Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 83 : Kita Praktekkan Lebih Mantap


__ADS_3

Edgar dan Mentari sudah meninggalkan tempat bu Maryam. Mentari sudah lega setelah mengunjungi bu Maryam dan juga anak-anak disana, mereka menyambut kedatangan Mentari dan Edgar dengan sangat baik, tentunya dengan panggilan baru, dari Dira menjadi Mentari.


''Kita masih memiliki banyak waktu, ke mall ya..'' ajak Edgar.


''Boleh, Mas.'' jawab Mentari.


Edgar kembali fokus menatap jalanan yang ramai, dan tak lama kemudian sampai di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota ini.


Setelah turun dari mobil, Edgar selalu menggenggam erat tangan Mentari agar tidak jauh darinya. Seperti pasangan pada umumnya, keduanya terlihat sangat bahagia menikmati akhir pekan ini. Tak canggung bagi Edgar, sesekali ia memberikan kecupan di puncak kepala Mentari.


''Malu Mas dilihatin orang-orang..'' bisik Mentari.


''Biarin.'' jawab Edgar santai dan justru mengulanginya lagi.


''Kamu mau kesana atau kesana?'' tanya Edgar dengan ekor matanya yang menunjuk pada bagian pakaian dan aksesoris.


Mentari nampak sedang berpikir, ia bukan tipe wanita yang gemar berbelanja. Saat baru menikah dengan Edgar, ia sudah dibuat tercengang dengan lemari yang isinya khusus untuk keperluan dirinya.

__ADS_1


Meskipun saat itu belum ada cinta di antara keduanya, tetapi Edgar sudah memiliki rasa tanggung jawab sebagai seorang suami. Apalagi kala itu, ia membawa Mentari keluar dari rumahnya tanpa persiapan apapun.


Uang berbicara, dua kata itulah yang sangat tepat. Dimana dalam satu malam semua kebutuhan Mentari langsung terselesaikan dengan baik. Mulai dari tas, pakaian untuk acara, pakaian harian beserta underwear, perlengkapan makeup, dan lainnya yang lengkap.


''Emmm, di lemari masih banyak yang belum terpakai Mas, mending kita nonton lagi.'' ujar Mentari memberikan usulan.


Edgar dibuat tersenyum oleh sang istri.


''Istriku tidak akan mungkin mau memilih, dia tipe yang harus langsung dibelikan, karena kalau sudah ada wujudnya, tidak mungkin akan ditolak.'' batin Edgar.


''He'em..'' jawab Mentari dengan memberikan anggukan.


''Euummm, let's go..''


Edgar langsung mengantri untuk membeli tiket, tidak lupa juga popcorn dan minuman untuk bekal selama menonton film nanti.


Setelah semuanya berhasil didapatkan, Edgar dan Mentari langsung masuk ke dalam bersama dengan pengunjung lainnya. Hal seperti ini sebetulnya sangat membuat Edgar tidak nyaman. Tetapi karena demi membuat sang istri tersenyum, ia harus bisa menaklukkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Pemutaran film sudah mulai, genre romance komedi ini sangat diminati oleh pecinta film, apalagi pemerannya artis-artis yang sudah memiliki banyak penggemar. Terlepas dari itu semua, akting artis-artis tersebut sangat baik, beberapa dari film-film mereka sebelumnya, sudah terlihat keberhasilan mereka dalam memainkan perannya masing-masing.


Mentari tampak serius menatap layar lebar di depannya sembari memasukkan popcorn ke dalam mulutnya. Lain halnya dengan Edgar yang sibuk menjaga sang istri karena khawatir jika ada yang mengganggunya.


''Kenapa tutup mata?'' bisik Edgar yang tidak melihat jalannya film.


Mentari hanya menjawab dengan gelengan kepala. Edgar pun langsung menoleh ke layar lebar.


Edgar langsung menyembunyikan tawanya karena ternyata sang istri tengah malu melihat adegan kissing yang sedang berjalan dari pemeran utama.


''Nanti kita praktekkan lebih mantap lagi dari itu.'' bisik Edgar.


Mentari terbelalak, menatap tajam sang suami yang membisikkan kalimat tak senonoh di dekat banyak orang. Walaupun sudah bisa dipastikan orang disekitar mereka tidak mendengar suara Edgar.


''Mas.. malu kalau didengerin orang.'' sungut Mentari yang kembali fokus menonton karena adegan kissing sudah berakhir.


''Mereka nggak akan dengar, sayang.''

__ADS_1


__ADS_2