
Setelah mengobrol dengan pak Ramlan dan bu Titi, Edgar dan Mentari langsung masuk ke dalam kamar. Tatapan mata Edgar terlihat sayu, hari ini tidak ada waktu istirahat untuknya.
Saat Mentari masih terjaga di jam 23.00 WIB, Edgar justru sudah terlelap lebih dulu, menjawab mata sayu yang sedari tadi di tahan karena masih mengobrol.
Posisi Mentari dan Edgar saling berhadapan. Mentari mengusap lembut wajah suaminya itu dengan hati-hati agar tidak membangunkannya. Wajah ayunya membentuk sebuah senyuman.
''Kamu kelelahan ya, Mas? maafkan istrimu ini ya.'' bathin Mentari.
Ia meletakkan jari telunjuknya di bibir Edgar.
''Hmm, ini nih yang pertama kali berani-beraninya nyentuh punyaku tanpa permisi.'' bathin Mentari kesal teringat saat di kolam renang waktu itu.
''Dulu aku memang kesal, sekarang sudah tidak lagi. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu, Mas. Ya walaupun terkadang masih malu untuk mengakui itu.'' bathin Mentari sembari cekikikan tanpa suara.
Perlahan Mentari memejamkan kedua matanya dan merapatkan tubuhnya pada sang suami.
Mentari akhirnya ikut tertidur pulas di dalam pelukan suaminya.
--
Pagi hari penuh keceriaan berada di rumah penuh kenangan. Edgar masih berada di dalam kamar berteman dengan segelas kopi dan roti panggang yang dibuatkan oleh Mentari tadi. Karena tidak ada sofa dan meja untuk bersantai, Edgar duduk di kursi meja rias milik sang istri, tak ada pilihan lain selain ini.
Setelah menyuguhkan menu pagi untuk sang suami yang masih menghadap laptop untuk memeriksa pekerjaan, Mentari kembali ke dapur untuk membantu bu Titi sekaligus mengobati rasa rindu dengan dapur ini.
''Ibu sejak kapan bekerja disini?'' tanya Mentari sembari memotong-motong sayuran.
''Untuk menetap disini sebenarnya belum ada sebulan, Non. Dulu, hanya di tugaskan untuk bersih-bersih saja dan tidak setiap hari, ya ... seminggu tiga kali ada kayaknya.'' jawab bu Titi.
Mentari mengangguk.
''Memangnya Ibu asli orang sini ya?''
''Iya, Non. Saya tinggal di daerah dekat pasar, tuan Jimmy yang membawa saya kesini. Saya juga tidak tau beliau tau saya dari siapa dan dari mana.''
Mentari mengangguk-angguk lagi.
''Oh ya, kalau boleh tanya, anak?'' tanya Mentari sedikit ragu.
''Anak saya ada 3, Non. Semuanya sudah menikah di luar daerah semua. Soalnya tadinya kan merantau, jadinya dapat orang jauh-jauh. Dua anak saya yang pertama dan kedua merantau di Sulawesi, yang bungsu merantau ke Kalimantan. Ya, gimana ya Non ... sudah jodohnya dapat orang jauh, jadi jarang ketemu.'' terang bu Titi terlihat raut wajahnya berubah menjadi sedih.
''Eh, maaf, Non ... saya malah jadi curhat.'' sambung bu Titi.
Mentari tersenyum.
''Tidak apa-apa, Bu. Tapi, komunikasi lancar kan?'' tanya Mentari.
Bu Titi terlihat sedih lagi.
''Maaf Bu, saya tidak bermaksud lancang.'' ucap Mentari merasa bersalah.
''Tidak apa-apa kok, Non. Anak saya masih suka nelpon meskipun satu bulan sekali.'' jawab bu Titi.
Mentari langsung bergeser lebih dekat dengan bu Titi, ia mengusap lengan wanita paruh baya itu.
''Yang penting Ibu dan bapak disini jaga kesehatan terus ya.''
''Terima kasih, Non.'' ucap bu Titi.
Mentari mencuci sayuran yang sudah selesai ia potong-potong itu. Sedangkan bu Titi yang melanjutkan untuk di olah.
Bahan-bahan masakan sudah siap tinggal di olah, Mentari meninggalkan dapur tersebut ke kamar karena sudah tidak ada yang bisa ia bantu. Semua tidak diizinkan oleh bu Titi. Wanita itu justru menyuruh Mentari agar cepat mandi saja, nanti akan di panggil jika menu sarapan sudah siap.
''Belum mandi, Mas?''
Mentari langsung masuk ke dalam dekapan Edgar yang sudah merentangkan kedua tangannya itu.
