Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 124 : Ngomong Sama Patung!


__ADS_3

Edgar mengajak Mentari ke ruangannya untuk beristirahat. Untuk kembali ke rumah rasanya masih terlalu lelah pikiran mereka.


Mentari hanya diam saja saat di ruangan sang suami.


''Sayang, aku minta maaf.'' ucap Edgar mengakui kesalahannya.


Melihat Edgar duduk di sebelahnya, Mentari spontan langsung geser memberikan jarak.


''Sayang, please.. aku tau aku salah karena sudah menuduh kamu. Seharusnya aku langsung bisa berpikir kalau itu nggak mungkin kebetulan. Apalagi kejadian itu di waktu yang bersamaan. Seharusnya aku bisa langsung menyadari.''


''Ayo dong sayang, jangan diam aja, aku bingung harus bagaimana.''


Mentari menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghadap ke Edgar.


''Mas! aku tuh lapar! dari pagi belum makan!'' sungut Mentari dengan bibir manyun.


''Hah?!''


Edgar dibuat menepuk keningnya sendiri.


''Kenapa belum makan, sayang?''


''Ya sudah kamu tunggu ya, aku pesankan dulu.''


''Aku mau makan nasi Padang yang biasanya aku beli bareng sama Rita!''


''Dimana itu?''


''Di X''


''Itu kejauhan, sayang. Cari yang cepat ya..'' usul Edgar.


''Aku pengennya yang biasa aku beli sama Rita, Mas! kok masih nggak ngerti sih!'' sungut Mentari.


''Yaudah iya, iya. Tapi, kamu bilang belum makan dari pagi. Kalau kelamaan kasian perutnya sayang.''


''Ishh!!''


''Oke, oke.. Iya, beli disana.''


Edgar harus mengalah demi kedamaian hati dan pikiran Mentari.


''Rita yang harus belikan, terus dia juga yang ngantar kesini.'' pinta Mentari.


Edgar mengernyitkan dahinya.


''Apa bedanya, sayang?''


''Pokoknya harus Rita! dia yang tau biasanya aku mau apa aja!'' tegas Mentari tak mau dibantah.


''Oke.. iya, Rita yang belikan dan antar kesini.'' Edgar harus pasrah mengingat dari Mentari masih dalam mode cemburu dengan Mychelle.

__ADS_1


''Terus apalagi, istriku?'' rayu Edgar.


''Dua porsi.''


''Siap..''


''Terus?''


''Buruan sekarang!''


''Siap laksanakan.''


Edgar merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, lalu mencari nomor Rita. Dan ia baru menyadari bahwa dirinya tidak menyimpan nomor Rita, karena baginya tidak penting.


''Sayaang..''


''Hmm''


''Aku tidak menyimpan nomor Rita, kamu aja ya yang nelpon dia.''


Bukannya segera menelepon temannya itu, Mentari justru memberikan ponselnya pada Edgar.


''Rita Nggak Pake Sugiarto''


Mentari menyebutkan nama kontak Rita di ponselnya.


Edgar langsung menerima ponsel Mentari tanpa berbicara apapun. Meskipun rasanya ingin tertawa mendengar sang istri menyebutkan nama temannya itu.


''Ya, hallo, dengan Rita nggak pake Sugiarto?''


Mentari melotot begitu mendengar sang suami menyebutkan nama itu kepada pemilik nama.


''.......''


''Istri saya mau makan nasi Padang yang biasanya kalian beli. Dan istri saya maunya kamu yang belikan dan kamu juga mengantar kesini. Dua porsi seperti biasanya, katanya cuma kamu yang tau. Saya tunggu secepatnya!''


Tuttttt


Tanpa menunggu jawaban dari Rita, Edgar langsung mematikan teleponnya. Sekarang beralih ke ponselnya sendiri.


''Dimana Jim?''


''......''


''Ke rumah makan Padang yang ada di X, nanti bawa Rita kesini. Dia lagi beli nasi Padang untuk istriku. Jangan mampir-mampir! istriku belum makan dari pagi!''


Rita yang tadinya sumringah karena nama Dira menghubunginya tiba-tiba berubah menjadi panas dingin setelah mendengar suara pria yang tak lain adalah bosnya sendiri.


''Bener-bener yak, ini pasti Bu bos lagi ngambek dan ngerjai pak bos.'' tebak Rita.


Rita pamit kepada temannya, karena mendadak mendapatkan perintah yang tidak bisa ia tunda. Ia pun langsung meluncur ke rumah makan Padang langganannya bersama Mentari.

__ADS_1


"Ngambek sih ngambek sama suaminya, tapi, saya juga yang terlibat. Hmmmm sabaar.." gumam Jimmy lalu memutar arah menuju lokasi rumah makan Padang yang disebutkan oleh Edgar.


Rita menyebutkan isian yang dipesan untuk Mentari. ''Dua porsi Pak, sama.'' ujar Rita.


Rita menunggu di kursi depan sembari menunggu pesanannya selesai di bungkus. Ia harus mengantri karena sudah ada beberapa pembeli sebelumnya yang datang dan sedang mengantri juga.


''Sudah selesai belum pesanannya?'' tanya Jimmy seketika mengejutkan Rita.


''Loh Tuan Jimmy?''


''Perintah dari tuan Edgar buat jemput kamu.'' ujar Jimmy.


''Ohh, masih antri, Tuan.''


''O..''


Jimmy ikut duduk, sesekali melirik jam di pergelangan tangannya.


Tak lama kemudian, pesanan Rita sudah selesai. Ia langsung mengambil dan membayarnya.


''Sudah Tuan.'' ujar Rita.


Jimmy langsung beranjak dari duduknya tanpa menjawab apapun.


''Ngomong sama patung!'' umpat Rita.


''Buruan masuk! jangan jadi patung!'' seru Jimmy.


''Iya Tuan.'' jawab Rita.


''Situ yang patung, enak aja ngatain diriku patung!'' umpat Rita dalam hati.


Rita hendak masuk ke dalam mobil, tetapi langsung mendapat pencegahan dari Jimmy.


''Kamu pikir saya supir taksi! depan!'' tunjuk Jimmy.


''Kali aja cosplay jadi supir taksi.'' gerutu Rita.


''EHM!!''


''Baik Tuan.''


Rita langsung masuk ke dalam mobil, ia tak ingin menunda-nunda waktu sebelum mendapat amarah dari bosnya.


Jimmy melihat layar ponselnya menyala, bibirnya membentuk sebuah senyuman. Sedangkan Rita yang berada di sebelahnya reflek ikut melirik ponsel Jimmy.


''Pacarnya ya, Tuan?'' ceplos Rita dan langsung menutup mulutnya.


''Jangan kepo!'' Jimmy langsung menutup ponselnya.


''Maaf.'' ucap Rita.

__ADS_1


__ADS_2