Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 230 : Sekali Saja Kami Dipertemukan


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Erin langsung membuka buku barunya itu dan membawanya ke dalam dekapannya dengan erat. Kemudian ia mencium buku tersebut penuh kasih sayang. Ya, sesuka itu Erin dengan buku. Sampai julukan si kutu buku pernah melekat pada dirinya saat masih sekolah, karena saat kemana-mana, yang namanya buku selalu ia bawa.


''Heuuummm, wangi!'' serunya.


Ternyata menikmati akhir pekan bersama sang kakak cukup menyenangkan, apalagi dikasih satu dompet berisi uang.


''Hihi, rezeki juga dapat tambahan uang jajan.'' gumam Erin yang cekikikan pelan.


Tidak lama lagi, Erin langsung menghubungi Jimmy yang sedari tadi ia abaikan karena ingin fokus bersama momen berduanya dengan sang kakak yang limited edition itu. Karena menurut Erin, wujud seperti itu tidak bakal ada di belahan bumi manapun. Ntah dirinya harus bersyukur atau bersedih karena memiliki sosok limited edition itu.


''Aku tetap sayang kak Edgar kok. Love you so much, Kak.'' gumam Erin.


Sementara di dalam kamar Edgar dan Mentari. Keduanya sedang duduk di sofa. Mentari tadi sudah pesan untuk dibawakan sate Padang dan Edgar memesankannya, saat perjalanan pulang tinggal mengambil tanpa menunggu.


Edgar mengembangkan senyumnya melihat sang istri yang lahap, tidak ada yang membuatnya untuk menghindari makanan. Hanya saja sudah mendapatkan peringatan untuk tidak berlebihan agar tidak mendapatkan larangan.


''A..,''


Mentari menyodorkan satu tusuk sate itu pada sang suami. Tanpa nanti-nanti, Edgar langsung membuka mulut dan menggigit daging satenya. Karena tidak mungkin Edgar memakan tusuknya.


Karena Edgar manusia biasa, seperti penulis ceritanya.


Senyum sumringah Mentari tergambar begitu jelas. Sisa sate yang masih di tusuk ia masukkan ke dalam mulutnya sendiri.


''Terima kasih, sayang.'' ucap Edgar setelah daging sate itu sudah ia telan.


''Sama-sama, Papa.'' jawab Mentari.


Edgar langsung terkekeh karena ucapan Mentari merupakan sindiran halus. Ternyata sejak pulang dari pergi bersama Erin membuatnya lupa belum menciium perut Mentari.


Edgar langsung membungkukkan badannya dan mengusap perut Mentari dengan lembut. Ia membisikkan kata-kata.


''Maaf ya, Nak ... Papa lupa. Hari ini Papa masih jadi tour guide sekaligus bodyguard dulu untuk aunty Erin. Biar nanti aunty Erin mau momong kalian." bisik Edgar.


Sedangkan Mentari hanya melirik sekilas ke bawah sembari menggeleng pelan. Ia memilih fokus pada sate yang ada di tangannya.


Selesai mengusap-usap perut Mentari, Edgar kembali duduk dengan benar dan semakin nempel pada sang istri.


''Maaf, sayang, aku benar-benar lupa.'' ucap Edgar yang khawatir Mentari akan mempermasalahkan.


Mentari justru terkekeh kecil sembari meletakkan tusuk sate yang sudah kosong.

__ADS_1


''Yang penting nanti ceritakan semuanya momen hari ini. Aku kepo.'' ujar Mentari sedikit berbisik.


''Siap, nanti saya akan melaporkan kejadian hari ini, Nona.'' ujar Edgar menirukan suara tegas seorang prajurit.


''Kerja bagus.'' balas Mentari.


Keduanya lagi-lagi tertawa bersamaan.


Sesuai perjanjian yang pastinya sudah dinanti-nanti oleh Mentari, yaitu mendapatkan laporan cerita hari ini. Edgar pun menepati janji tersebut. Ia menceritakan sembari mengingat-ingat. Namun, ada yang tidak ia ceritakan mengenai terkejutnya karena Erin sudah lebih dulu menciium Jimmy.


Jangankan untuk menceritakan kembali, mengingat saja sudah membuat Edgar semakin naik darah. Yang ia khawatirkan adalah Jimmy, ternyata oh ternyata, Erin yang sat set lebih dulu. Benar-benar tidak habis pikir.


''Dasar Erin!'' tutupnya.


''Kenapa Erin?'' tanya Mentari.


''Ah, nggak apa-apa, sayang. Dia tetap seperti anak kecil, jajannya es sama bakso.''


''Seru banget dong ya?'' balas Mentari sembari membayangkan keduanya.


Edgar langsung menaikkan kedua bahunya. Ia teringat pertemuannya dengan pria tadi. Padahal seharusnya ia bisa melupakan begitu saja, tetapi ntah apa yang membuatnya terus kepikiran.