''Mandi bareng yuk.'' ajak Edgar lalu mengedipkan matanya berkali-kali.
''Hitung-hitung reka ulang malam pertama kita waktu itu.'' ujar Edgar lagi lalu menciiumi punggung Mentari.
Mentari tertawa geli.
__ADS_1
''Gimana mau malam pertama seperti pasangan pengantin pada umumnya, orang nikah aja masih nggak percaya itu serius apa bohongan.'' ujar Mentari.
''Tapi, sekarang percaya 'kan?'' balas Edgar.
Mentari mengangguk lalu menciium bibir sang suami.
''Mau tidak percaya, tapi, hasil karyanya sudah ada disini. So, percaya aja deh.'' tunjuk Mentari pada perutnya sendiri.
Edgar mengikuti tatapan mata Mentari yang tertuju di perut.
Setelah mengusap-usap lembut perut Mentari, Edgar langsung membopong tubuh sang istri dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Kamar mandi itu tidak seluas di rumahnya. Malah terkesan sempit untuk kebiasaan Edgar. Tapi, hal seperti ini tidak akan di permasalahkan, yang terpenting di dalamnya ada fasilitas lengkap.
Tidak berlama-lama di dalam sana, cukup untuk membersihkan badan sewajarnya tanpa adegan tambahan yang biasanya Edgar lakukan.
Hari ini tidak akan kemana-mana, Edgar dan Mentari memakai baju harian. Edgar mengenakan stelan kaos polos dan celana pendek, sedangkan Mentari mengenakan pakaian terusan selutut dengan bahan yang sangat nyaman untuk ibu hamil. Selain nyaman, Edgar juga sudah memberikan larang pada sang istri untuk memakai celana. Kecuali dengan bahan yang memang cocok untuk ibu hamil.
Menu sarapan pagi ini sudah tersaji di meja makan. Keduanya langsung menikmati sarapan pagi ini ala bu Titi.
Halaman rumah Mentari benar-benar seperti hendak menggelar hajatan. Pak Ramlan terlihat sibuk, apalagi acaranya semakin dekat, yaitu nanti malam.
Anak-anak di lingkungan rumah Mentari terlihat tidak rikuh bermain di bawah tenda. Mereka menumpuk kursi-kursi sampai tinggi, himbauan dari pak Ramlan seakan tidak dipedulikannya.
''Hey ... apa yang kalian lakukan?'' seru Edgar ketika baru keluar dari rumah. Ia berdiri tegap di teras.
Anak-anak tersebut langsung menciut, mereka berkumpul jadi satu dengan kepala menunduk dalam.
Edgar pun melangkah maju, diikuti oleh Mentari yang baru saja menyusul keluar dari rumahnya untuk melihat persiapan.
''Tidak boleh mainan seperti ini ya, karena kalau jatuh nanti kalian sendiri yang rugi. Lihatlah kursi ini menjadi sangat tinggi. Tolong di dengarkan kalau ada yang menasehati ya.'' ujar Edgar memberi pesan pada anak-anak itu dengan suara yang rendah.
''Boleh bermain disini, tapi, jangan yang membahayakan ya.'' timpal Mentari.
''Iya Kak Dira, kami minta maaf.''
Edgar langsung menarik nafasnya dalam-dalam. Mungkin hal ini pemandangan yang tidak biasa baginya. Tapi, keberadaannya disini hari ini bisa semakin menambah pengetahuan akan warna warni kehidupan yang selalu berbeda-beda dan wajib ia pelajari. Karena hidup tak melulu tentang si kaya, ataupun si miskin, atau juga si menengah.
''Iya, minta maaf juga sama pak Ramlan, ya.'' pinta Mentari.
''Jangan di ulangi ya.''
''Iya Paaakk.'' jawab mereka bersamaan lagi.
Mentari tersenyum. Edgar pun memandangi wajah Mentari yang tersenyum menjadi ikut tersenyum.
''Takdir tidak akan pernah salah.'' gumamnya dalam hati.
Anak-anak itu berusia sekitar 8 sampai 10 tahun. Mereka sudah tumbuh di daerah ini. Mereka juga sudah saling mengenali, begitu juga dengan Mentari. Meskipun sudah beberapa bulan ini tidak bertemu, mereka masih saling mengingat.
Sejak kemarin anak-anak disana sudah senang ketika melihat mobil berhenti di tepi jalan raya dan para kulinya mengangkut perlengkapan tenda dengan sepeda motor menuju ke rumah Mentari.
