
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Wajah Erin sedang di rias oleh seorang MUA di dalam kamarnya. Ia menatap cermin lebar di depannya dengan wajah yang menggambarkan senyum manisnya.
''Beautiful girl.'' puji MUA.
''Thank you.'' balas Erin.
Ia tampak sumringah atas kelulusan kuliah pertamanya ini. Karena tidak di pungkiri, Erin masih ingin terus mengejar ilmu-ilmu yang lebih tinggi dari bangku perkuliahan. Apalagi Erin ini termasuk anak yang gemar belajar. Sudah ia buktikan sendiri dengan meraih banyak prestasi. Hal yang sama juga diterima oleh Edgar. Kakak beradik itu benar-benar hasil dari pendidikan orang tua, serta orang-orang disekelilingnya
Namun, beberapa waktu ini, gadis itu di terima magang oleh sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fashion.
Bukan tanpa alasan dirinya tidak masuk ke dalam perusahaan ayahnya sendiri, hal itu sudah pernah keluarganya tawarkan, tetapi justru Erin menolaknya dengan alasan yang cukup masuk akal baginya. Erin ingin benar-benar menjadi seorang pekerja, tanpa embel-embel orang dalam, apalagi bekerja sebagai anak pemilik perusahaan.
Untuk bagaimana nantinya, ia hanya ingin menjalani kehidupan yang sekarang. Baginya, dengan cara inilah yang bisa menjadikan sebuah ajang pembuktian.
Awalnya tuan Erick dan nyonya Neeta melarang putrinya untuk bekerja di perusahaan lain, karena sejatinya kerja keras yang sudah dilakukan oleh kedua orangtua, tentu saja akan diteruskan kepada anak-anaknya.
Namun, ketika melihat kegigihan dan alasan yang diutarakan oleh Erin terdengar masuk akal, pasangan senior itu pun akhirnya melepaskan kemauan Erin, asalkan benar-benar serius menjalaninya.
Dengan bekerja di perusahaan lain akan membuatnya mengerti dan memahami bagaimana menjadi seorang bawahan, dan bagaimana cara kita menyikapi setiap sikap yang berbeda-beda dari rekan kerja. Bekal itu yang akan Erin bawa ketika dirinya nanti sudah diberikan kepercayaan untuk melanjutkan apa yang sudah dipersiapkan oleh kedua orangtuanya.
''Apakah sudah selesai?'' tanya mami menghampiri putrinya.
''Sudah, Mi.'' jawab Erin.
''Ya sudah kalau gitu, ayo kita jalan sekarang.'' ujar mami.
Ketiganya menggunakan pakaian dengan motif yang sama, yaitu batik. Untuk Erin perpaduan motif batik dan juga brukat, ia terlihat sangat cantik. Sejauh mana mereka berada, ciri khas yang indah ini tidak akan pernah ditinggalkan.
Tak lama kemudian, mereka tiba di lokasi tempat penyelenggaraan acara wisuda.
__ADS_1
''Aku bergabung dengan teman-temanku ya Pi, Mi.'' pamit Erin.
''Iya, sayang.''
Gadis itu langsung sedikit berlari menuju teman-temannya berada. Wajah-wajah dari mereka menggambarkan suasana sedih dan pastinya juga senang. Senang karena akhirnya lulus dan sedih karena mungkin akan banyak yang sulit berjumpa.
Erin terlihat akrab dengan teman-temannya yang berasal dari negara yang berbeda-beda. Banyak sekali wajah-wajah Asia disini, terutama dari Tiongkok, dan tentu saja paling banyak adalah dari beberapa negara benua biru. Dan beberapa juga datang jauh-jauh dari Indonesia untuk mendapatkan gelar sarjana disini.
''Selamat pagi, Tuan ... Nyonya.'' sapa seseorang.
Tuan Erick dan nyonya Neeta langsung menoleh karena merasa tak asing dengan suara itu.
''Pagi.'' jawab mereka bersamaan. Namun, ekspresi wajahnya langsung menunjukkan keterkejutan dengan kedatangan seseorang.
Seseorang untuk membungkukkan badannya untuk memberi salam hormat.
''JIMMY!?''
''Maaf sebelumnya, saya hadir disini atas perintah dari tuan Edgar karena beliau tidak bisa hadir.'' jelas Jimmy.
''Ouuhh ... begitu rupanya?'' balas mami.
Jimmy mengangguk.
''Lalu, sejak kapan kamu berada disini, Jim?'' tanya tuan Erick.
''Baru tadi malam saya tiba disini, Tuan.'' balas Jimmy.
Diwaktu yang sama, namun, berbeda jam. Mentari sedikit cemas dengan keberangkatan Jimmy ke luar negeri untuk memberikan kejutan.
__ADS_1
Sampai hari ini pun ia masih kepikiran apakah Jimmy sudah bertemu dengan mertuanya itu atau belum.
Tanpa adanya Jimmy, tentu saja Edgar memiliki kesibukan yang lebih banyak. Ia tidak mudah memberikan sebuah kepercayaan tentang pekerjaan. Sedangkan bersama Jimmy, ia sudah sangat mempercayai.
''Cepat pulang, Jiimm!!'' gerutu Edgar di ruangan kerjanya.
''Hidupku tanpa Jimmy, bagaikan tukang bangunan tanpa kuli, huh!''
Meskipun menggerutu, tetap saja Edgar bisa menghandle semua pekerjaan dengan baik. Satu jam lagi dirinya akan pergi meeting.
-
Tuan Erick, nyonya Neeta, dan Jimmy sedang berbincang-bincang, dari mulai pembahasan tentang kantor dan juga kabar menantunya yang sedang hamil.
''Apa ini rencana Edgar yang menyuruhmu untuk datang kemari, Jim?'' tanya tuan Erick.
''Sebetulnya yang mencetuskan ide ini adalah nona Mentari, Tuan.'' jawab Jimmy jujur.
''Menantuku? jadi semua ini idenya?'' tanya mami
''Benar, Nyonya.'' jawab Jimmy.
''Pantas saja Edgar mengizinkanmu hadir, Jim, haha''
Mereka pun terkekeh kecil.
Karena Jimmy tidak mudah mendapatkan izin dari Edgar. Selama ini banyak hal yang sudah Edgar percayakan pada Jimmy tentang apapun itu, apalagi disaat masa-masa terpuruknya.
''Benar, Tuan. Nona Mentari tetap ingin salah satu dari kakaknya ada yang datang. Karena mereka sudah memastikan tidak ada yang bisa, akhirnya ide itu muncul untuk mengusulkan saya yang mewakili mereka.'' jelas Jimmy.
__ADS_1
Tuan Erick dan nyonya Neeta mengangguk paham.
''Menantuku benar-benar tidak bisa melihat orang-orang tersayangnya bersedih. Mami jadi semakin bersyukur.'' ujar mami