
Mentari meletakkan pajangan berbentuk kereta beserta kuda tersebut. Ia melangkahkan kakinya menuju foto yang menarik perhatiannya.
Mentari mengambil bingkai tersebut dan memperhatikannya dengan perasaan haru, ia mengusapnya dengan lembut.
Foto yang meskipun hanya berwarna hitam putih dan tidak menampakkan wajah, tetapi memiliki arti yang sangat dalam.
Foto hasil USG, yang membuat Mentari langsung teringat akan cerita tentang suaminya dengan pernikahan sebelumnya.
''Mungkin ini satu-satunya kenang-kenangan yang tuan Edgar miliki untuk mengobati rasa rindunya kepada anak.'' gumam Mentari seraya kembali mengusap jarinya ke kaca bingkai itu.
Cukup lama Mentari memandangi bingkai yang masih dalam genggamannya itu.
''Apa yang kamu lakukan?''
Mentari terperanjat saat tiba-tiba mendengar suara Edgar yang sangat dekat.
''Ma-maaf Tuan, saya tidak bermaksud lancang..'' ucap Mentari gugup dan langsung menunduk.
Edgar menyimpulkan senyumnya, ia mengambil bingkai foto yang masih berada ditangan Mentari sehingga membuat Mentari spontan mendongak.
''Hanya ini satu-satunya kenang-kenangan yang ku punya tentang anakku, meskipun belum terlihat, bahkan hasil di USG ini dia juga malu-malu..'' ujar Edgar dengan tersenyum kecut.
Tentu saja Edgar sangat kehilangan atas kepergian calon buah hatinya. Edgar terlihat masih sangat terpukul saat mengingat hal itu.
''Huuffttt.. aku tidak mau jadi pria yang cengeng, anakku pasti sudah bahagia disana, mungkin sekarang dia sedang bermain bersama teman-temannya.'' Edgar berusaha mengembangkan senyumnya agar terlihat baik-baik saja. Ia meletakkan kembali bingkai tersebut.
Namun, dengan ia yang terus menatap ke atas menunjukkan bahwa hal itu upayanya yang tak ingin airmatanya jatuh.
''Menangis itu bukan simbol dari kelemahan, Tuan. Semua orang yang sedang tertimpa kesedihan punya hak untuk menangis, setidaknya bisa melegakan perasaannya. Bahkan orang yang sedang berbahagia saja bisa menangis karena saking bahagianya, dan itu bukan simbol lemah kan? jadi, Tuan tidak perlu khawatir untuk mengeluarkan air mata, saya tidak akan mengumumkan hal ini.'' tutur Mentari.
Edgar yang tadinya mendongak langsung menatap Mentari, ia tersenyum sehingga terlihat sangat tampan. Bahkan Mentari menjadi salah tingkah sendiri berada di jarak yang sangat dekat ini.
''Mentari, bisakah kita merubah sesuatu?''
__ADS_1
Mentari mengernyitkan keningnya karena belum mengerti.
''Maksudnya?''
''Aku tidak ingin lagi ada panggilan Tuan, sebutan anda atau saya. Kita hilangkan itu, kita lakukan yang normal, bisa?''
''Bi-bisa, bisa Tuan, eh.'' jawab Mentari langsung menutup mulutnya.
''Maksudnya kita harus berubah bagaimana?'' lanjut Mentari hanya melirik sekilas ke arah Edgar dan langsung menunduk lagi karena jarak yang sangat dekat membuatnya seperti mau pingsan.
''Aku mau kita menggunakan panggilan SAYANG, dan memakai aku kamu, tidak keberatan kan?'' tekan Edgar.
Mentari langsung mendongak tanpa kata-kata, ia terpaku melihat senyuman Edgar.
''Apa kamu merasa keberatan?'' tanya Edgar setelah belum mendapatkan jawaban.
''E.. maaf Tuan, eh itu duh, maaf..'' jawab Mentari gugup.
Edgar mengerti tanggapan Mentari yang gugup, ia menjadi semakin gemas.
Edgar menangkup pipi Mentari dengan kedua tangannya agar mereka saling menatap.
''Ikuti perkataanku..'' titah Edgar.
Mentari mengangguk.
''Aku.''
''Aku.''
''Kamu.''
''Kamu.''
__ADS_1
''Sayang.''
''Sa-sayang.''
Edgar sedikit menyimpulkan senyumnya.
''Kita mulai hari ini ya, sayang..''
''Ha? i-iya.'' jawab Mentari gugup.
Edgar menarik bahu Mentari untuk ia peluk, sepertinya pelukan itu semakin membuatnya ketagihan.
''Sepertinya kamu berhasil membuatku memulai jatuh cinta.'' ujar Edgar.
''Aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi, kamu harus selalu ada di sisiku.'' imbuh Edgar.
Edgar terus mengusap punggung Mentari yang masih berada di dalam pelukannya.
''A-aku tidak akan pergi.'' ujar Mentari.
Edgar mengurai pelukannya dan tatapan keduanya kembali saling bertemu.
Beberapa detik kemudian Edgar kembali berhasil menempelkan bibirnya di bibir Mentari.Tanpa penolakan, Mentari langsung memejamkan matanya seakan terbuai dengan sikap manis Edgar.
Edgar melepaskan pertautannya setelah melihat Mentari kehabisan nafas.
''Aku takut kehilanganmu, aku tidak mau mengakhiri apa yang sudah kita mulai, maafkan ucapan-ucapanku dulu yang menyinggung perasaanmu, aku hanya takut.''
Mentari memahami hal ini, sama halnya dengan dirinya yang juga takut untuk memulai sebuah pernikahan setelah merasakan sakitnya sebuah pengkhianatan. Mentari tidak menjawab apapun, ia hanya tersenyum dan mengangguk.
Edgar merasa lega karena Mentari bisa memaafkannya meskipun hanya dengan senyuman dan juga anggukan kepala.
''Kita mulai pernikahan kita yang sesungguhnya, aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku kelak.''
__ADS_1
PRAANG