
Hari terakhir berada di negara ini. Edgar dan Mentari akan melanjutkan perjalanan ke negara lain guna memanfaatkan waktu yang telah diberikan untuk masa bulan madu ini.
Rasanya masih enggan meninggalkan keluarga dari suami. Diperlakukan layaknya anak kandung, membuat Mentari merasa nyaman. Meskipun kegugupan masih kerap terasa. Penyesuaian diri masih terus diupayakan oleh Mentari untuk berada di keluarga Raymond.
''Kalian lanjutkan honeymoonnya, kita stay disini karena papi masih banyak pekerjaan, begitu juga dengan Erin, tugas kuliahnya sayang kalau harus ditinggal. Next time kita traveling bareng ya..'' ujar mami mengusap lembut bahu Mentari yang sedang berpamitan dengannya.
''Iya Mi, terimakasih banyak untuk waktu yang berharga ini. Bakal rindu..'' Mentari memeluk ibu mertuanya.
''Kita berpisah untuk sementara, sayang. Nikmati masa honeymoon kalian, goodluck.'' goda mami.
Mentari yang sudah mengurai pelukannya langsung tersipu.
Mentari sudah berpamitan dengan semuanya. Edgar berpamitan dengan adik satu-satunya yang selalu ia anggap masih anak kecil itu.
''Belajar yang rajin, jangan bikin kecewa dirimu sendiri. Jadilah perempuan yang berharga.'' ujar Edgar.
''Iya Kakaak..'' jawab Erin.
Edgar mengacak-acak rambut adiknya itu.
''Maafkan Kakak sudah buat kamu jengkel. Sebagai permintaan maaf, uang jajannya sudah di transfer, cek aja.'' ucap Edgar.
Erin langsung tersenyum lebar.
''Benarkah?'' tanyanya memastikan.
Edgar mengangguk.
''Sering-sering aja begini.'' ujar Erin lirih.
__ADS_1
''Thank you so much my lovely brother.''
Erin memeluk kakaknya seperti anak kecil yang tengah kegirangan ketika mendapatkan hadiah. Erin mencium pipi kanan dan kiri Edgar, perlakuan itu berhasil membuat Edgar merasa risih.
''Stop, Erin. Sudah..''
Tidak ada yang berniat mengganggu momen kakak beradik itu. Lebih baik menjadi penonton keseruan itu karena berhasil mengundang gelak tawa.
Erin yang sebelumnya terlihat masam, kini menjadi sumringah setelah memastikan saldonya naik drastis. Sedangkan Edgar mengusap kedua pipinya dengan kasar karena mendapat ciiuman mendadak dari sang adik yang membuatnya risih.
°°
Meninggalkan keluarga tercinta untuk kembali melanjutkan perjalanan ke negara lain.
Seperti turis asing pada umumnya yang sedang menikmati indahnya suatu tempat. Edgar dan Mentari berjalan beriringan menyusuri sisi jalan yang selalu menjadi tujuan para wisatawan itu.
Masih berada di benua biru, namun, berbeda negara dengan yang di tinggali oleh keluarga Edgar.
''Kebetulan aku lapar, Mas.'' jawab Mentari jujur dengan mengusap perutnya sendiri.
Tatapan Edgar mengikuti jemari sang istri yang masih mengusap di perut.
''Kita jalan kesana sebentar ya..''
Mentari mengangguk.
Berjalan dengan bergandengan tangan, benar-benar pasangan yang sangat serasi jika di pandang.
Edgar menghentikan langkahnya di depan salah satu stand yang ada disana. Menu andalan bagi perut-perut yang keroncongan yaitu fish and chips.
__ADS_1
"Eumm, kelihatannya lezat."
"Pastinya."
Edgar memesankan dua porsi untuk dirinya dan juga tentu saja sang istri tercinta.
''Seperti mimpi berada disini.'' ujar Mentari.
''Dream come true..'' balas Edgar.
''Kalau kamu benar-benar yakin terhadap suatu keinginan itu, pasti suatu saat nanti akan terkabul. Tapi, kalau ragu-ragu ya jangan harap.'' sambungnya.
''Kamu yang mewujudkan mimpi-mimpiku yang selama ini seperti tidak mungkin, terimakasih Mas.'' ucap Mentari.
Edgar memberikan kecupan tanpa ragu di kening sang istri. Tak ada ragu melakukan hal itu meskipun di depan umum.
Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang. Indera penciuman Mentari bisa menangkap bahwa makanan yang ada di depannya ini memiliki rasa yang lezat.
"Kamu pasti akan menyukainya, let's try." ucap Edgar.
Mentari mengangguk. Ia mencobanya terlebih dulu sebelum suaminya. Edgar menghadap Mentari dan menunggu sang istri merasakan dulu.
Potongan ikan itu memiliki tekstur rasa yang crispy diluar dan lembut di dalam.
Mentari mengangguk menyukainya, ia mengacungkan jempol di hadapan sang suami.
Edgar tersenyum senang.
__ADS_1
Lelah sesudah mengunjungi beberapa tempat yang menjadi andalan para wisatawan, Edgar menyudahinya dan memilih untuk mengistirahatkan tubuh mereka di hotel.