
Para asisten rumah tangga belum mulai memasak lagi. Justru sekarang, dapur sedang di kuasai oleh mami. Yang lain hanya bantu-bantu saja. Dan yang lain lagi sedang melakukan pekerjaan lainnya, seperti bersih-bersih, mencuci pakaian, dan juga menyetrika.
Tangan wanita paruh baya itu begitu cekatan dalam membuat takaran bahan-bahan yang diperlukan. Mentari menatap kagum pada ibu mertuanya itu.
Membuat kue yang tidak sedikit, ternyata membuat Mentari sedikit pusing dengan aroma yang keluar dari telur. Perutnya juga sudah mulai bergejolak serasa ingin mengeluarkan isinya. Beberapa kali ia memejamkan matanya kuat-kuat supaya rasa pusingnya dapat berkurang.
''Kak Mentari pusing ya?'' tanya Erin khawatir.
Secara tidak sengaja, gadis itu melihat kakak iparnya tengah memejamkan kedua matanya cukup lama dengan tangan yang berhenti bergerak.
Pertanyaan dari Erin langsung membuat yang berada disana menoleh ke arah Mentari untuk memastikan.
''Are you okay?'' tanya mami langsung bergeser mendekati menantunya itu dengan tatapan khawatir.
''A, saya baik-baik saja kok, Mi.'' jawab Mentari masih berusaha untuk tersenyum.
Mami menarik nafasnya dalam-dalam karena tau menantunya itu tengah menahan apa yang dirasakannya.
''Mami tau kamu sedang tidak baik-baik saja, sayang. Istirahatlah, atau Mami panggilkan dokter?'' balas mami.
''Oh, tidak perlu, Mi. Saya hanya pusing dan sedikit mual karena aroma telur yang banyak.'' jelas Mentari jujur dengan menurunkan volume suaranya di akhir kalimat.
''Yakin?'' tanya mami lagi.
Mentari mengangguk tanpa ragu. '' Iya Mi.'' jawabnya.
''Kalau kamu tidak mau Mami panggilkan dokter, kamu harus nurut sama Mami buat istirahat saja. Biar Erin sama mbak-mbak saja yang bantuin Mami.''
''Iya Kak, kami yang tidak hamil saja aroma telur yang banyak bikin kita mual.'' timpal Erin.
Mentari menatap ibu mertuanya itu dengan tatapan tidak enak.
''It's okay.'' ujar mami.
Dengan terpaksa, Mentari pun menyudahi aktivitas membantu mami dengan perasaan yang tidak enak. Ia melepaskan celemek yang masih menempel ditubuhnya.
''Sebenarnya kegiatan ini sangat seru, tadi tidak terasa apa-apa. Lama-lama aroma telur yang sangat banyak, ternyata bikin mual dan kepala pusing.'' jelas Mentari.
Mami tersenyum tipis seraya mengusap lengan menantunya itu.
''Wanita hamil itu memang luar biasa, sayang. Untuk itu, wanita hamil perlu di kelilingi oleh orang-orang yang mengerti dan memahami. Istirahatlah, kamu harus selalu baik-baik saja.''
Dengan langkah yang sedikit berat, akhirnya Mentari menyudahi membantu mami membuat kue. Ia kembali ke kamarnya.
Begitu masuk ke kamarnya, Mentari langsung menuju ke kamar mandi, ia mencuci wajah dan juga kumur-kumur hingga berulang kali. Tak lama kemudian, ia memuntahkan isi perutnya yang hanya cairan.
''Telur meresahkan ..!'' gerutu Mentari sembari mengusap wajahnya dan mencuci mulutnya lagi.
Kantor cabang
Rita sudah kembali sehat dan ceria. Gadis itu semakin produktif dengan kegiatannya. Apalagi sekarang sudah memiliki usaha sendiri, meskipun masih tergolong sangat baru, setidaknya sudah membuatnya semakin berpikir positif untuk kedepannya.
''Rit, gimana? kamu benar-benar sudah sehat, 'kan?'' tanya Vika.
Rita tersenyum sedikit lebar.
''Sehat doong, Kak.'' jawab Rita dengan semangat.
''Buktinya aku nggak pernah izin.'' sambungnya.
Kedua gadis dewasa itu bersandar pada bangku. Rita dan Vika sama-sama diam, ntah apa yang sedang mereka pikirkan sembari menatap langit.
Tiba-tiba Vika terkekeh kecil, lalu menegakkan duduknya.
''Kamu baik-baik saja 'kan, Kak?'' pekik Rita khawatir karena takut Vika kesambet.
''Oh, aku baik-baik saja. Hanya lagi kepikiran kok kita ini awet banget ya jomblonya, haha.'' tutur Vika yang diikuti gelak tawanya.