''Oh ya, sayang, tadi kita ketemu sama pemulung laki-laki waktu di taman, aku merasa aneh aja sama orang itu. Dia pakai topi, dia sama Erin nggak sengaja tabrakan. Dan.. pas aku samperi, laki-laki itu langsung menurunkan topinya, padahal sebelumnya tidak ditutup. Ntahlah, aku tidak mau memikirkan dia, tapi, masih kepikiran sama orang itu.'' jelas Edgar sembari mengingat-ingat pertemuan tadi.


''Mungkin orang itu kenal sama kamu, Mas.'' ujar Mentari.


''Ya, mungkin dia tau aku. Tapi, kenapa harus nutupi wajahnya seperti tadi, heran aja.''


Mentari mengusap bahu Edgar.


''Kalau orang itu tidak merugikan kamu, ya sudah jangan di ambil pusing, Mas. Masih banyak hal yang harus kamu pikirkan. Besok lembur, jangan lupa.'' ujar Mentari mengingatkan.


Edgar kembali menurunkan tatapan matanya yang tadinya menatap ke arah atas. Ia meraih tangan Mentari yang masih berada di bahu, lalu ia genggam tangan tersebut.


''Kamu benar sayang, kalaupun memang orang itu ada apa-apa, pasti bakal ketemu lagi dan terjawab siapa dia.'' jawab Edgar yang kembali dengan senyumnya.


Mentari ikut tersenyum. Padahal di dalam hatinya pun tanpa ia sadari ternyata juga ikut penasaran dengan sosok pria yang bertemu dengan suami dan adik iparnya itu.


''Ah ntahlah! mungkin memang hanya kebetulan.'' bathin Mentari tak ingin ambil pusing.


--

__ADS_1


Beberapa tahun yang lalu, seorang ibu yang sekaligus berperan sebagai seorang ayah untuk malaikat terindahnya, hadiah terindah yang ia miliki. Gadis kecil itu bernama Ghadira Mentari.


Seorang ibu yang ingin menyambung tali silaturahmi pada keluarga ayah dari anaknya, karena ia sendiri sudah tidak memiliki saudara dekat. Sedangkan justru sikap pengabaian yang mereka dapatkan.


"Kamu 'kan tinggal di Jakarta! cari aja sana bapaknya Dira! dia jadi copet yang sukses!" seru pria yang merupakan saudara bapaknya Dira.


Deg!


Dira kecil hanya bersembunyi di balik baju ibunya karena takut dengan suara keras itu. Ibunya hanya bisa menangis sembari menggendong dirinya yang terbawa rasa takut.


"Aku tidak mencari bapaknya Dira. Aku kesini hanya ingin Dira kenal dengan saudaranya, cukup itu, Kang."


"Aku juga tidak menuntut kalian untuk memberikan nafkah pada anakku."


"Aku juga tidak peduli dimana dan bekerja apa dia sekarang. Bagiku dia juga sudah tidak ada!"


Dira mulai menangis di dalam gendongan ibunya. Ibunya langsung tersadar dan meminta maaf karena sudah lepas kendali dalam menyikapi keadaan.


"Maafkan Ibu."


--


Sampai detik ini, Mentari belum tau seperti apa wajah dari bapaknya. Apakah pria itu masih hidup atau sudah tiada. Hanya terkadang keinginan untuk bisa menyambangi kampung halaman, tetapi ketika mengingat suara-suara keras itu membuat rasa traumanya kambuh. Apalagi saat melihat ibunya menangis.


Copet?


Ya, dari sana Mentari mengerti bahwa copet merupakan tindakan yang salah, karena sangat merugikan orang lain.


Apakah itu benar atau tidak, sampai detik ini ia belum juga bertemu dengan bapaknya sendiri. Ia juga belum merasakan bapaknya mencari dirinya yang sudah diabaikan sekian waktu yang sangat lama.


"Sekali saja kami dipertemukan, aku hanya ingin bertanya apa salah ibuku sehingga tidak pedulikan aku."


Hanya terbesit sebuah harapan yang tidak berani ia utarakan. Bahkan sejak dulu pun keinginan itu kerap ia kubur ketika mengingat bapaknya orang jahat.


"Sayang ... kok kamu belum tidur?" tanya Edgar yang sudah terbangun.


Cepat-cepat Mentari menyeka air matanya yang terlanjur jatuh.


"Aku belum ngantuk, Mas." jawab Mentari dengan senyum yang dibuatnya.


Karena cahaya remang-remang, Edgar tidak begitu jelas melihat sang istri yang menangis karena memang tidak bersuara. Apalagi ditambah dirinya yang sudah tidur lebih dulu, jadinya belum begitu fokus.

__ADS_1


Edgar meraih bahu Mentari agar nempel di dadanya. Ia mengusap-usap lembut agar Mentari cepat merasakan kantuk.


__ADS_2