''Siapa yang mau di belikan cilok?'' seru Mentari ketika mendengar suara pedagang keliling yang dari suaranya ia masih ingat itu penjual cilok dan batagor.
Mereka pun mengangguk semangat, semua saling mengacungkan jari telunjuknya paling tinggi.
''Oke, oke, semuanya dapat.''
''Panggil abangnya ya.'' pinta Mentari.
Salah satu anak itu langsung berteriak dengan suara lantangnya memanggil Abang cilok.
Pedagang cilok yang menggunakan sepeda motor itu langsung berhenti. Dan masuk ke halaman rumah Mentari. Anak-anak pun langsung menyerbu.
Edgar tidak berbicara apapun, ia hanya memperhatikan setiap sikap sang istri sekaligus mengawalnya.
''Bentar ya, Bang.'' ujar Mentari pada pedagang itu.
''Iya Teh.'' jawabnya dengan sopan.
Edgar langsung memberikan tatapan tajam pada pria itu. Sehingga membuatnya menunduk karena takut. Meskipun ia tidak melakukan kesalahan apapun.
__ADS_1
Mentari yang menyadari hal itu langsung melirik pada suaminya.
''Ehm, berapa total semua ini kalau terjual habis?'' tanya Edgar.
''Kurang lebih sekitar 550 ribu sampai 600 ribuan, Tuan. Kebetulan bikinnya sedikit.'' jawab pria muda itu.
Edgar langsung merogoh saku celananya untuk mengambil dompet.
''Saya bayarkan jajan mereka, jika ini lebih, bisa buat tambahan modal.'' Edgar menyerahkan lembaran merah 10 pada pria itu.
Pria muda itu sedikit ragu, tetapi menerimanya.
''Terima kasih, Tuan. Terima kasih banyak.'' jawabnya.
Edgar mengangguk.
''Bungkuskan untuk adik-adik ini berapa pun mereka minta, dan juga mereka.'' pinta Edgar.
''Baik Tuan.''
Anak-anak tersebut langsung saling memesan, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk di bungkus juga dan bawa pulang karena memiliki adik, ada yang ingin membawakan untuk kakak ataupun orangtuanya.
Senyum dan tawa tulus dari anak-anak itu membuat Edgar ikut tersenyum. Mentari juga memanggil pak Ramlan dan bu Titi, serta beberapa orang disana yang masih berberes untuk menikmati cilok dan batagor itu.
Anak-anak yang sudah di dahulukan langsung berlarian pulang ke rumah masing-masing setelah mengucapkan terima kasih.
Pedagang tersebut tampak sumringah mendapatkan pembuka rezeki pagi ini.
''Mas, aku boleh makan juga nggak?'' tanya Mentari lirih. Sedari tadi air liurnya terasa ingin menetes melihat bumbu kacang itu.
''Sedikit saja.'' jawab Edgar.
''Bungkuskan satu cilok untuk istri saya.'' pinta Edgar.
''Baik Tuan.'' jawab pria itu.
Dengan tangan sedikit gemetar, pria itu menusuk-nusuk cilok dengan garpu dan di masukkan ke dalam plastik bening. Tidak lupa bumbu kacang yang membuat Mentari tergoda sejak tadi.
''Ini Teh.'' ujar pria itu.
Edgar lebih dulu menerimanya sebelum tangan Mentari bergerak.
''Terima kasih.'' ucap Mentari.
''Di dalam saja yuk, nanti minumnya kejauhan.'' ajak Edgar.
Edgar dan Mentari langsung izin masuk ke dalam. Mentari duduk di kursi dapur, sementara Edgar mengambilkan air mineral kemasan untuk sang istri.
''Enak loh Mas.'' ucap Mentari.
Bukan kali pertama Mentari membeli cilok ini. Karena penjual cilok itu sudah langganan keliling di daerah sini sehingga sudah saling paham.
''Mas sih?'' balas Edgar.
Mentari langsung menyodorkan tangannya untuk memberikan suapan.
''Kamu harus cobain, ini enak.'' rayu Mentari.
''Maaf Tuan, Nona ...''
Edgar yang sudah membuka mulutnya kembali tertutup karena mendengar suara seseorang. Mentari juga menarik tangannya.
''Ada apa, Bu?''
''Ada tamu di depan.'' jawab bu Titi.
Mentari dan Edgar saling menatap dan keduanya sama mengangkat kedua bahunya.
''Siapa?'' tanya Edgar dan Mentari bersamaan.
''Hehe, saya juga tidak paham, tamunya perempuan, Non.'' jawab bu Titi.
__ADS_1
''Ya sudah sebentar lagi kami ke depan.'' ujar Mentari.
''Baik Non.''