
''Mas, kenapa senyum-senyum sendiri?'' tanya Mentari saat baru kembali dari kamar Erin, ia melihat suaminya tengah tersenyum tanpa ada orang lain di dekatnya.
Mendengar suara Mentari, Edgar langsung menoleh dengan senyuman yang masih tertahan dibibirnya.
''Nggak papa, sayang..'' jawabnya.
''Kenapa sih Mas?'' Mentari masih merasakan keanehan melihat senyuman Edgar.
Edgar mendekati Mentari yang masih terdiam setelah menutup pintu kamar.
''Gimana pendekatannya dengan Erin? apa berhasil?'' tanya Edgar seraya merengkuh pinggang Mentari.
''Udah Mas tolong jangan deket-deket kayak ginii, aku takut..'' cegah Mentari dengan suara yang lirih.
''Iya-iya aku berhasil, Erin anak yang baik.'' imbuhnya cepat.
Mentari tidak berani membalas tatapan mata Edgar yang sangat dekat itu. Ia memilih menghindari dan memasangkan tangannya ditengah-tengah agar tidak beradu tatapan dan memberikan penjagaan agar tidak mendapatkan serangan mendadak yang membuat jantungnya berdebar kencang.
''Kenapa ditutup?''
Mentari menggeleng.
''Nggak papa Mas..''
Edgar mengulum senyumnya tanpa melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Mentari.
''Apa kamu sudah bisa mencintaiku?'' tanya Edgar.
Deg
Mentari terbelalak dalam tundukannya, jawaban apa yang harus ia katakan pada Edgar.
''Apakah ia sudah berhasil mencintai suami yang menikahinya tanpa rencana itu?''
Mentari juga belum begitu berani untuk menyimpulkan bahwa ini cinta, bayang-bayang trauma dari kisah masalalu masih memenuhi sehingga kerap menolak cinta.
''Ci-cinta?'' Mentari mengulang pertanyaan Edgar.
__ADS_1
Edgar mengangguk.
''Iya.. karena sebentar lagi kita akan melakukan perjalanan pernikahan yang harus dipenuhi dengan rasa cinta.'' jawab Edgar.
Seketika Mentari berani menatap suaminya itu setelah mendengar jawaban.
''Apa Mas sudah kembali percaya adanya cinta? Mas sudah percaya kalau ada wanita yang tulus mencintai?'' tanya Mentari.
Edgar hanya tersenyum, ia saling berhadapan dengan Mentari.
''Pertanyaan yang sama untukmu..'' jawab Edgar santai.
Mentari tidak menyangka akan mendapatkan jawaban itu, ia langsung melotot. Namun, sedetik kemudian ia bisa mengendalikan dirinya.
''Mungkin kemarin-kemarin aku memang sulit untuk kembali percaya dengan cinta dan wanita. Namun, semenjak ada seseorang yang hadir, dia mampu memberikan sesuatu yang berbeda, dia berhasil menyinari kegelapan dihati dan pikiranku. Dan dialah Mentariku..'' Edgar mengungkapkan dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Mentari sehingga membuat tatapan mereka sangat dekat.
Ungkapan Edgar membuat Mentari tersenyum.
''Sekarang sudah pandai ngegombal ya Mas?''
''Aku serius.'' balas Edgar.
''Mau bukti?'' tantang Edgar.
Mentari sedang berpura-pura berpikir dengan meletakkan jari telunjuknya di dagu.
''Nggak ah, dengan bukti atau nggak tetap sulit dipercaya.'' ujar Mentari langsung melangkah pergi.
Mentari tidak bermaksud untuk marah, ia hanya tidak ingin terlalu terbawa perasaan jika terus-menerus berada di jarak yang sangat dekat ini.
''MAS EDGAR!'' seru Mentari saat tiba-tiba Edgar memeluknya dari belakang dan menelusupkan dagunya di leher Mentari.
Bukannya menjawab, Edgar justru menikmati aroma itu, ia menghirupnya pelan.
''Mas, udah Mas.. geli!''
Disaat yang sama, handphone milik Edgar yang berada diatas nakas berdering.
__ADS_1
''Persiapkan dirimu untuk menjadi milikku seutuhnya.'' ucap Edgar lalu melepaskan pelukannya dan segera menjawab panggilan masuk.
Mentari yang berhasil dibuat bergidik ngeri langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Edgar langsung menjawab telepon masuk.
Tak lama kemudian setelah sedikit tenang, Mentari keluar, ia melihat Edgar sudah berganti celana panjang.
''Mau keluar dulu sebentar ya, ada urusan mendadak.'' pamit Edgar saat melihat Mentari sudah keluar dari kamar mandi.
''Oh.. iya Mas, hati-hati ya..'' balasnya.
Edgar mengangguk, ia mengambil kunci mobilnya yang tergeletak diatas nakas. Kemudian menghampiri Mentari yang sedang memperhatikannya.
''Katanya ada urusan Mas, buruan gih..'' ujar Mentari.
''Nih ada yang minta dibawain bekal.'' Edgar menunjuk-nunjuk pada pipinya sendiri.
''Mas ihh, jangan gitu..''
''Mau ngasih nggak nih?''
''Maaass...!!''
Tidak sabar menunggu bekal yang ia minta, Edgar langsung mencium bibir Mentari beberapa detik.
''Baik-baik dirumah, aku nggak lama.'' pamit Edgar.
Mentari masih diam terpaku dengan perlakuan ini. Tidak dipungkiri lama-lama temboknya menjadi runtuh. Namun, ia masih tetap menyisakan ruang di hatinya untuk tetap waspada.
Mentari tidak mengetahui kemana perginya Edgar, ia juga tidak ingin mencari tau karena tidak ada yang mencurigakan. Toh, kalaupun Edgar pergi untuk hal yang tidak baik, Mentari merasa sudah seharusnya ia sadar diri akan hal itu.
Sementara itu, Edgar langsung menuju cafe dimana si penelepon memintanya untuk bertemu di tempat ini.
''Apa kabar Bro?'' sapa Edgar setelah mendapatkan seseorang yang ia temui.
''Baik, silahkan duduk..''
''Btw, ada apa kamu meminta ketemu disini? kenapa tidak datang ke rumah?'' tanya Edgar.
__ADS_1
Bukannya langsung menjawab, seseorang itu justru sibuk mengaduk-aduk minuman seraya menyunggingkan senyumnya.
''Kenapa harus Dira?''