Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 246 : Dulu Kamu Benci Sama Aku


__ADS_3

Sudah dua minggu rumah ini tanpa formasi keluarga yang lengkap. Edgar semakin tepat waktu untuk kembali ke rumah, karena tidak ingin membuat sang istri merasa sepi.


Pasangan suami istri itu sedang menikmati udara malam di balkon dengan pemandangan bulan yang setengah. Bintang-bintang di langit juga sangat ramai. Cuaca malam ini cerah setelah kemarin malam diguyur hujan lebat.


''Padahal hujannya kemarin, tapi, sekarang masih kerasa banget dinginnya.'' ujar Mentari dengan menatap lurus ke rembulan.


Angin berhembus tidak begitu kencang, tapi, cukup membuat tubuh merasa dingin. Mentari menyandarkan kepalanya di dada Edgar. Dan tangan Edgar yang sebelumnya direntangkan pun ia lengkungkan untuk memeluk sang istri.


''Mau masuk sekarang?'' tanya Edgar.


Mentari menggeleng. Jam di layar ponselnya masih menunjukkan pukul delapan malam, ia masih ingin disini.


''Nanti, Mas.'' jawab Mentari.


Edgar tidak menjawab, ia memeluk Mentari dengan kedua tangannya.


''Mas?'' panggil Mentari lirih.


''Hmm, iya sayang?'' balas Edgar.


Keduanya saling menatap.


''Aku kangen kasih makan kucing, Mas.'' ungkap Mentari lirih, karena ia sedikit ragu. Ia khawatir Edgar akan memprotesnya, apalagi kini ia tengah mengandung.


Mentari menyukai hewan tersebut, tetapi karena tetangga dekatnya tidak ada yang menyukai kucing, ia memutuskan untuk tidak memeliharanya di rumah. Karena sudah pernah kejadian sekali saja ia merawat kucing kecil yang dibuang. Tanpa sepengetahuannya, kucing tersebut dibuang lagi ntah kemana oleh salah satu tetangganya. Laporan dari salah satu anak kecil yang merupakan tetangganya mengatakan kalau kucing tersebut mencuri ikan dirumahnya, dan ibunya langsung tidak pikir panjang lagi.


Mentari hanya bisa mengelus dada untuk tetap sabar. Ia mengalah meskipun perasaan dan pikirannya tidak tenang. Ia memikirkan bagaimana nasib kucing yang baru dua bulan ia pelihara itu. Pada akhirnya, Mentari beralih dengan membeli makanan hewan berbulu tersebut dan ia bagikan saat bertemu kucing-kucing dijalan. Meskipun tidak akan merata, setidaknya ia bisa membantu sedikit agar kucing-kucing jalanan tidak kelaparan setiap saat.


''Orang suruhanku tetap melakukan kebiasaan kamu dulu, sayang. Jangan khawatir.'' ujar Edgar dengan senyum.


Edgar yang sudah mengetahui kebiasaan Mentari sejak awal itu tentu saja tidak akan tinggal diam. Mentari juga sudah mengiyakan saja saat itu. Edgar tidak mungkin membiarkan Mentari melakukan sendiri lagi, untuk itu ia membayar orang lain yang juga berada di dalam komunitas pecinta kucing, menampung kucing-kucing jalanan yang terlantar, kucing-kucing yang dibuang oleh orang-orang tak memiliki hati.

__ADS_1


Edgar menatap intens wajah Mentari, ia tau sang istri ingin melakukan secara langsung setelah sekian lama tidak bergerak sendiri untuk para anak-anak bulu.


''Nanti, akhir pekan kita ke rumah kucing ya.'' ujar Edgar.


Sorot mata Mentari langsung berbinar, ia menatap kedua mata Edgar untuk mencari keseriusan disana.


''Serius, Mas?'' tanya Mentari.


''Of course.'' jawab Edgar.


Mentari menjadi sumringah, ia sudah tidak sabar untuk berkunjung ke rumah penampungan kucing yang semenjak mereka menikah, selalu mendapatkan pendanaan dari Edgar.


''Emm, sepertinya sudah semakin malam, sayang. Kamu tidak boleh terlalu lama kena angin malam. Masuk ke kamar yuk.'' ajak Edgar.


Mentari mengangguk, ia juga sudah semakin merasakan kedinginan. Meskipun ia mengenakan cardigan bahan rajut, tetap saja hawa dingin masih menembus sampai tulang.


Edgar membereskan meja bundar yang tadi digunakan untuk meletakkan gelas dan buah. Lalu menutup pintu kamarnya. Lampu kamar ia ganti alihkan ke lampu tidur.


''Mas.'' panggil Mentari lirih.


Edgar yang masih berdiri mengatur angin AC langsung menoleh ketika mendengar sang istri memanggilnya.


''Iya sayang?''


''Terima kasih.'' ucap Mentari.


Edgar meletakkan remote AC di atas nakas, lalu mendekati Mentari.


''Untuk?'' tanya Edgar.


''Nggak memarahiku karena ingin bertemu sama kucing.'' jawab Mentari.

__ADS_1


Edgar langsung terkekeh, karena ia tidak mengira ucapan terima kasih itu untuk soal kucing.


''Memangnya ada yang lucu?'' tanya Mentari heran.


''Kamu ngira kalau aku bakalan marah-marah seperti para pembenci kucing itu ya?'' Edgar bertanya balik.


Mentari terdiam.


''Kami memang tidak memelihara kucing, tetapi kami diajarkan untuk tidak membenci sesama makhluk Tuhan.'' jelas Edgar.


''Tapi, dulu kamu benci sama aku, 'kan Mas?'' balas Mentari lirih.


''Apa?''


Kemudian Edgar terkekeh kecil.


''Itu hanya belum mengenal.'' ujar Edgar membela diri.


Mentari memberikan tatapan.


''Tapi, waktu itu kamu bikin aku sedih lho, Mas.'' balas Mentari.


Edgar langsung menggeser duduknya agar semakin dekat dengan Mentari. Ia merengkuh bahu sang istri untuk menghadapnya.


''Maafkan aku, sekarang nggak boleh sedih-sedih lagi ya, sayang.'' ucap Edgar lalu memberikan kecupan di kening Mentari.


''Lagian aku cuma becanda, Mas. Kamu serius sekali, hihi.'' balas Mentari langsung menutup mulutnya.


Edgar merasa gemas, ia menggigit pipi Mentari. Mentari langsung meringis sembari mendorong wajah Edgar agar tidak menggigit pipinya lagi.


Namun, bukan Edgar namanya jika tidak mengambil peluang. Ia langsung memberikan hukuman yang tentu saja membuatnya sumringah.

__ADS_1


__ADS_2