
Sebelum Jimmy meninggalkan bandara, ia menatap sekilas pada Mentari yang juga tengah menatapnya.
''Mari.'' ucap Jimmy sebelum mendapatkan timpukan dari Edgar kalau ketahuan.
''Hati-hati, Jim.'' ucap Edgar.
Jimmy mengangguk, lalu meninggalkan keduanya.
''Sepertinya Erin sudah memberitahu ke Jimmy.'' bathin Mentari.
Mentari menatap mobil Jimmy yang sudah semakin menjauh dari pandangannya.
''Sayang, ayo.'' ajak Edgar.
''Eh, iya Mas, ayo.'' balas Mentari dengan sedikit terkejut.
''Kok kaget gitu, sayang?'' tanya Edgar sembari membukakan pintu mobil untuk sang istri.
''Maaf Mas, lagi lihatin mobilnya Jimmy, hehe''
Mentari berkata jujur karena memang arah pandangannya tertuju pada mobil Jimmy. Namun, tentu saja ia tidak mengatakan yang sejujurnya.
Edgar langsung cepat-cepat masuk ke dalam mobil, karena di belakang juga sudah banyak yang mengantri.
Bandara internasional yang tidak pernah sepi dari aktivitas penerbangan karena menjadi pusat landingnya pesawat-pesawat dari luar negeri dan juga sebaliknya.
''Kamu suka mobilnya Jimmy?'' tanya Edgar.
Mentari yang sedang menatap lurus ke depan langsung menoleh ke arah suaminya. ''Iya Mas.''
Edgar mengangguk-angguk. Ia tidak membalas lagi dan fokus pada kemudinya yang masih berada di jalanan padat dari berbagai macam jenis kendaraan.
''Mas..'' panggil Mentari dengan mengusap-usap perutnya sendiri.
Edgar menoleh dan langsung mencari tepi jalan raya yang sudah tidak terlalu ramai karena khawatir melihat sang istri memegangi perutnya.
''Kenapa sayang? perutnya sakit? ke dokter ya..''
Melihat kekhawatiran itu membuat Mentari terkekeh kecil.
Edgar yang sudah posisi menunduk langsung mendongak. ''Kok ketawa?''
''Papa ... perut Mama tidak sakit, tapiii, tiba-tiba Mama ingin makan sesuatu.'' ujar Mentari.
''Ooohhhh''
Edgar pun langsung bernafas lega dan tertawa kecil.
__ADS_1
''Beneran bukan sakit, sayang?'' tanya Edgar memastikan.
Mentari mengangguk yakin. ''Iya suamiku.''
Edgar mengusap-usap lembut perut Mentari dan menciiumnya.
''Mau makan apa?'' tanya Edgar.
''Mau makan nasi kucing sama kawan-kawannya yang sate telur puyuh, sate jeroan, bacem tempe, emm... pokoknya itu, Mas.'' ujar Mentari lirih.
''Maunya yang dimana?'' tanya Edgar karena takut salah.
''Yang dekat SMA X.'' jawab Mentari.
Edgar langsung memikirkan tempat itu dengan menyeimbangkan lokasinya sekarang, ternyata cukup jauh, bahkan melewati kediamannya. Namun, yang pasti ia tidak ingin membuat sang istri bersedih.
''Demi bumil kesayangan, mari kita datangi.''
Mentari langsung sumringah, ia berteriak seperti baru mendapatkan door prize liburan ke luar negeri.
''Terima kasih, Papaaa..'' ucap Mentari lalu bergelayut manja di lengan kiri Edgar.
Edgar mengusap lembut rambut Mentari lalu memberikan kecupan manis di kening sang istri.
Edgar kembali menghidupkan mesin mobilnya untuk segera ke lokasi tujuan, karena waktu sudah semakin malam.
Angkringan yang dulunya hanya berada di suatu provinsi, kini sudah tersebar ke berbagai provinsi yang ada di Indonesia karena menu-menunya yang lezat.
''Kamu tunggu disini ya, sayang.'' pesan Edgar.
Mentari mengangguk nurut.
Edgar menuju keramaian angkringan itu dan ikut mengantri bersama beberapa orang lainnya.
''Tuan Edgar Raymond, kan?'' tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja berbalik badan karena sudah mendapatkan apa yang dibelinya.
Edgar mengangguk ramah untuk menjawabnya. ''Iya Bu.''
''Senang sekali bisa bertemu anda disini.'' ucap wanita itu.
''Terima kasih, Bu.'' balas Edgar.
Orang-orang yang tadinya tidak menyadari dan yang tadinya belum pernah melihat langsung seperti apa sosok putra Erick Raymond pun langsung menoleh.
''Bang, tolong kembalikan uang pembayaran beliau.'' pinta Edgar pada penjaga angkringan itu.
Penjaga angkringan itu pun tampak terkejut, ia langsung gugup dan mengiyakan saja.
__ADS_1
''I-ini.'' ujarnya.
Ibu itu juga menerima uangnya kembali dengan bingung.
''Biar saya yang membayar untuk makanan yang sudah beliau beli dan juga makanan mereka semua yang saat ini ada disini.''
Mendengar kalimat itu membuat semua pengunjung gembira karena akan makan gratis.
''Terima kasih, Tuan. Ternyata anda sangat baik sekali.'' ucap wanita tadi.
''Sama-sama Bu.''
''Tolong siapkan pesanan saya, e.. ini, itu,..'' Edgar menunjuk pada beberapa menu yang sekiranya aman untuk sang istri.
''Istri saya sedang mengidam, tolong siapkan sekarang. Dan anda bisa menuliskan nomor rekening disini.''
Edgar menyodorkan ponselnya, penjaga angkringan itu dengan gemetaran menerima ponsel Edgar. Pria itu memberikan perintah pada seseorang di sampingnya yang seorang wanita untuk menyiapkan pesanan Edgar, sedangkan dirinya menulis nomor rekening.
''Sudah Tuan.'' ujar pria itu.
Edgar menerima kembali ponselnya, dan tidak lama kemudian ia memasukkan ponselnya ke dalam saku.
''Sudah saya kirim, silahkan di cek. Maaf saya lupa tidak bawa uang cash yang cukup.'' ucap Edgar.
Pria itu melihat ada notifikasi di ponselnya.
''Terima kasih banyak Tuan, terima kasih. Sehat selalu dan lancar terus rezeki anda beserta keluarga.'' ucap pria itu.
''Aamiin..'' balas Edgar.
''Ini Tuan pesanannya.''
Edgar menerima pesanan untuk sang istri tercinta dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
''Aslinya jauh lebih ganteng banget ya..''
''Cakepnya suami orang..''
''Mana baik lagi..''
''Ya ampuun suami orang..''
''Sering-sering dong ketemu di tempat makan..''
''Hu'um, betul betul.. haha''
Beberapa gumaman pengunjung wanita disana.
__ADS_1
''Istighfar guys, sudah punya bini tuh..'' timpal seorang pengunjung pria yang kupingnya panas mendengar suara gadis-gadis di dekatnya.