Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 58 : Seharusnya Aku


__ADS_3

''ULANG-ULANG!'' seru Edgar.


Semuanya langsung terdiam menatap Edgar.


''Ulang!'' seru Edgar lagi.


''Loh kenapa Kak? aku sudah berusaha sekuat tenagaku loh buat dapetin bunga ini.'' seru Erin memprotes kakaknya sembari menunjukkan lengannya.


Edgar masih tidak terima jika adiknya sendiri yang mendapatkan bunga ini. Ia langsung turun tangan merebut kembali bunga tersebut dari tangan Erin.


''Erin minggir, siapa yang nyuruh kamu ikutan?'' bisik Edgar dan langsung kembali bersama Mentari tanpa menunggu jawaban adiknya.


Erin yang kecewa dengan sikap kakaknya langsung pergi dari sekumpulan itu, ia terus menggerutu sampai di dekat maminya.


''Anak kebanggaan Mami tuh..'' sungut Erin dengan bibirnya sudah sudah bisa diikat.


''Ssttt.. kamu juga anak kebanggaan Mami kan?''


''Iya mungkin!'' jawab Erin kesal.


''Sudah-sudah, kakakmu belum rela melihat kamu dimiliki pria lain, tolong mengerti ya, jangan rusak acara ini, lihat tuh kakak iparmu jadi kasian melihat kalian..'' pinta mami agar kekesalan Erin mereda.


''Begitu terus.. demi kak Mentari nih..huh'' sungut Erin lagi lalu membuang nafasnya kasar.


Mentari terus memandangi adik iparnya dengan perasaan iba, ia menjadi tidak enak.


''Mas, kamu terlalu keras sama Erin, kasian..'' bisik Mentari.


''Jangan bahas Erin dulu..'' jawab Edgar.

__ADS_1


Akhirnya pelemparan bunga benar-benar kembali di ulang. Pembawa acara siap memandu kembali dan menghitung mundur.


''Siap-siap para bujangan dan para gadis, semoga yang mendapatkan bunganya akan menjadi pengantin berikutnya..'' seru pembawa acara tersebut semangat dan disambut kata "aamiin"


Tiga.. dua.. saaaaaaa-tu.. LEMPAR


HAP!


Edgar dan Mentari langsung berbalik badan untuk melihat siapa yang mendapatkan bunga itu.


''Jimmy?''


''Tuan Jimmy?''


Edgar dan Mentari saling menatap lalu ikut bertepuk tangan.


''Waahh selamat untuk penerima bunga, kita do'akan segera menemukan jodohnya..'' ucap pembawa acara.


Dari banyaknya tamu yang hadir dan bersalaman untuk mengucapkan selamat serta mengabadikan momen di pelaminan. Berikutnya hadir pria yang sangat dikenali oleh Edgar dan juga Mentari.


Baik Edgar maupun Mentari melihat kedatangan pria itu, keduanya pun saling menatap. Edgar langsung menegapkan bahunya lalu menarik pinggang Mentari agar semakin nempel dengannya.


Ardi, pria ini datang seorang diri, keluarganya sudah hadir lebih awal, sebenarnya ia juga dilibatkan dalam acara ini, tetapi karena sesuatu hal akhirnya dibatalkan.


Ardi melangkah dengan yakin, sesekali ia terlihat membenarkan jas yang ia kenakan dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


Sesampainya di pelaminan, Ardi terlebih dulu berhadapan dengan kedua orang tua Edgar.


''Selamat Om, Tante.. maaf saya baru datang.'' ucap Ardi.

__ADS_1


''Terimakasih Ardi..'' jawab tuan Erick.


''Semoga cepat nyusul ya..'' timpal mami seraya menepuk bahu Ardi.


''Aamiin, terimakasih Tante..''


Suasana canggung tercipta saat Ardi tiba dihadapan Edgar.


''Selamat atas pernikahan kalian.'' ucap Ardi sembari menatap Edgar lalu beralih ke Mentari.


Perasaan iri didalam hatinya ketika melihat wanita yang ia tunggu kesiapannya ternyata sudah dimiliki oleh orang lain, dan orang itu adalah sepupunya sendiri.


Mentari juga bisa melihat tatapan kesedihan itu, sehingga menjadikannya merasa bersalah, tetapi, ia juga tidak mencintai Ardi.


Edgar membalas jabatan tangan dari sepupunya itu.


''Terimakasih..'' jawab Edgar cepat. Ia yang melihat tatapan mata Ardi kepada istrinya sangat tidak rela.


Edgar pun langsung menggenggam erat tangan Mentari sehingga Mentari reflek melihat tangannya. Mentari langsung menyadari bahwa suaminya sedang merasakan sesuatu.


''Apa mas Edgar sudah tau?'' batin Mentari bertanya-tanya.


Ardi hanya sekilas bertemu dengan Mentari dan Edgar, ia langsung berlalu ntah kemana.


Di parkiran, Ardi sudah berada didalam mobilnya sembari memegangi benda bulat itu. Kini ia sedang merasakan sedih, kecewa, marah, bercampur menjadi satu di dalam hati dan pikirannya.


''Kenapa Dira? kenapa? kenapa harus Edgar? secepat itu kah kalian memutuskan untuk menikah?'' Ardi tersenyum getir.


''Kamu cantik, dan malam ini kamu sangat cantik, Dira.. seharusnya aku, aku yang menjadi pendampingmu, bukan duda itu.'' tutur Ardi yang menekankan setiap perkataannya.

__ADS_1


Ardi tertunduk lemas di kemudinya, ia sedang berpikir bagaimana caranya untuk menerima semua ini.


__ADS_2