktivitas di toko. Rita menyusun setiap barang berdasarkan jenisnya masing-masing, dari atasan, rok, celana, sampai dengan hijab berbagai macam merk.
''Gimana, Kak? cocok dengan bajunya?'' tanya Rita pada pembeli yang baru keluar dari ruang ganti.
''Yang satu pas, satunya agak kepanjangan dikit, sih. Tapi, nggak papa, nanti saya potong sendiri, daripada baju ini diambil sama yang lain. Ya nggak Beb?'' tanya wanita itu pada temannya.
''Betul sekali.'' jawab temannya.
Mereka pun langsung melakukan transaksi pembayaran secara cash tanpa meminta potongan harga. Sebagai pedagang, tentu saja Rita sangat senang mendapatkan pembeli yang seperti ini. Saat opening, ia sudah memberikan potongan harga untuk minimal pembelian yang sudah menjadi syarat dan ketentuannya.
Beberapa kali Rita tampak tersenyum sendiri dengan sorot matanya menatap ke arah luar toko. Tiba-tiba suara gadis remaja itu mengejutkannya sehingga ia tersadar dari lamunannya.
''Jangan senyum-senyum sendiri, Kak. Nanti bahaya kalau kesambet, aku jadi takut deh.'' ujar gadis yang bernama Nelly itu.
''Mau makan apa, Nel? mumpung Kakak belum order nih.'' ujar Rita.
Tak terasa waktunya kini sudah menjelang jam makan siang. Rita memberikan satu kali makan siang untuk satu-satunya penjaga tokonya itu. Karena buka toko jam 8 pagi, dan tutup sore hari. Jika ada pembeli yang datang di jam tutup pun bisa menghubungi Rita secara langsung, ia yang akan menanganinya sendiri karena sudah pulang dari tempatnya bekerja.
''Aku lagi pengin makan yang pedes, bumbu kacang, pakai sayuran lengkap dengan lauk, Kak.'' jawab Nelly menatap ke atas sembari membayangkan makanan yang sedang ia jelaskan. Hmmmmmm, enak sekali, ia sampai meneguk air liurnya sendiri.
''Bilang aja gado-gado.'' balas Rita kemudian tertawa kecil.
''Hehe, tepat sekali, Kak.'' jawab Nelly.
Rita langsung memesan makanan via aplikasi dan tinggal menunggu kedatangan pesanannya itu. Biasanya tidak sampai 30 menit sudah datang.
__ADS_1
Kediaman Raymond
Edgar yang berada di kantor sejak pagi sengaja menjemput sendiri adik dan juga kedua orangtuanya itu. Mereka baru saja masuk ke dalam rumah. Rumah pun langsung terasa lebih ramai dengan suara Erin. Gadis itu memang sangat berbeda saat berbicara biasa dengan saat bernyanyi serius. Suaranya tergolong cempreng, apalagi saat berteriak, serasa semua telinga orang-orang yang mendengarnya bisa pecah. Jangankan orang-orang, cicak-cicak di dinding diam-diam merayap pun bisa langsung pingsan. Tapi, ketika gadis itu bernyanyi dengan serius, suaranya sangat sopan masuk ke telinga pendengarnya. Mungkin cicak-cicak yang tadi pingsan, bisa tetap pingsan karena seperti di ninabobokan.
''Kak Mentari!!! aku kangen!!'' seru Erin dengan kedua tangannya yang sudah ia rentangkan dengan lebar.
''Kakak juga kangen.'' jawab Mentari yang langsung memeluk adik iparnya itu dengan erat.
Beberapa saat keduanya berpelukan erat, Erin beralih mengusap perut kakak iparnya itu.
''Hay keponakan Aunty Erin.'' ucap Erin menirukan suara anak kecil.
''Hay onty Eyiinn.'' balas Mentari yang juga menirukan suara anak kecil.
Mentari beralih menyambut kedua mertuanya itu. Mereka saling berpelukan dan menanyakan kabar, tentu juga kondisi kehamilan menantunya itu.
Sementara itu, Erin melirik-lirik ke arah kakaknya. Apes sekali ternyata sang kakak pun juga tengah meliriknya tajam bagaikan pisau yang siap untuk menikamkannya.
''Hmmm, tunggu saja.'' bathin Edgar.
''Aduuhh, aku harus bersembunyi dimana ini?'' bathin Erin.
''Jangan pernah berpikir untuk sembunyi!'' bathin Edgar yang masih tetap melirik adiknya itu.
"Apa jangan-jangan kak Edgar sudah paham kalau aku lagi kepikiran buat sembunyi dari dia?" bathin Erin semakin gusar.
Mentari yang selesai saling mengungkapkan rindu dengan mertuanya, ia menangkap sang suami dan juga adik iparnya saling melirik. Ia pun menarik nafasnya dalam-dalam lalu berdehem sehingga membuat kakak beradik itu tidak saling melirik lagi.
"Sepertinya tepat sekali, sudah waktunya untuk makan siang." ujar Mentari.
__ADS_1
Dan benar saja, pak Dar datang dan menyampaikan bahwa makan siang sudah siap.
Mereka langsung beralih ke meja makan, menu makan siang sudah lengkap di meja makan. Tuan Erick dan nyonya Neeta pun menatapnya semakin lapar. Mereka tidak membuang-buang waktu, mami mengambilkan lauk untuk tuan Erick, begitupun dengan Mentari yang juga mengambilkan lauk untuk Edgar. Sementara Erin langsung menggigit sendok yang tidak bersalah itu.