Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 247 : Pede Sekali Istriku


__ADS_3

Setelah menanti beberapa hari, akhirnya akhir pekan telah tiba. Mentari sudah tidak sabar untuk menyambangi rumah kucing. Edgar sudah menjanjikan untuk jalan jam 9 karena ia akan ngegym terlebih dahulu.


Mentari sudah membersihkan badannya, ia menunggu sang suami di kamar.


''Sudah rapi aja nih? mau kemana sihh?'' goda Edgar hendak mendekati Mentari.


Spontan Mentari langsung bergeser karena Edgar yang berkeringat.


''Keringatmu bau, Mas!'' protes Mentari.


''Dulu suka bau keringatku, sampai nggak boleh bersih-bersih mandinya.'' balas Edgar.


''Ishh! ya nggak tau, Mas. Itu 'kan dulu.''


Edgar masih tertawa, ia senang menggodai sang istri dengan mencoba untuk mendekat. Sontak saja Mentari semakin memperlebar jarak sembari memajukan kedua tangannya.


''Maasss! jangan aneh-aneh! nanti aku marah!'' ancam Mentari.


Bukannya takut, Edgar justru semakin gemas.


''Aku mau ambil air dingin, sayang. Duhh pede sekali istriku.'' ledek Edgar sembari membuka pintu mini kulkas tersebut.


Mentari merengut, sedangkan Edgar meneguk air dingin tersebut hingga habis.


''Ya sudah, aku mandi dulu ya, sayang.'' ujar Edgar.


Mentari mengangguk lalu duduk di sofa.

__ADS_1


..


Tepat pukul sembilan, mobil sudah membawa Edgar dan Mentari ke rumah penampungan kucing.


Sebelum menuju ke tempat tersebut, kemarin Edgar sudah memesan makanan untuk orang-orang disana. Sedangkan untuk keperluan kucing, ia sudah meminta salah satu petshop mengantarkan pesanannya dari kemarin.


Mentari sangat antusias, karena ini merupakan kali pertamanya mengunjungi tempat penampungan kucing itu.


Empat puluh menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di salah satu bangunan luas. Gerbang dan pagar depannya terlihat cukup tinggi. Waktu bertambah karena harus mampir ke salah satu rumah makan untuk mengambil pesanan Edgar kemarin.


Gerbang masuk yang terbuka itu membuat Edgar langsung melajukan mobilnya dan memarkirkan di area parkir.


''Sepertinya mereka tidak tau kalau kamu kesini, Mas?'' tanya Mentari menatap suaminya.


''He'em, aku tidak mengabari siapapun disini.'' jawab Edgar sembari melepaskan sabuk pengamannya.


''Pantesan, mereka pada bengong tuh.'' ujar Mentari.


Setelah memastikan yang keluar dari mobil tersebut adalah Edgar, mereka sigap meninggalkan aktivitasnya untuk menyambut kedatangan Edgar dan Mentari.


''Selamat pagi, Tuan ... Nona.'' sambut mereka.


''Iya pagi.'' jawab Edgar, Mentari mengikuti dengan membungkukkan kepalanya.


''Oh ya, sebentar.'' ucap Edgar.


''Tadi saya mampir ke rumah makan, ada makan siang untuk kalian nanti.''

__ADS_1


''Terima kasih, Tuan.'' ucapnya.


Edgar mengangguk lalu membukakan pintu bagasi mobilnya, dua orang pria langsung mengambil dua buah plastik yang berisikan nasi kotak.


''Silahkan masuk Tuan ... Nona.'' ujar salah satu dari mereka.


Lahan rumah kucing tersebut di dalamnya di pasang dinding kaca yang menutup dengan ukuran yang sangat luas. Tujuannya agar kucing-kucing yang sudah berada disana tidak bisa kabur. Disana juga diberikan tanaman rumput dan pohon-pohon kecil untuk para kucing bermain supaya tidak stress di dalam kandang. Edgar jugalah yang mendanai bangunan itu, karena awalnya berada di tempat yang sempit milik salah satu anggota yang begitu besar sayangnya pada kucing.


Bagi Edgar, kegiatan yang baik harus di dukung. Apalagi istrinya juga menyukai hewan tersebut.


Sekarang tempat tersebut terlihat nyaman. Tempat untuk para pengurusnya juga di pisahkan dengan berada di luar dinding kaca.


''Kamu lucu sekali...'' ujar Mentari sembari berjongkok mengambil kucing yang berwarna belang itu.


''Itu salah satu yang baru kami steril bulan lalu, Nona.''


''Terima kasih ya karena kalian sudah menyayangi kucing yang sangat banyak ini.'' ucap Mentari dengan mengedarkan pandangannya. Setiap sudut ia melihat kucing yang sedang asik dengan mainannya, ada yang sedang kejar-kejaran sembari memanjat pohon. Sangat lucu dan menggemaskan.


''Sama-sama, Nona. Kami juga sangat berterima kasih karena dana yang Tuan Edgar berikan pada kami, akhirnya kami bisa berada di tempat ini, tempat yang jauh lebih layak untuk mereka.'' balas wanita itu sembari menunjuk kucing-kucing yang bergelendotan di kakinya.


Edgar hanya tersenyum tipis. Mentari bahagia dengan kebaikan suaminya.


Mereka melanjutkan obrolan di ruang tamu, teh hangat juga sudah disuguhkan untuk Edgar dan Mentari.


''Jadi, berapa sekarang total anggota disini?'' tanya Mentari.


''Kami totalnya ada 5 orang yang benar-benar tinggal disini. Tapi, berhubung ini akhir pekan, beberapa dari mereka yang juga pecinta kucing datang untuk bantu-bantu. Mereka tidak bisa rutin karena ada yang sibuk kuliah dan bekerja.'' jelas ketua rumah kucing tersebut.

__ADS_1


Mentari mengangguk paham.


Semoga semakin banyak orang yang menyadari untuk tidak membenci sesama makhluk hidup.


__ADS_2