
Tangan Mentari sangat lihai saat menggunakan peralatan dapur. Dari pekerjaan satu ke pekerjaan lain bisa ia kerjakan dalam waktu yang sama. Begitulah seorang ibu rumah tangga, bukan pekerjaan yang mudah dan tanpa dirasa lelahnya. Semua itu karena pengabdian.
''Sudah selesai ngupas buahnya?'' tanya Mentari dengan kedua mata masih menghadap kompor yang ada di depannya.
''Belum.'' jawab Edgar sambil mencuci tangan.
Ekor mata Mentari melirik ke meja untuk memastikan jawaban Edgar yang ia rasa sedang becanda, karena tidak masuk akal jika belum selesai. Sedangkan Mentari sudah selesai menyiapkan bahan-bahan dan tinggal di masak. Benar saja, disana sudah tersusun rapi hasil karya Edgar.
Mentari langsung beralih menatap suaminya yang sudah berdiri disampingnya, bermaksud ingin melakukan protes. Edgar hanya senyum-senyum menghadap dirinya.
''Bohong..'' protes Mentari.
''Nggak bohong kok.'' balas Edgar santai. Ia menyandarkan pinggangnya disamping kompor sembari menyaksikan Mentari yang sedang sibuk dengan masakannya.
''Itu sudah selesai.'' balas Mentari.
''Ngupas bungkus buah itu yang belum.'' goda Edgar dengan mata menuju pada dada sang istri.
Mentari langsung terbelalak.
''Jangan lihatin terus Mas, nanti keasinan..'' protes Mentari.
''Nggak papa keasinan, bakal tetap ku makan kok.''
Duuhhh gombal sekali kamu Maaasss...
Begitu kira-kira dalam hati Mentari.
__ADS_1
Bumbu-bumbu yang sedang ditumis oleh Mentari sudah mulai mengeluarkan aromanya yang harum. Mentari segera memasukkan bahan utama, tak banyak yang ia olah, karena hanya untuk makan malam berdua.
Edgar selalu memperhatikan setiap tangan Mentari yang cekatan. Bibirnya tak henti-hentinya mengulum senyum, meskipun senyumnya itu membuat sang istri gugup.
Mentari sudah menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha melupakan jika Edgar sedang tidak ada didekatnya, agar kadar gugupnya berkurang dan hasil olahannya berhasil lezat, dan juga tidak salah memasukkan antara kaldu bubuk dan garam.
Tidak perlu lama, olahan pertama Mentari sudah selesai, ia langsung mengambil sebuah wadah. Sekarang ia memastikan bumbu pada udangnya sudah meresap, sehingga siap untuk di goreng.
Namun, karena waktu sudah semakin gelap dan Mentari sudah mengeluarkan keringat, akhirnya ia memutuskan untuk mandi dulu.
Buah yang sudah rapi dan udang yang sudah siap digoreng pun dimasukkan kedalam lemari pendingin terlebih dahulu.
''Emmhh Mas!'' lenguh Mentari spontan.
Dengan senyuman dibibirnya yang mengembang, Edgar menelusupkan wajahnya ditengkuk Mentari. Sedangkan tangannya bergerilya di tubuh bagian depan Mentari, sehingga membuat pemiliknya spontan mengeluarkan suara karena Edgar secara tiba-tiba meremas itu. Namun, justru suara itulah yang ditunggu oleh Edgar.
''Lepas Mas, aku beresin ini dulu..''
Bukannya segera melepaskan diri, Edgar malah terus menempel dari belakang dan mengikuti langkah Mentari yang kesana kemari, sehingga membuat langkah Mentari semakin terasa berat.
Mentari seperti menggendong seorang bayi, tapi, kali ini bayinya bisa membuat bayi. Dan bayinya ini jauh lebih besar dari yang menggendong.
Setelah selesai beberes, dan Edgar mau melepaskan tangannya, Mentari langsung membersihkan badannya yang sudah tercium aroma yang campur-campur.
°°
''Biarkan aku yang menggoreng.'' ujar Edgar menawarkan diri.
__ADS_1
''Kenapa?'' tanya Mentari.
''Kamu duduk aja, gantian aku yang bekerja.''
Cup
Edgar mengatakan dengan yakin, lalu memberikan kecupan manis di kening Mentari sebelum memulai aktivitasnya.
Mentari tidak membantah, ia nurut sambil gantian memperhatikan suaminya yang sedang mengendalikan peralatan dapur. Sama halnya dengan Edgar tadi, ia juga mengembangkan senyumnya melihat Edgar berdiri didepan kompor.
''Taraaaaa.. sudah jadi.'' ucap Edgar dengan bangga karena hasilnya menggoreng sangat sempurna.
''Yeyyy..''
Mentari bertepuk tangan menyambut kedatangan udang goreng yang disuguhkan oleh Edgar.
''Wahhh harum sekali..''
Edgar juga menyiapkan lainnya, lalu siap menyantap menu makan malam ini berdua tanpa siapapun.
Nasi, tumis, dan udang goreng sudah tersaji di atas meja. Mentari dan Edgar sudah tidak sabar untuk segera menyicipinya.
''Untuk suamiku, silahkan dicoba..''
''Tapi, kalau rasanya tidak enak, jangan marah ya..'' sambung Mentari.
Edgar menerima piring yang sudah diisi oleh Mentari dengan mengulum senyum dibibirnya.
__ADS_1
''Terimakasih istriku, aku yakin rasanya pasti sangat lezat..''