Tanpa menjawab, Rita langsung menarik nafas panjang. Ucapan Vika semakin menyadarkan usianya yang semakin bertambah. Meskipun tidak ada tuntutan dari siapapun soal pasangan, dihatinya sendiri ia tidak bisa membohongi, Rita juga mengharapkan hadirnya seorang pasangan yang benar-benar baik.
__ADS_1
Namun, ia terakhir pacaran ketika masih awal-awal kuliah dulu. Semenjak sudah bekerja, ia lebih fokus pada kegiatan-kegiatan yang ia jalani. Dan berubah menjadi sosok pengagum pria tampan yang ia temui tanpa memiliki kekasih. Ya, walaupun kalau diingat-ingat, menjadi pengagum pria tampan ternyata memang sudah sejak dulu.
Dan menjadi pengagum yang ia rasakan juga bisa berhenti dengan sendirinya ketika berjumpa dengan Jimmy. Mungkin Rita bisa menyimpulkan bahwa itu perasaan suka, tetapi ia juga harus sadar diri dan segera mengubur dalam-dalam perasaan itu.
''Woy lah malah ngelamun, jangan sampai kamu yang kerasukan setan, Rit.'' ujar Vika dengan raut wajah seriusnya.
''Haha, setan aja takut sama aku, Kak. Soalnya mukaku tampak lebih seram.'' jawab Rita lalu tertawa.
''Dih! jangan terlalu jujur.'' protes Vika ikut tertawa.
Kedua gadis itu kembali sama-sama terdiam. Kali ini menunduk, menatap rumput yang mereka pijak. Seakan-akan rumput itu memberikan gambaran tentang masa depan yang belum jelas arahnya kemana.
''Aku nggak mau jadi perawan tua, Kak!'' suara Rita tiba-tiba memecahkan keheningan mereka. Vika pun sampai kaget dengan suara itu.
Vika menempelkan telapak tangannya di kening Rita dan memastikan temannya itu berada dalam kondisi yang waras.
''Nggak panas tuh.'' gumam Vika terheran-heran.
Rita bersuara tanpa sadar, ia langsung menutup mulutnya setelah menyadari suaranya yang tidak pelan.
''Sorry.'' ucap Rita lirih sembari celingukan ke sekitarnya takut ada yang ikut mendengarkan.
''Hmm..,''
''Kalau kamu nggak mau jadi perawan tua. Lha dikiranya aku mau, gitu?'' protes Vika.
''Yaaahh, siapa tau aja, Kak, hihi.'' balas Rita lirih.
''Tapi, kita 'kan nggak boleh gegabah Kak. Lihat saja Mentari, selama aku kenal dia, dia nggak pernah riweuh soal pasangan. Bahkan dia terlihat begitu setia sama almarhum suaminya. Tapi, ternyata, tiba-tiba dia dinikahi sama laki-laki yang benar-benar mencintainya.'' tutur Rita sembari membayangkan sosok Mentari.
''Dan, yang harus kita sadari, kita bukanlah Mentari kalau kita mau punya pasangan seperti tuan Edgar, hahaha''
Rita dan Vika langsung kompak menertawai diri sendiri. Karena menyadari betapa bedanya mereka dan Mentari. Selain cara bersikap, nasib, dan takdir juga berbeda.
Kedua gadis itu menghabiskan sisa waktu istirahat di taman kantor. Setelah melihat jam di layar ponselnya, mereka kembali masuk ke ruang bekerjanya untuk kembali beraktivitas.
...
''Sayang ..!'' panggil Edgar sembari mengitari kamarnya yang tidak nampak keberadaan Mentari.
Hari ini Edgar kembali ke rumah lebih cepat. Setelah selesai meeting dengan salah satu perusahaan, ia ke kantor sebentar dan langsung pulang ke rumah saat jam pulang kantor masih tersisa sekitar tiga puluh menit lagi.
Mendengar suara sang suami, Mentari langsung berjalan untuk masuk ke dalam kamar.
''Kok sudah pulang, Mas?'' tanya Mentari sembari mengulurkan tangannya seperti biasa.
Edgar melirik tangan sang istri, rasa cemasnya membuat ia lupa bersalaman. Ia langsung menerima tangan sang istri dan membiarkan Mentari mencium punggung tangannya.
''Kata mami kamu tadi pusing sama mual?''
''Kamu sakit?''
''Aku panggilkan dokter untuk datang.''
Mentari tertawa kecil, membuat Edgar yang tengah panik langsung mengernyitkan keningnya.
''Kok malah ketawa?'' tanya Edgar heran.
''Mas, aku baik-baik saja. Tadi aku mual karena bantu mami bikin kue. Kan telurnya banyak banget tuh, kamu tau 'kan gimana aromanya?'' jelas Mentari.
