
Setelah seminggu berkeliling di benua biru, mengunjungi beberapa tempat yang namanya sudah terkenal di dunia, akhirnya Mentari dan Edgar kembali ke tanah air. Meninggalkan segala keindahan yang berada disana untuk kembali menatap keindahan yang tentunya ada di Indonesia.
Pesawat landing dengan sempurna. Edgar menuntun tangan sang istri untuk melangkah dengan hati-hati.
Cuaca sedikit mendung, Edgar dan Mentari mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam mobil. Semua barang-barang bawaannya sudah ada yang mengurus.
''Apa kita langsung ke rumah atau ada kegiatan lain, Tuan?'' tanya sang driver yang sedang bertugas itu.
''Langsung ke rumah, Pak. Kami akan istirahat dulu.'' jawab Edgar.
''Baik Tuan.'' balas sang driver dengan membungkukkan kepalanya sedikit.
Rumah utama Raymond
Para pekerja menyambut kedatangan Edgar dan Mentari yang sudah satu minggu ini tidak berada dirumah.
Mentari menyapa ramah pekerja wanita yang menyambutnya. Sedangkan sang suami menunduk sekilas dan tidak mau bertatapan lama dengan para pekerja wanita.
''Apa kabar kalian semua?'' tanya Mentari ramah.
''Kabar kami baik, Non.''
''Syukurlah.'' balas Mentari.
''Em, kami mau istirahat dulu ya, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian.'' ujar Mentari.
Semua mengangguk. '' Baik, Non.''
Sebelum kembali ke Indonesia, Edgar dan Mentari sudah berbelanja mengenai oleh-oleh yang akan diberikan kepada para pekerjanya yang berada di rumah. Mereka harus menambah dua buah koper besar lagi untuk mengangkut semua oleh-oleh tersebut.
Koper-koper tersebut sudah dibawa ke kamar oleh pekerjanya. Mentari tinggal mengecek ulang daftar nama-nama, khawatir ada yang tertinggal. Tak lupa juga, nama bu Maryam dan Rita masuk ke dalam list yang kebagian oleh-oleh.
__ADS_1
Edgar langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dalam posisi tengkurap. Ranjang yang sudah seminggu ia tinggal itu, ternyata membuatnya rindu juga.
''Heuummmh.. sayang.''
Edgar membalikkan tubuhnya lalu memanggil sang istri.
Mentari langsung mendekat.
''Iya Mas, ada apa?''
Mentari duduk di sisi ranjang, dan Edgar langsung duduk.
''Awh Mas, ihh! bikin kaget aja.'' pekik Mentari.
Hahaha
Edgar tergelak melihat bibir Mentari yang mengerucut di bawah kungkungannya.
''Maaass..''
Memandangi wajah sang istri membuat Edgar seperti hilang kendali. Meskipun baru saja tiba, rasa lelahnya sudah tak terasa. Edgar menciiumi seluruh wajah Mentari hingga pemiliknya mengomel karena ciiumannya di sertai candaan.
''Istirahat dulu Mas, jangan di gas terus, nanti mukaku jadi peyot juga.'' protes Mentari yang sudah berhasil duduk.
Edgar langsung tertawa mendengar protes yang dilakukan oleh Mentari.
''Sayangnya kalau lihat kamu selalu lupa sama rem, sayang.'' goda Edgar.
Mentari langsung melengos, pembahasan ini tidak akan habis jika terus diladeni. Apalagi melihat mode mes*m yang tergambar jelas di wajah Edgar.
''Aku mau mandi dulu, Mas.'' ujar Mentari.
__ADS_1
Edgar mengangguk dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Mentari menyiapkan pakaian ganti untuk dirinya sendiri dan juga Edgar nanti. Karena sekarang sudah tak seperti dulu yang harus repot-repot membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Mentari hanya membutuhkan handuk dan baju mandinya.
Namun, baru mau menutup pintu kamar mandi, tangan Edgar sudah lebih cekatan menahannya. Senyum penuh kemenangan itu terlihat jelas.
''Yaampun Mas, bikin kaget aja.''
''Kayaknya tadi masih rebahan.'' ujar Mentari.
''Rebahan bukan berarti tidak akan menyusul.'' Edgar menggerakkan alisnya naik turun.
Mentari menarik nafasnya.
''Bisa-bisanya mau mandi cuma pamitan, bukannya diajak.'' protes Edgar yang nyelonong masuk.
''Kamu mes*m sih, aku jadi takut.'' balas Mentari.
''Oh ya? takut sama apa?''
''Sama ini?'' goda Edgar lalu membuka pintu elangnya yang sudah siap berterbangan.
Mentari yang mendapatkan kejutan itu langsung mengeluarkan suara.
Edgar langsung terpancing mendengar suara Mentari yang membuatnya candu. Ia pun semakin semangat menggoda sang istri sehingga membuat aktivitas mandinya menjadi lebih lama.
Sementara di depan pintu kamar, pak Dar mengetuk pintu berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban, hening. Makanan sudah siap, sementara tuan dan nonanya belum juga muncul.
''Kemana mereka? sepertinya belum keluar dari kamar.'' gumam pak Dar.
Samar-samar pak Dar mendengar suara guyuran air, ruangan yang kedap suara memang menyulitkan untuk mendengar suara yang ada di dalam.
__ADS_1
Pak Dar mengangguk-angguk. Ia memahami aktivitas apa yang masih dilakukan oleh keduanya sehingga tidak ada yang membukakan pintu untuknya.
''Baiklah, mereka sedang tancap gas mencetak generasi. Tak kenal lelah..'' gumam pak Dar terkekeh pelan lalu kembali turun ke bawah.