
Setelah kepergian pria bernama Denny itu, Edgar dan Jimmy memeriksa ruangan itu untuk mencari sesuatu.
''Apakah Tuan akan membawa kasus ini ke jalur hukum?'' tanya Jimmy.
''Tidak untuk saat ini, aku masih memiliki rasa kasian kepada istri dan anak-anaknya. Bukan aku bermaksud merendahkan istrinya, tetapi istrinya hanya memiliki pekerjaan sampingan sebagai penjual online yang kau sendiri hasilnya tidak menentu, sedangkan anaknya ada 3. Kau bayangkan sendiri Jim jika dia di penjara dan tidak ada yang mencari nafkah. Aku masih berempati dan memberikan kesempatan ke dia untuk mencari pekerjaan ditempat lain.''
''Tapi, kalau sampai dia berani berulah lagi, tidak ada kata ampun.''
''Baik Tuan.''
Meskipun ia merasa geram, Jimmy tetap menyetujui apa yang menjadi keputusan Edgar, karena memiliki alasan kemanusiaan.
''ASTAGA!'' seru Edgar.
''Kenapa Tuan? ada apa?'' seru Jimmy panik.
Edgar sedang berjongkok karena tengah memeriksa laci dibawah. Ketika mendapatkan sesuatu, ia langsung memunculkan kepalanya.
''Kau lihat ini, sangat menjijikkan!'' Edgar melempar sebuah plastik berwarna hitam itu ke meja.
Dari raut wajah Edgar, laki-laki itu sudah menunjukkan ekspresi yang tidak baik-baik saja. Namun, Jimmy tetap penasaran dengan apa yang ada di dalam plastik itu.
Jimmy langsung melotot ketika melihat isinya, dua buah underwear beda jenis dan pengaman yang sudah bekas pakai ada didalamnya.
''Gila, Tuan! ini sudah sangat kelewatan!'' seru Jimmy.
''Ya, Jim. Jangan-jangan mereka melakukannya di ruangan ini!''
__ADS_1
Jimmy mengangkat kedua bahunya lalu menutup kembali plastik itu dengan jari kelingkingnya yang terangkat karena merasa jijik.
''Lentik juga jarimu, Jim? haha'' canda Edgar diikuti gelak tawanya.
''Anda jangan lecehkan saya, Tuan! saya tidak sudi..''
''Hahaha ogah juga! jangan kegeeran!''
Jimmy membuang plastik itu ke tempat sampah, dan Edgar kembali memeriksa lainnya.
Sementara dirumah, Mentari yang tanpa Edgar memang lebih sering bergabung bersama para pekerja. Saat jam makan pun ia memilih duduk lesehan bersama dengan yang lain. Meskipun awalnya selalu di tolak oleh para pekerja karena takut mendapatkan amarah dari Edgar dan dipecat, tetapi karena Mentari terus memaksa dan mendapatkan izin dari pak Dar, akhirnya yang lain pasrah.
Seperti biasa, setelah selesai makan dan mencuci piring sendiri yang habis ia pakai, Mentari langsung pamit ke atas. Ia tentu saja menyadari jika dirinya berlama-lama disini akan membuat para pekerja kikuk dalam melakukan kegiatannya.
Mentari kembali ke kamarnya setelah berbincang-bincang sedikit.
''Husstt, kamu ngomong apa sih Va?'' protes art bernama Listi kepada temannya yang bernama Eva.
''Emang iya kan Lis? lihat aja tuh kelakuannya.'' Eva masih bersikeras dengan pandangannya.
''Memangnya kenapa dengan kelakuan nona Mentari? beliau baik-baik aja kan sama kita, nggak pernah marah-marah. Kalau perlu bantuan selalu mengawali dengan kata tolong dan tidak lupa bilang terimakasih. Kamu itu lucu Va..''
''Halah kamu ini Lis, Lis..''
''Kenapa kalian ini?'' seorang art senior dirumah itu tiba-tiba datang.
''Nggak kok Mbak, biasalah urusan anak gadis..'' ujar Listi.
__ADS_1
''Ohh..''
Eva langsung melipir pergi sembari melemparkan lirikannya kepada Listi yang sedang berhadapan dengan art senior itu.
°°
''Mas Edgar hari ini nggak telpon sama sekali, cuma ngirim pesan terakhir tadi siang. Apa mungkin pekerjaannya benar-benar menyita banyak waktu?'' gumam Mentari.
Mentari melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul 21.45 WIB. Ia mencoba untuk menghubungi Edgar terlebih dahulu karena perasaannya sangat tidak tenang.
''Nomor yang anda tuju sedang diluar jangkauan''
''Tidak aktif?'' gumam Mentari.
Perasaan Mentari semakin tidak tenang, ia langsung berdiri berjalan kesana kemari seperti setrika. Ia berjalan membuka kain gorden dan menutupnya lagi.
''Tenang Mentari, tenang..'' Mentari terus menarik nafasnya dalam-dalam.
''Coba lagi.'' Mentari kembali mencoba untuk menghubungi nomor Edgar.
Jawaban dari operator yang kembali Mentari terima.
Mentari keluar dari kamar menuju balkon, ia melihat kebawah, belum ada tanda-tanda mobil masuk. Ia duduk di kursi sembari menatap layar ponselnya dan berharap Edgar segera menghubungi.
Hampir tiga puluh menit Mentari duduk di balkon, belum ada tanda-tanda apapun. Mentari juga masih enggan masuk ke dalam kamar, ia juga belum merasakan kantuk.
''Mas.. jangan bikin aku khawatir.'' gumamnya dengan suara bergetar.
__ADS_1