Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 227 : Takut Dikiranya Kakak Bawa Selingkuhan


__ADS_3

Perasaan gadis itu semakin bahagia tatkala ia akan menikmati akhir pekan ini bersama dengan Edgar sang kakak. Sesuatu hal yang sudah lama tidak ia rasakan.


''Meskipun nanti ujung-ujungnya jadi obat nyamuk kak Edgar sama kak Mentari, ya nggak papa deh, no problem.'' gumam Erin.


Ia meyakini bahwa kepergiannya tidak mungkin hanya mereka berdua, tentu saja bersama dengan Mentari.


Seperti biasanya aktivitas pagi hari yaitu sarapan bersama keluarga, apalagi sekarang dengan formasi lengkap.


''Nanti jam 9 ya jalannya, Kakak mau olahraga dulu.'' ujar Edgar seusai sarapan.


''Oh, iya Kak.'' jawab Erin.


Mentari hanya tersenyum tipis di sebelah Edgar.


''Habis makan, lanjut buang lemak.'' ucap Edgar saat ia melangkah ke ruang olahraganya. Padahal yang di makannya pun hanya roti panggang.


''Nyindir ya?'' tuduh Mentari.


''Hahaha, tidak sayang.'' jawab Edgar langsung merengkuh pinggang sang istri dan memberikan ciiuman di keningnya.


Baru lima menit Edgar berolahraga, papi menyusul dan hendak ikut olahraga juga. Ada mami juga yang menyusul dibelakangnya. Karena semenjak kedatangannya ke Indonesia, ia belum sempat meluangkan waktu untuk olahraga disini.


Di saat dua pria itu tengah berolahraga, Mentari dan mami justru asik mengobrol.


-


Jam 08.50 WIB, baik Edgar maupun Erin, keduanya sama-sama sudah siap di kamar masing-masing. Keduanya menatap diri di depan cermin dengan pakaian yang santai dan pantas untuk menikmati akhir pekan seperti ini.


''Cakep banget kayak mau kencan sama pacar.'' canda Mentari.


''Masa harus pake baju koko sama sarung.'' balas Edgar sembari berbalik menghadap Mentari.


Mentari terkekeh karena ia juga yang sudah menyiapkan pakaian itu.


''Jadi kayak anak muda pakai baju ini, sayang.'' ujar Edgar sembari menatap dirinya sendiri.


''Memang masih muda, 'kan? gimana sih, Pak Edgaarr!''


Gantian Edgar yang terkekeh lalu menghujani ciiuman bertubi-tubi di wajah sang istri.


''Sudah-sudah buruan! nanti Erin nungguin.'' usir Mentari.


Di kamar yang berbeda, Erin langsung menyambar tas kecilnya itu lalu segera keluar dari kamar.


''Nanti kak Edgar sudah nunggu!'' gumamnya langsung cepat-cepat.


Disaat yang bersamaan, mereka muncul dari balik pintu secara bersama.


''Ayo!'' seru Edgar.


Erin langsung menutup pintu kamarnya dan mempercepat langkah untuk mendekat pada kedua kakaknya itu.


''Lho, Kak Mentari kok belum siap?'' tanya Erin saat memperhatikan pakaian sang kakak ipar yang hanya mengenakan dress rumahan.


''Kakak kan nggak ikut.'' jawab Mentari dengan santai.


''Lho! kenapa?'' tanya Erin menatap Edgar dan Mentari secara bergantian.


''Nggak papa, Kakak mau di rumah saja. Ya sudah buruan jalan, sudah jam 9 pas tuh.'' ujar Mentari.


Erin langsung nyengir menatap kedua kakaknya itu. Ia takut ini adalah saatnya sang kakak untuk memberikan amarah atau apapun itu. Pikirannya kini tak lain adalah segala dugaan yang negatif.


Namun, ia tidak membantah apalagi membatalkan ajakan kakaknya. Erin tetap mengikuti langkah Edgar.


Sementara itu Mentari kembali masuk ke dalam kamar, ia langsung menuju ke balkon dan ingin melihat kedua kakak beradik itu dari sana.


