Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 208 : Jadwal Operasi


__ADS_3

Antara Edgar dan Jimmy sudah semakin membaik. Tidak ada lagi saling diam karena perkara asmara.


''Beberapa hari ini papi hanya mengirim pesan saja.'' ujar Edgar.


Jimmy tersenyum samar-samar.


''Pasti sedang mengalami kesibukan yang meningkat, Tuan.'' jawab Jimmy.


''Ya, ya ... tapi, aku khawatir dengan kesehatan papi. Sepertinya aku harus menelponnya.''


Jimmy langsung melotot.


''Emm, jangan Tuan!'' cegah Jimmy.


''Maksud saya sekarang 'kan disana masih malam hari, beliau pasti sudah istirahat.'' sambungnya.


Edgar langsung tertawa kecil lalu menepuk pundak Jimmy.


''Hahaha, iya aku lupa dengan perbedaan waktu antara kita.''


Jimmy hanya mengangguk lalu nyengir. Ia langsung mengeluarkan nafas panjang yang membuatnya jadi sangat lega karena sudah mendapatkan alasan yang tepat dan bisa diterima oleh Edgar.


''Oh, ya, mengenai operasi Rita, siapa yang akan mendampinginya nanti disana? aku tidak ingin kamu yang menemaninya hingga bermalam disana.'' ujar Edgar


''Tenang, Kakak ipar. Saya sudah meminta kepada salah satu perawat untuk libur dari aktivitas rutinnya untuk menemani Rita.''


''Tapi, saya tetap akan kesana saat operasi dilakukan.'' pungkasnya.


''Jangan sebut kakak ipar! telingaku langsung gatal!'' protes Edgar.


Jimmy menutup mulutnya karena menahan tawa.

__ADS_1


''Mungkin anda lupa belum membersihkan telinga, sehingga membuat telinga anda terasa gatal, Tuan.'' ujar Jimmy.


''JIIMM!!'' lirih Edgar namun, dengan suara yang ditekan.


''Maaf, Tuan. Saya harus menghubungi dokter dulu, permisi.'' ucap Jimmy langsung meninggalkan ruangan Edgar dengan langkah cepat sebelum mendapatkan kemarahan.


''JIMMY!! anak kurang ajar! berani-beraninya mengataiku belum membersihkan telinga, huh!'' kesuh Edgar yang mengomel sendiri sembari berjalan ke kursi kebesarannya.


Untuk hari ini, Edgar sudah meminta pada Jimmy untuk membebaskan dari jadwal meeting. Mereka akan datang ke rumah sakit saat operasi Rita dilakukan siang hari nanti.


Teman-temannya di kantor cabang juga sudah mengetahui bahwa izinnya Rita karena hendak menjalani operasi, sehingga meminta jangka waktu izin yang lebih panjang. Tidak ada rasa iri melihat teman lainnya mendapatkan izin lebih banyak, karena perusahaan pasti memberikan keringanan kepada siapapun untuk hal yang mendesak.


Siang harinya, Edgar dan Jimmy berangkat bersama menuju rumah sakit. Informasi dari seorang pengawal, disana ada teman dari Rita yang mengaku bernama Vika sudah datang.


Setelah menyusuri jalanan kota, akhirnya mereka tiba di rumah sakit yang dituju.


''Terima kasih sudah datang, Kak.'' ucap Rita pada Vika yang duduk disebelah ranjang tempatnya berbaring.


Di dalam benaknya, Vika menahan banyak pertanyaan karena tidak ada siapapun yang mendampingi kecuali seorang perawat wanita yang setia berada di ruangan itu. Ia hanya ingin memberikan semangat pada temannya itu, karena itu yang Rita butuhkan. Sebuah keyakinan Rita untuk berani melakukan operasi.


Rita membalas dengan anggukan kecil dan senyuman tipis.


''Setelah ini, aku memerlukan waktu yang lama untuk masa pemulihan, Kak.''


Vika memberikan anggukan.


''Ya, Rita cantik, apapun sakitmu, kami semua mendo'akan untuk kesembuhanmu. Fokus saja supaya cepat sembuh, jangan pikirkan pria-pria tampan dulu.'' ujar Vika sedikit dengan candaan.


Rita pun tertawa kecil.


Ceklek

__ADS_1


''Permisi.''


Kedua wanita itu langsung menatap arah pintu yang menampilkan kedatangan Edgar dan Jimmy.


Vika langsung berdiri dari kursi.


''Selamat siang, Tuan.'' ucap gadis itu pada kedua pria gagah yang baru saja datang.


Edgar dan Jimmy mengangguk.


''Bagaimana jadwal operasinya?'' tanya Jimmy pada perawat yang berjaga.


''Akan dilakukan sesuai jadwal, menunggu tiga puluh menit lagi, Tuan. Dokter baru saja selesai mengoperasi pasien lain.'' jawab perawat itu.


''Baik, terima kasih.'' ucap Jimmy.


Rita sudah tampak pucat efek dari puasa yang harus dilakukan menjelang operasi.


Kedua pria itu duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut sembari menunggu jadwal operasi Rita. Mereka datang ke rumah sakit lebih cepat, karena jadwal yang sudah di buat oleh dokter operasi akan dilakukan pukul 13.30 WIB.


''Terima kasih kamu datang untuk menemani Rita.'' ucap Jimmy sembari menatap Vika.


''Tentu saja saya akan datang, Tuan. Tapi, saya mengambil izin untuk sore ini.'' balas Vika menahan rasa gugupnya.


''Baiklah, tidak apa-apa.'' jawab Jimmy.


Vika mengangguk lalu menatap Rita yang tersenyum tipis. Rita melirik pada Edgar dan Jimmy secara bergantian.


''Syukurlah Mentari benar-benar tidak tahu mengenai operasiku. Aku lega tuan Edgar dan tuan Jimmy hanya datang berdua tanpa Mentari. Aku tidak sanggup jika harus berhadapan dengan kesedihan yang dirasakan oleh Mentari.'' bathin Rita lalu menatap langit-langit ruangan VIP.


Vika mengusap lengan temannya itu agar lebih tenang dan tidak meratapi kesedihannya.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lagi, awalnya mereka mengira bahwa dokter yang datang. Namun, saat memastikan siapa sosok itu, semua langsung melotot dengan mulut yang menganga, kecuali Vika yang justru kebingungan kenapa mereka shock.


''Permisi.'' ucap seseorang itu dengan tangannya yang masih memegang pintu.


__ADS_2