
''Ada apa?'' tanya Ardi ketus setelah kepergian polisi itu.
''Ar..''
''Sudah puas kamu sekarang, Gar? sudah bahagia kan lihat aku ada disini? ini kan tujuan kamu?'' sahut Ardi yang hanya melirik sekilas kepada sepupunya itu.
Melihat ketegangan diantara kedua saudara persepupuan itu membuat Jimmy merasa tidak enak berada disana. Baginya, perbincangan ini tidak perlu melibatkan dirinya.
''Maaf Tuan, saya izin keluar. Silahkan anda berbicara empat mata saja dengan Ardi.'' lirih Jimmy.
Edgar mengangguk, dan Jimmy pun langsung bergegas pergi meninggalkan Edgar dan Ardi berdua.
Edgar masih menatap Ardi.
''Ar, kenapa kamu menjadi seperti itu sekarang?''
Ardi menaikkan sudut bibirnya mendengar pertanyaan itu.
''Oh oke, oke.. aku minta maaf banget kalau pernikahanku dengan Mentari benar-benar membuat kamu kecewa. Tapi, apa dengan melakukan hal-hal seperti itu suatu kewajaran?'' tutur Edgar.
''Apa yang harus aku lakukan untuk kita tetap menjalin persaudaraan yang baik?'' sambung Edgar.
''Tidak perlu!'' jawab Ardi.
''Ar, sebenarnya aku juga nggak tega lihat kamu seperti ini. Tapii.. dengan seperti ini aku harap kamu memiliki banyak waktu untuk merenung. Dan setelah keluar dari sini, kita bisa menjalin persaudaraan yang baik.''
''Pergilah Gar!'' usir Ardi dengan suara pelan namun ia tekankan.
''Ya, aku akan segera pergi, Ar. Baik-baik kamu disini ya..'' ucap Edgar lalu menepuk-nepuk pundak sepupunya itu.
Ardi tidak merespon apapun, ia juga enggan menatap Edgar yang sedang terlibat percakapan dengannya. Sampai saat Edgar hendak berpamitan pun masih tetap tidak mau menatap.
__ADS_1
Edgar meninggalkan Ardi, lalu menemui polisi yang bertugas disana.
''Terimakasih Pak.'' ucap Edgar.
''Siap Tuan.'' jawab polisi tersebut.
Edgar langsung keluar dari kantor polisi itu dan mencari sosok Jimmy.
''Kemana itu anak?''
Edgar celingukan mencari keberadaan Jimmy yang tidak terlihat dari pandangannya.
Saat tengah mencari ke kanan dan kiri, Edgar menangkap Jimmy sedang mengobrol lewat telepon di sudut teras aula.
''Asyik banget tuh kayaknya!'' gumam Edgar dan langsung menuju dimana Jimmy berada.
''Ayok pulang Jim.''
''Perasaan biasa saja, kenapa kamu kaget, Jim?'' selidik Edgar.
''A.. bukan begitu, Tuan.''
''Kamu punya pacar?''
Jimmy langsung terdiam, ingin menjawab iya, tapi, waktu itu dirasa belum tepat.
''Itu...''
''Punya atau belum itu urusan pribadimu, Jim. Sekarang ayo pulang, aku merindukan istriku.''
''Baik Tuan.''
__ADS_1
Kedua pria itu langsung masuk ke dalam mobil.
''Saya juga rindu, Tuan.. hmmm''
Sayangnya itu masih terucap di dalam hati Jimmy.
Tidak terasa hari ini waktu begitu cepat. Berangkat pagi dan sampai rumah sudah malam. Mungkinkah penghuni rumah ini sudah pada berkelana ke alam mimpi.
''Apa semuanya sudah istirahat, Pak?'' tanya Edgar pada pak Dar yang menunggu kedatangannya.
''Belum Tuan. Non Erin belum lama keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar anda.''
''Ngapain?!''
''Katanya mau ngobrol sama kakak ipar, Tuan.''
Huuhhhh! Edgar mendengus kesal.
''Ya sudah Pak, silahkan beristirahat.''
''Baik Tuan.'' jawab pak Dar.
''Jim, thank you ya..'' ucap Edgar.
Jimmy mengangguk.
''Saya permisi Tuan.''
''Ya, hati-hati..'' ucap Edgar dan dibalas anggukan kepala oleh Jimmy.
Sesampainya di dekat mobil, Jimmy membuka pesan yang masuk di ponselnya. Setelah membaca pesan tersebut, Jimmy mendongak ke atas sesaat kemudian membentuk sebuah senyuman.
__ADS_1