''Hal yang tak kalah membahagiakan adalah ketika melihat keakraban mereka.'' gumamnya dengan senyum yang yang tidak lepas dari bibirnya.

__ADS_1


Dari atas Mentari melihat Edgar yang mengajak adiknya itu untuk becanda singkat sebelum masuk ke dalam mobil. Tanpa disadari ia ikut tersenyum lagi.


Seperti tak ada suatu masalah. Edgar justru yang membuka obrolan bersama sang adik. Mulai dari proses kuliahnya hingga saat wisuda. Erin tampak sumringah atas sikap hangat dari kakaknya itu, tak terasa ia terbawa suasana hingga lupa dengan segala dugaan negatifnya pada sang kakak yang tadi ia pikirkan.


Di sepanjang perjalanan, mereka saling bertukar cerita. Erin pun tak segan mengeluarkan uneg-unegnya ketika masih awal-awal menjadi seorang mahasiswi. Tapi, ia masih belum bisa membuka pembahasan mengenai dirinya dan Jimmy.


Mendengar cerita dari adiknya itu membuat Edgar terhibur. Cara bicaranya juga tidak berubah jika berada di dalam keluarga, selalu seperti anak kecil.


''Masih saja anak kecil.'' bathinnya ingin tertawa, tapi, tak ia keluarkan. Ia sudah bisa menahan.


''Kamu mau kemana? hari ini sebagai hadiah wisuda kamu, Kakak mau nuruti semua keinginan kamu. Ini uangnya.'' tanya Edgar mengalihkan pembahasan, karena hari ini ia akan menuruti kemana pun Erin minta. Tak lupa sebuah dompet yang sudah berisi sejumlah uang itu ia serahkan pada sang adik.


''WOHOOO!! Kakak serius nggak bohongi aku??!'' pekik Erin sembari menerima dompet itu.


Edgar mengangguk.


''Emm, aku mau??''


Erin menggunakan jari telunjuknya untuk menopang dagu sembari berpikir kemana tempat yang cocok untuk ia datangi. Sesaat kemudian ia langsung tersenyum lebar, ia ingat dengan sesuatu.


''Sepertinya minum es lilin enak ya, Kak?''


''Good idea!'' jawab Edgar tanpa penolakan.


Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah taman. Disana Erin langsung keluar dari mobil dan langkah kakinya membawa gadis itu pada penjual es lilin pinggir jalan.


''Es lilin, Mang.'' pinta Erin.


"Berapa, Neng?" tanya mamang penjual es lilin.


"Dua aja, Mang." jawab Erin.


"Siaap."


Edgar mempercepat langkah kakinya untuk mengikuti Erin. Apalagi tempat itu sangat ramai. Laki-laki maupun perempuan sudah wara wiri. Seorang pria berdiri di sebelah Erin, sehingga tangan Edgar langsung menggeser sang adik untuk memberikan ruang agar dirinya yang menjadi penengah diantara mereka.


"Enaknyaaaa." ujar Erin yang raut wajahnya sangat bahagia.


Seperti mendapatkan harta karun, Erin sangat bahagia dengan hanya menemukan es lilin lagi setelah sekian lama. Sementara Edgar menatap adiknya itu seraya tersenyum.


"Kok es Kakak belum di minum?" tanya Erin.


"Oh, ini baru mau dibuka." jawab Edgar seraya melepaskan maskernya terlebih dahulu.


Sedari tadi ia memperhatikan sang adik, hingga lupa es lilin yang sudah berada di tangannya itu belum ia apa-apakan.


Erin mengedarkan pandangannya ke penjuru taman, ia melihat seorang penjual bakso beranak. Ia langsung kembali merasa lapar.


"Kak, apa boleh aku beli bakso itu?" tanya Erin dengan hati-hati.


"Belilah apa yang kamu mau." jawab Edgar.


"Serius?" pekik Erin lalu menutup mulutnya.


Edgar mengangguk.


"Pesan saja dan nanti minta diantar kesini." ujar Edgar.


"Okay." jawab Erin langsung beranjak dengan semangat 45.


"Kakak mau juga?" tanya Erin sebelum melanjutkan langkahnya.


