
Mentari membuka mata secara perlahan, ia mengerjapkan berkali-kali. Seperti ada yang berat menindih perutnya.
Meskipun hanya cahaya remang, Mentari masih bisa melihat. Tangan kekar itu berasal dari belakangnya, karena didepannya tidak ada siapa-siapa. Mentari berbalik dengan sangat hati-hati.
''Oohhh my God.. apa yang terjadi semalam?'' batin Mentari saat melihat Edgar. Bayangannya kembali pada waktu malam hari, seingatnya mereka tidak melakukan apa-apa, dan seharusnya sekarang masih di sofa, bukan diranjang, apalagi pelukan seperti ini.
''Jangan-jangan aku diperkosa!'' Mentari terbelalak sendiri.
''Huuhhh masih utuh.'' batin Mentari lega saat melihat pakaiannya yang masih lengkap menempel ditubuhnya.
Mentari memperhatikan detail wajah Edgar yang masih tertidur, ia juga tidak melepaskan tangan Edgar yang masih memeluknya. Ntah lupa atau merasakan kenyamanan disini.
''Tuan, anda itu tampan, baik juga, tapi, kenapa suka nyebelin? nggak konsisten, plin-plan, saya bingung harus bagaimana.. huffftt.'' gerutu Mentari lirih.
Mentari berganti menghadap ke atas, menyadari masih ada yang melingkar diperutnya, ia pun pelan-pelan mengangkat tangan itu. Namun, bukannya terangkat, tangan kekar itu justru semakin erat dan merapatkan pelukannya.
''Eh eh!''
''Tuan!'' pekik Mentari terkejut karena Edgar mempererat ke dalam pelukannya.
Melihat bola mata melotot, Edgar hanya menyunggingkan senyumnya. Sedari tadi ia sudah terbangun saat Mentari awal bergerak. Ia hanya sedang berpura-pura tidur untuk menantikan apa yang akan dilakukan istrinya itu, dan benar saja, terdengar Mentari mengeluarkan uneg-unegnya.
''Lepas, Tuan! saya mau bangun.'' pinta Mentari.
''Mau ngapain hem? masih gelap.'' jawab Edgar dengan suara serak khas bangun tidur tanpa mau melepaskan pelukannya.
''Iihhh nyebelin!'' pekik Mentari karena belum berhasil melepaskan tangan Edgar.
Edgar tersenyum mendengarnya, bukannya melepaskan tangannya, malah semakin mempererat dan menutupkan selimut lagi.
''Iya aku memang nyebelin, nggak konsisten, plin-plan, tapi, baik dan tentunya juga tampan.'' balas Edgar dengan senyuman yang tertahan.
Mentari terbelalak tak percaya jika uneg-unegnya didengar oleh orangnya langsung.
__ADS_1
''Tuan tadi mendengar saya?!''
''Ini telinga di pakai untuk mendengarkan.'' jawab Edgar santai.
Antara malu dan juga kesal, Mentari hanya bisa menghembuskan nafasnya keatas.
Edgar tidak ingin menegurnya dan membiarkan Mentari diam, ia lebih memilih menikmati momen yang membuatnya terasa nyaman ini.
°°
Hujan deras yang turun semalam sudah reda, menyisakan air-air yang menetes pada daun-daun.
Edgar melakukan olahraga ringan di sisi kolam renang, sementara Mentari baru saja menyusul untuk mengantarkan minuman.
''Tuan, ini minumnya.'' ucap Mentari meletakkan minuman tersebut diatas meja.
Edgar langsung menghentikan aktivitasnya setelah mendengar suara Mentari, ia menghampiri istrinya.
''Terimakasih..'' ucap Edgar dan direspon senyuman Mentari.
''Hem?''
''Jam berapa kita kembali ke rumah? nanti mami khawatir, besok Tuan juga sudah bekerja lagi kan..'' ujar Mentari.
Edgar meletakkan kembali gelas tersebut ke meja.
''Mereka sudah tau, dan kita bukan anak kecil lagi yang harus dikhawatirkan jika pergi berdua. Justru mereka sangat senang kalau aku meluangkan waktu seperti ini. Kita pulang besok pagi, dan kita langsung ke kantor dari sini.'' jawab Edgar.
''Hah besok pagi?!''
Edgar mengangguk.
''Saya tidak bawa apa-apa Tuan, saya akan seperti gembel dikantor jika dengan penampilan seperti ini.'' ucap Mentari cemas, ia merasa minder jika harus berada di sisi Edgar untuk pertama kalinya, apalagi tanpa polesan sedikitpun karena tidak membawanya kesini.
__ADS_1
''Tidak perlu khawatir.'' balas Edgar santai.
''Nggak pengen berenang?'' tanya Edgar mengalihkan kekhawatiran diwajah Mentari.
''Hemm kepengen sih..'' balas Mentari lirih.
''Gimana kalau kita lomba adu cepat sampai ujung?'' cetus Edgar.
''Ayok! siapa takut!'' jawab Mentari semangat, ia langsung beranjak dari duduknya.
''OKE!''
Keduanya sama-sama sedang mempersiapkan diri untuk adu kecepatan dalam berenang. Mentari melakukan pemanasan sebentar agar otot-ototnya tidak kaku.
Edgar melihat hal itu hanya bisa menelan salivanya. Leher Mentari yang mulus terpampang nyata karena rambutnya dikuncir kuda.
''Heh mau ngapain?!'' protes Edgar melihat Mentari dari belakang.
''Tuan jangan ngintip!!'' seru Mentari.
''Iya, iya.'' jawab Edgar.
Mentari yang mengenakan kaos oblong dan celana pendek kolor milik Edgar itu harus mengencangkannya lagi untuk menjaga-jaga supaya tidak tiba-tiba terlepas. Di lemari hanya disediakan dress sebetis dan saringan tahu untuknya, tidak mungkin ia akan mengenakan dress itu untuk berenang, apalagi saringan tahu.
''Sudah.'' ujar Mentari.
''Kenapa Tuan lepas baju?'' protes Mentari ganti.
''Mau renang, bukan kerja.'' jawab Edgar.
Mentari merinding sendiri melihat roti sobek diperut Edgar, ia bersusah payah menelan salivanya.
''Mau lepas baju juga?'' goda Edgar.
__ADS_1
''NGGAK!'' seru Mentari.
Mentari langsung bergeser sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sementara Edgar hanya terkekeh kecil melihat ekspresi Mentari.