Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 93 : Make A Wish


__ADS_3

''Sayang.. sudah, sudah nangisnya.'' Edgar mengusap lembut bahu Mentari agar berhenti menangis.


Edgar membantu menyeka air mata sang istri dengan jarinya. Tatapan lembut itu bisa meneduhkan perasaan emosional Mentari.


Huuuhhh..


Mentari menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembusnya ke bawah. Ia berusaha menahan airmata agar tidak terus mengalir. Berusaha untuk menampilkan senyum kebahagiaannya.


Edgar memapah sang istri untuk mendekati meja yang terdapat kue ulang tahun. Semuanya ikut mendekat.


''Make a wish..'' seru Erin antusias.


Mentari mengangguk seraya tersenyum. Lalu menangkupkan kedua tangannya dan berdo'a.


"Apa do'anya, sayang?" tanya Edgar setelah Mentari selesai.


"Rahasia dong." jawab Mentari jahil.


"Kapan-kapan tak kasih tau." imbuhnya.


Edgar mengangguk.


Semuanya bertepuk tangan, Mentari memotong kue tersebut. Semua bertanya-tanya dalam hati siapakah yang akan mendapatkan potongan pertama ini. Walaupun jawabannya sudah tau pasti.


Mentari menghadap Edgar yang berada di sampingnya dengan kedua tangannya yang membawa potongan kue tersebut.


''Emm, potongan pertama ini untuk suamiku.'' ucap Mentari.


''Yeyy...''


Prok prok prok

__ADS_1


Erin bertepuk tangan seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Mami dan papinya tersenyum melihat senyum mengembang di wajah anak-anaknya itu.


Mentari juga memberikan suapan pertama dari kue yang ia potong untuk sang suami. Tentu saja Edgar menyambut dengan senang hati.


Cup


Edgar mendaratkan ciumannya di bibir Mentari yang baru saja menarik sendok kecil itu dari mulutnya.


Mentari terbelalak. Kedua bola matanya langsung memutar untuk melihat reaksi mertua dan juga adik iparnya. Sekejap kemudian ia langsung mundur dan menyembunyikan rasa malunya.


''Maaf..'' ucap Mentari lirih menatap mertuanya secara bergantian. Rasanya sangat malu.


''Jangan ngawur Mas..'' protes Mentari lirih.


Edgar yang sudah mengambil alih potongan kue itu terlihat santai, ia kembali memasukkan potongan kue ke dalam mulutnya.


Papi dan mami terkekeh melihatnya. Sementara Erin sedikit shock karena sang kakak terang-terangan melakukan hal itu di depan matanya.


''Bisa-bisanya Kakak melakukan itu di depanku, kode buat kasih aku kebebasan apa gimana nih..'' tebak Erin dalam hati. Tanpa sadar ia mengulum senyumnya.


Erin langsung terperanjat mendengar suara Edgar. Bibirnya langsung mengerucut.


''Apa sih Kak? orang aku diem aja..'' sungutnya.


''Kamu pikir Kakak nggak tau apa yang ada di pikiranmu..'' balas Edgar.


Erin mendengus kesal. Kakaknya itu ntah terbuat dari bahan apa saja.


''Sudah Mas, sudah..'' ujar Mentari lirih dengan mengusap lengan sang suami.


''Coba kalian itu kalau ketemu yang akur gitu lo.. berantem mulu seperti Tom and Jerry saja.'' sahut mami yang merasa pusing melihat kedua anaknya.

__ADS_1


''Kakak tuh nyebelin! wlee''


Edgar berjalan mendekati adiknya. Erin pun dibuat panik, tatapan mata kakaknya tidak main-main. Mentari pun panik, ia khawatir Edgar akan memaki-maki adiknya.


''Mas..'' Mentari mencoba menahan. Tetapi Edgar hanya menoleh sekilas dan tetap melangkah maju.


''Apa sih Kak Edgar nih.. minggir sana..'' usir Erin mendorong dada kakaknya yang sama sekali tidak berhasil.


''Jangan pernah diulangi lagi menjulurkan lidahmu! apalagi di depan pria! paham!''


Erin bergidik ngeri.


''I-iya Kak, paham-paham. Maaf..'' ucapnya tidak berani menatap sang kakak.


''Bagus.. Kakak harap kamu mengerti.'' Edgar mengusap lembut rambut sang adik, sekian detik ia sudah merubah raut wajahnya.


Tuan Erick dan sang istri hanya bisa menyaksikan kedua anaknya itu. Erin memang lebih nurut jika yang berkata adalah Edgar.


°°


Situasi sempat menegang, setelah melanjutkan pemotongan kue. Kini keluarga ini menikmati makanan yang sudah di olah oleh mami, masakan western.


''Mami masak spesial untuk hari ulangtahunmu, sayang.. semoga cocok denganmu.'' ujar mami sebelum memulai makan.


''Aku pasti menyukai masakan yang dibuat penuh cinta ini. Masakan spesial dari wanita spesial. Terimakasih, Mi..'' ucap Mentari.


Mami tersenyum, ingin rasanya langsung memeluk sang menantu, tetapi karena terhalang oleh meja niat itupun tertahan.


''Ayo makan..'' ujar mami.


Semuanya mengangguk dan langsung mengambil pisau kecil dan garpu masing-masing.

__ADS_1


Tidak ada percakapan selama kegiatan makan berlangsung, hanya suara pisau dan garpu yang saling beradu untuk menghasilkan potongan daging yang lembut.


Mentari menyukainya. Biasanya menu western seperti ini ada di restoran. Ternyata mertuanya pun sangat pandai membuatnya sendiri. Rasanya lezat, dan bisa bersaing dengan yang ada di restoran.


__ADS_2