"Nggak, Kakak baru olahraga.'' jawab Edgar.


"Oke deh.'' jawab Erin.


Edgar tidak terlalu banyak dalam mengkonsumsi makanan berat. Dan Erin pun sudah memahami hal itu sehingga ia tidak memaksa sang kakak.

__ADS_1


Erin langsung menuju penjual bakso yang belum ada pembelinya selama ia datang. Disana ada beberapa penjual dengan dagangan yang sama. Gadis itu langsung memesan satu porsi, tak lupa dengan satu gelas teh hangat dan juga air mineral tak luput dari pesanannya.


''Saya tunggu di bangku sana ya, Pak.'' ucap Erin pada pria itu dengan jari telunjuknya menunjuk pada bangku yang diduduki oleh Edgar.


Bapak penjual bakso itu mengikuti arah tunjuk dari Erin. Edgar terlihat sedikit menunduk karena sedang memainkan ponselnya.


''Bukankah itu tuan Edgar?'' tanyanya lirih sedikit ragu.


Erin langsung menurunkan tangannya yang sedang menunjuk dan kembali menghadap penjual itu.


''Bapak kenal dengan tuan Edgar?'' tanya Erin.


''Tentu saja, Neng. Saya tetangganya istrinya tuan Edgar.'' jawab bapak itu sembari meracik bakso ke mangkuk.


Sepertinya tidak ada yang mengenalinya, Erin hanya tersenyum tipis dan merasa beruntung.


''Saya tunggu disana ya, Pak. Ini uangnya.'' ujar Erin.


''Oh, iya baik, Neng. Kembaliannya sekalian nanti saya antarkan.'' jawab pria itu.


Erin mengangguk dan langsung bergegas meninggalkan bapak itu untuk kembali ke bangku taman bersama dengan Edgar.


Dalam hatinya ingin tertawa, bapak itu pasti mengira Edgar sedang jalan dengan wanita lain.


''Kenapa senyum-senyum sendiri?'' tanya Edgar heran.


"Nggak papa Kak, bapak penjualnya lucu.'' jawab Erin.


''Awas naksir.'' celetuk Edgar.


''Enak aja!'' protes Erin tidak terima karena dihatinya hanya kak Jimmy seorang.


Tak lama kemudian, bapak itu datang dengan nampan yang berisi semangkuk bakso dan segelas teh hangat, tak lupa saos, kecap, dan sambal juga. Sedangkan air mineralnya sudah dibawa Erin tadi.


''Silahkan Neng.'' ucap bapak itu.


''Terima kasih.'' jawab Erin.


Pria itu menatap Edgar sekilas, ia takut. Saat Edgar membalas tatapannya, ia langsung membungkukkan badannya tanpa mengucapkan kata apapun.


''Eh, iya Neng, saya hampir lupa kembaliannya, ini.'' bapak itu merogoh saku kaosnya dan menyerahkan uang kembalian.


''Buat Bapak saja.'' jawab Erin dengan menolak kembalian itu.


''Tapi, ini masih banyak.'' ujar bapak itu kekeh.


''Nggak papa, Pak. Anggap saja rezeki.''


Bapak itu akhirnya menerima.


''Oh ya Pak, saya adiknya tuan Edgar.'' ujar Erin seketika membuat Edgar menoleh dengan dahi yang mengernyit.


''Oooooooo, iya-iya, maaf Neng, eh Nona.''


''Terima kasih sudah melarisi bakso saya, semoga suka ... permisi.'' ucap bapak itu menjadi gugup.


Erin mengangguk. Bapak itu langsung pergi, beberapa langkah kakinya hampir tersandung bata karena terburu-buru. Untung saja sigap menyeimbangkan dirinya sehingga tidak jatuh.


''Ada apa nama Kakak disebut-sebut?'' tanya Edgar lirih namun, penasaran.


''Nggak papa.'' jawab Erin.


''Tadi beliau mengenali Kakak, takut dikiranya Kakak bawa selingkuhan hihi.'' sambungnya.


''Dih!''


Erin terkekeh kecil sembari menuangkan saos dan kecap ke dalam mangkuk bakso itu.

__ADS_1


__ADS_2