Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 291 : Putriku


__ADS_3

Edgar mengangguk, sambil mengusap lembut puncak kepala Mentari.


''Bisakah aku bertemu dengan beliau hari ini, Mas?'' tanya Mentari sedikit ada keraguan karena sudah menebak sang suami akan menolaknya jika untuk saat ini.


''Sayang, besok ya, kamu harus tenangkan perasaan dan pikiran kamu dulu.'' jawab Edgar yang sesuai dengan tebakan Mentari.


''Aku sudah mengosongkan jadwal untuk hari besok. Aku janji akan membawa kamu menemuinya, sayang.'' sambung Edgar dengan suara yang lembut.


Mentari diam merenung, ia juga tidak kecewa, karena apa yang dikatakan oleh Edgar demi kebaikannya.


''Please, kamu tidak sendiri, sayang ... ada anak-anak kita yang membutuhkan ketenangan dari mamanya.'' ujar Edgar sembari menggenggam tangan Mentari.


Apa yang dikatakan oleh Edgar tentu saja demi kebaikan bersama, terutama istri dan juga calon buah hati mereka.


Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya Mentari mengangguk.


''Iya Mas, besok aja kesananya.'' jawab Mentari yang diiringi senyum tipis.


Waktu terus berjalan, jam di dinding kamar tidur mereka sudah menunjukkan pukul 00.52 dinihari. Mentari masih terjaga, sedangkan Edgar terlihat nyenyak sekali dengan memeluk sang istri.


Di dalam cahaya yang remang-remang itu, Mentari menatap setiap inci wajah suaminya. Ia senyum-senyum sendiri, lalu tiba-tiba menangis.


''Sayang?''


''Lho, sayang, kenapa nangis?'' pekik Edgar yang langsung duduk.


Mentari yang juga terkejut pun langsung cepat-cepat mengusap air matanya.


''Kamu mimpi buruk ya?'' tebak Edgar.

__ADS_1


Mentari terkekeh kecil.


''Gimana mau mimpi, Mas? kalau tidur aja belum.'' jawab Mentari.


''Kamu belum tidur?'' tanya Edgar yang memang tidak tau.


Mentari menggeleng.


''Sayaaang, maafkan aku yang malah nggak nemani kamu.'' ucap Edgar.


''Kenapa harus minta maaf, Mas?''


''Orang ngantuk terus tidur ya wajar dong, nggak tau kenapa kok aku belum bisa tidur dari tadi. Emm, terus lihat wajah kamu yang sangat tampan dan gagah ini kok jadi terharu.'' terang Mentari sembari mengusap kedua matanya.


Edgar yang sudah tidur lebih dulu pun akhirnya tidak melanjutkan tidurnya. Ia akan menunggu sang istri sampai benar-benar tidur dengan nyenyak di dalam pelukannya.


''Kamu tidur dulu aja, Mas.'' suruh Mentari.


''Aku belum ngantuk lagi, sayang.'' jawab Edgar.


Mentari terdiam lagi, ia tau suaminya itu tengah berbohong. Sorot mata Edgar tidak bisa membohonginya.


Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 01.45 WIB, Mentari baru bisa terlelap. Deru nafas Mentari sudah terdengar teratur. Edgar memastikan dengan helaan nafas yang lega.


"Tidur yang nyenyak ya, sayang.'' lirih Edgar lalu memberikan kecupan manis di kening Mentari.


Pagi hari tidak terlalu terburu-buru karena Edgar sedang meliburkan diri dari kegiatan kantor. Meskipun tidur lambat, Mentari tetap bangun cepat. Apalagi ada tempat dan seseorang yang akan ia temui hari ini. Hal itu seperti menjadi alarm untuknya.


''Jadi 'kan, Mas?'' tanya Mentari ketika mereka selesai sarapan.

__ADS_1


''Jadi, sayang.'' jawab Edgar.


Pukul 08.15 WIB


Edgar dan Mentari meninggalkan rumah menuju rumah sakit. Sebelum meluncur, Edgar juga sudah berkomunikasi terlebih dahulu dengan Jimmy. Saat ini, Jimmy sudah berada di sana.


''Mas, aku deg-degan.'' ujar Mentari jujur.


''Jangan mikir yang macam-macam ya.'' balas Edgar lalu meraih tangan kanan Mentari dengan tangan kirinya, kemudian ia menggenggam erat.


Perjalanan itu akhirnya tiba di rumah sakit. Mentari kembali mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang dan tak beraturan.


Para staf rumah sakit tersebut pun langsung membungkukkan badannya ketika berpapasan dengan Edgar dan Mentari. Mereka langsung menuju ke salah satu kamar yang sudah mendapatkan penjagaan ketat dari dua orang pengawal.


''Kamarnya ada di sana, sayang.'' tunjuk Edgar menggunakan tangan kanannya.


Mentari mengikuti arah pandang Edgar, kemudian mengangguk.


''Selamat pagi, Tuan ... Nona.'' sapa dua pengawal itu.


''Pagi.'' jawab Edgar dan Mentari secara bersamaan.


Salah satu pengawal itu membukakan pintu ruangan tersebut.


''Silahkan, Tuan.'' ujar pengawal yang membukakan pintu.


Pintu ruangan itu sudah terbuka, Edgar dan Mentari masuk. Dua orang di dalam, yakni Jimmy dan seorang pria disana. Mentari dan pria itu saling menatap, namun, pria itu langsung menunduk.


''Putriku.'' gumamnya sangat lirih, tetapi Jimmy mendengarnya dengan jelas karena posisinya yang lebih dekat.

__ADS_1


__ADS_2