
Setelah melakukan USG beberapa kali, bayi di dalam kandungan Mentari akhirnya terungkap berjenis kelamin perempuan dan laki-laki. Rasa bahagia seperti apa lagi yang tidak mereka syukuri. Mereka sangat bahagia sekali dengan apa yang telah diberikan-Nya.
Saat acara syukuran empat bulanan beberapa waktu yang lalu, acara digelar secara sederhana, keluarga Edgar dari luar negeri pun tidak datang karena memang sedang sangat sibuk disana.
Untuk kali ini, acara tujuh bulanan, mami datang sendiri karena Erin pun sudah mulai sibuk dengan aktivitasnya dan tidak ingin mengambil hari libur yang panjang.
Mami yang datang sendiri dijemput oleh Edgar dan Mentari di bandara.
''Sebentar lagi pesawatnya landing.'' ujar Edgar sembari melihat jam di pergelangan tangannya.
''Iya Mas.'' jawab Mentari.
Mereka duduk di bangku panjang, bersama para penjemput lainnya.
Edgar mengusap-usap perut Mentari dengan lembut sembari menanti calon oma yang sebentar lagi tiba.
Mentari yang sudah mulai merasa gerah pun menghidupkan kipas angin genggamnya.
''Sabar ya sayang.'' ucap Edgar merasa kasihan dengan sang istri.
''Tentu saja Mas.''
Di tengah-tengah mereka sedang berbincang, ponsel Mentari berdering. Dilihatnya nama mami tengah menghubunginya. Mentari pun segera menjawab panggilan telepon itu.
''Ohh, iya Mi, kami sudah di depan kok.'' jawab Mentari.
Tak lama kemudian, sambungan telepon itu sudah berhenti.
''Mami masih nunggu barang-barangnya, Mas.'' ujar Mentari.
''Ohh, iya sayang. Aku sudah minta bantuan sama petugas bandara untuk membawakan bawaan mami, katanya sih banyak. Nggak tau mami bawa apa aja.'' tutur Edgar.
''Nggak boleh ngeluh.'' protes Mentari.
Haha
Edgar tertawa kecil sembari menangkup kedua pipi Mentari dengan gemas. Beberapa orang disana yang menyaksikan hal itu pun langsung tertawa perasaan alias baper. Sekarang sudah banyak yang mengenali Edgar, mereka membungkukkan badannya saat melintas di depannya.
''Nak!'' seru mami yang bertepatan dengan Edgar dan Mentari baru beberapa langkah.
__ADS_1
Edgar dan Mentari langsung tersenyum lebar. Mami mempercepat langkahnya untuk segera memeluk putra putrinya itu. Karena sudah sangat merindukan keduanya.
''Gimana kabarnya, Mi? penerbangan lancar, 'kan?'' tanya Mentari setelah mereka mengurai pelukan.
''Seperti yang kalian lihat, Mami sangat sehat dan penerbangan lancar.'' jawab mami dengan raut wajah yang sumringah.
''Ah, cucu Mami.'' mami mengusap lembut perut menantunya itu. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa yang sangat bahagia.
''Permisi.'' ucap seseorang yang baru datang menghampiri mereka dengan mendorong troli.
''Ohh, ya, sebentar saya buka mobilnya.'' jawab Edgar.
Pria itu datang membawa barang-barang mami yang menggunung. Pria itu pun mengikuti langkah Edgar dan mendorong kuat troli yang tidak lepas dari genggamannya.
''Silahkan, Pak.'' ujar Edgar.
Pria itu pun mengangguk. Edgar juga membantu bapak itu untuk menyusun barang-barang bawaan mami yang banyak. Mami yang tengah fokus berbicara dengan menantunya pun langsung mengontrol susunan barang-barang tersebut agar tidak salah, karena ada yang berat.
''Terima kasih banyak ya Pak.'' ucap mami.
Pria itu mengangguk, mami menambahkan bonus untuk pria tersebut.
''Ayo langsung saja, Mi.'' ujar Edgar.
''Papi dan Erin benar-benar tidak bisa datang. Kami sangat sedih, tapi, mau gimana lagi.'' keluh mami yang sangat menyesali itu.
''Tidak apa-apa, Mi. Lagian nanti bisa datang kapan-kapan kalau saya sudah melahirkan.'' jawab Mentari.
''Iya sayang, terima kasih ya sudah mengerti.''
Mentari yang duduk di depan mengangguk dengan kepalanya menghadap ke belakang.
''Hahaha, rasain kamu, Jim! belum bisa ketemu lagi sama calon istrimu.'' bathin Edgar tertawa kecil.
''Mas, ngapain senyum-senyum sendiri?'' tegur Mentari.
''Ha? ohhh, biasalah sayang, lagi bayangin kita tadi malam.'' jawab Edgar.
''Maaasss!!''
__ADS_1
''Edgaarrr!!''
Seru Mentari dan mami secara bersamaan, sehingga membuat Edgar langsung tersadar kalau ada mami diantara mereka berdua.
''Ehhh, Mami ... becanda Mi, biar awet muda kayak Mami.''
Sementara Mentari sudah menahan rasa malunya, dan hanya bisa menatap mertua dengan nyengir.
''Dasar kalian ini ya.''
''Hati-hati kamu, Nak. Jangan di gaspol terus, kasihan istrimu perutnya semakin besar.'' peringatan untuk putra kebanggaannya itu.
''He'em, Mamii.'' jawab Edgar.
Mami mendengus kesal, lalu beralih menatap Mentari.
''Sayang, kamu benar-benar baik-baik saja, 'kan?'' tanya mami khawatir.
''Iya Mi, sehat kok.'' jawab Mentari yang sedikit ragu karena takut salah menjawab.
"Jangan berlebihan, Mi. Aku melakukannya dengan cara yang baik dan benar." ujar Edgar membela diri.
Mami langsung menggelengkan kepalanya mendengar penuturan sang anak, lalu menyandarkan punggungnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
(Buat yang bertanya tentang kuis, nanti yang kepilih dan belum follow, bisa saling follow dulu ya biar bisa kirim pesan🙏 kalian kirim nomornya lewat chat pribadi, bukan di kolom komentar, kita sama-sama menjaga privasi🥰)
Ingat, malam Minggu, 03/12/2022 pengumuman ya🙏 yang kemarin setuju ada kuis, hayuk pada ikutan, lumayan kan pulsa 20k hehe
Yang kemarin nggak komentar setuju dan ragu mau ikut karena takut nomornya ada oknum yang menyalahgunakan, jangan khawatir ya, semua boleh ikutan.. jangan ragu lagi❤️
Jawabannya di kolom komentar "PERSYARATAN KUIS-KUISAN CIMAI" 👍
...****************...
Sembari nunggu part selanjutnya, Cimai rekomendasikan lagi novel yang bagus banget. Wajib untuk masuk ke dalam daftar rak favorit kalian.
Yang menyukai romansa beda usia jauh, karya kak NITA P yang berjudul "DADDY IS MY HUSBAND'' ini wajib banget kalian baca🥰
__ADS_1
Terima kasih 🙏