Edgar mencoba untuk berpikir.
''Tadi sempat muntah sedikit, sekarang sudah nggak papa kok. Sama mami nggak dibolehin buat bantu-bantu lagi pas tau aku mual.''
Edgar langsung menarik nafasnya lega. Penjelasan Mentari sangat ia percayai.
''Kamu beneran nggak papa, 'kan?'' tanya Edgar lalu meraih bahu Mentari agar tenggelam di dadanya.
Edgar beralih menatap perut sang istri, lalu mengelusnya dengan penuh cinta.
__ADS_1
''Jangan buat aku khawatir, sayang. Aku tidak akan bisa hidup tenang kalau terjadi apa-apa sama kalian.'' ujar Edgar lalu memberikan kecupan manis di kening Mentari.
Mentari memejamkan kedua matanya, meresapi sikap manis yang diberikan oleh Edgar untuknya.
''Iya Mas, maafkan aku.'' ucap Mentari lirih.
Setelah berpelukan dengan posisi berdiri, Mentari meminta Edgar untuk segera mengganti pakaiannya. Edgar pun langsung nurut melepaskan pakaiannya, sementara Mentari mengambilkan pakaian ganti.
''Aw, Mas!'' pekik Mentari terkejut dengan pelukan Edgar dari belakang.
Edgar tidak menjawab, ia menempelkan dagunya di tengkuk Mentari sembari memberikan ciiuman.
''Mas.., ganti baju dulu.'' ujar Mentari.
Edgar langsung meraih kedua bahu Mentari dan membuat sang istri berputar untuk menghadapnya.
''Yuk.'' bisik Edgar dengan suaranya yang membuat Mentari bergidik.
''Masih sore, Mas.'' balas Mentari dengan suara lirih.
''Banyak telur bikin kamu mual, dua telur saja bikin kamu bahagia.'' bisik Edgar.
Mentari spontan tertawa kecil, ada-ada saja kelakuan suaminya itu.
''Mas, kamu sudah kayak tuyul pake kolor doang, hihi.'' protes Mentari lalu menutup mulutnya yang tengah tertawa kecil.
Menunggu jawaban iya membuat Edgar tidak sabar, ia langsung mengangkat tubuh Mentari.
''Mas Edgaarr!'' pekik Mentari yang sudah berhasil dibopong Edgar. Sedangkan Edgar merasa tidak bersalah.
''Mumpung cuma koloran.'' bisik Edgar sembari menurunkan tubuh Mentari ke atas ranjang dengan pelan.
Dress rumahan yang dikenakan oleh Mentari membuat Edgar semakin memanas. Edgar memulai pemanasan mesin sore ini.
Tok tok tok
''OH NO!!'' pekik Edgar dalam hati.
Kedua bibir mereka tengah menyatu, sementara satu tangan Edgar sedang menjelajahi satu pegunungan alami. Tiba-tiba suara ketukan pintu kamar menghentikan apa yang tengah mereka lakukan.
''Cepat buka pintunya!'' pekik Mentari dan reflek mendorong dada Edgar.
Edgar yang hanya mengenakan kolor itu langsung meringis sembari memegangi dadanya.
Mentari pun cepat-cepat merapikan rambut dan juga pakaiannya.
''Siapa sih ganggu aja!'' gerutu Edgar.
''Husstt! ayo cepat buka pintu sebelum di curigai.'' bisik Mentari.
Ceklek
Edgar membuka pintu kamarnya, di depan pintu tengah berdiri mami yang tersenyum.
''Ada apa, Mi?'' tanya Edgar. Mentari langsung menyenggol lengan suaminya itu.
''Maaf Mi, saya tidak ke bawah lagi.'' ucap Mentari.
''Oh, tidak apa-apa, sayang. Justru mami sangat khawatir. Gimana? apa masih mual?'' tanya mami.
''Nggak kok, Mi. Tadi sempat muntah air sedikit, sudah nggak papa sekarang.'' jawab Mentari.
Mami bernafas lega, lalu menatap penuh selidik pada putranya itu. Raut wajah Edgar membuat mami paham.
''Ya sudah, Mami mau mandi.'' ujar mami berpamitan.
Mentari mengangguk.
Dengan cepat, Edgar kembali menutup pintu kamarnya dengan gerutuan yang tidak jelas.
__ADS_1
''Dasar putraku, masih sore sudah tancap gas saja.'' bathin mami sembari menggeleng pelan.
Ekspresi wajah Edgar yang tengah menahan rasa kesal membuat mami paham. Apalagi melihat sesuatu yang sepertinya baru dibuat oleh Edgar di belakang telinga Mentari. Tadi, tanpa sengaja mami melihat sebuah tanda kepemilikan saat Mentari tengah menoleh.