Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 121 : Madu Yang Mengandung Racun


__ADS_3

''Make-up anda bagus juga.'' sindir Mentari.


Mychelle membelalakkan matanya.


''Kamu benar-benar tidak memiliki empati sedikit pun! bisa-bisanya menuduhku menggunakan alat make-up.''


Mentari terkekeh kecil.


''Hmmm, jadi anda ingin kembali merangkai kisah cinta kalian yang sudah patah dan HANCUR, lalu dikubur dalam-dalam itu?'' tanya Mentari.


Mychelle menyunggingkan senyumnya.


''Ohh, jadi kamu menantangku?''


''Asal kamu tau, wanita yang dicintai sama Edgar itu hanyalah aku. Dan kamu, kamu hanyalah pelampiasan sesaatnya!''


'' Oh ya?'' balas Mentari.


''Ternyata orang yang dipandang berkelas dan sosialita itu bisa bertindak bodd0h juga ya?'' sindir Mentari.


Mychelle langsung geram, ia menggenggam kuat tangannya sendiri.


''Kenapa Kak? kesinggung? slow aja dong.. kita saling mengenal dululah sebelum anda menjadi madu yang mengandung racun.''


''Itupun kalau kesampaian ya Kak.'' sambungnya.


''Kamu!''


''Lihat saja nanti kalau aku sudah menjadi istri Edgar lagi! habis kamu!'' ancam Mychelle.


Mentari terkekeh kecil.


''Awww takut.. hahaha''


''Sudah dulu lah ya Kak pengenalan kita hari ini. Sampai jumpa di penjara.''


Mentari beranjak dari tempat duduknya, namun, ia kembali menghadap ke arah Mychelle.


''Bermimpilah seindah mungkin!''


Mentari langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Mychelle sangat geram dengan kedatangan Mentari.


''Apa maksudnya?!'' gumam Mychelle.

__ADS_1


Mentari membuka pintu ruangan itu, mama Mychelle yang menatapnya tajam langsung melewatinya dengan menyenggol bahu Mentari. Mentari hanya tersenyum tipis.


''Sayang, kamu nggak papa kan? dia nggak ngapa-ngapain kamu kan?''


Edgar langsung khawatir dengan sang istri.


''Aku baik-baik saja.'' jawab Mentari.


''Lebih baik kita kembali ke dalam dan meminta kejelasan lagi.'' ujar pak Ikhsan.


Semuanya setuju.


''Apakah keputusan itu sudah final, Nyonya?'' tanya pak Ikhsan pada mamanya Mychelle.


''Tentu saja! saya tidak ingin anak saya tidak memiliki pasangan sampai akhir hidupnya gara-gara tidak bisa memiliki keturunan. Dan dia harus bertanggungjawab untuk itu!'' tegas wanita itu.


''Saya tidak bisa!'' tegas Edgar.


''Oke, kalau kamu tidak bisa, berarti siap kasus ini dibawa ke jalur hukum.'' jawab wanita itu.


''Silahkan!'' balas Edgar yakin.


''Aku nggak mau kamu di penjara, Mas.'' ujar Mentari.


Mentari menarik nafasnya dalam-dalam.


''Saya mohon beri kami waktu untuk mempertimbangkan keadaan ini. Untuk menikahi Kak Mychelle atau menyerah pada jalur hukum. Selain itu, kondisi Kak Mychelle juga masih sangat-sangat lemah tak berdaya. Biarkan beliau lebih baik dulu. Saya siap menerima keputusan yang diambil oleh suami saya.''


''Kalau dengan menikahinya adalah sebuah tanggung jawab yang harus dilakukan, saya bisa apa?''


''Kamu sebagai istrinya harus paham! bagaimana rasanya kalau posisi kamu sama seperti anak saya?''


''Ya, ya.. saya tau rasanya pasti sangaaatt sakiitt.'' Mentari sengaja kata-katanya ditekankan.


''Untuk itu, beri saya dan suami waktu untuk berbicara berdua dulu.''


Wanita itu menatap Mentari dan Edgar bergantian.


''Jangan pernah lari dari tanggungjawab!''


''Saya tidak akan pernah lari.'' tegas Edgar.


Setelah berbicara dengan suasana yang tegang, akhirnya Edgar dan lainnya keluar dari rumah sakit itu. Mereka berhenti di parkiran mobil.

__ADS_1


''Kamu, ikut kami ke kantor.'' ujar Edgar pada Dini.


''Sa-saya.'' tunjuk Dini pada dirinya sendiri.


''Ya.''


''Kita harus membahas hal ini secepatnya.'' timpal Jimmy.


''Baik Tuan.''


''Bawa perlengkapan yang sudah kamu persiapkan.'' lanjut Jimmy.


''Baik Tuan.''


''Ikut sama kami, berikan kunci mobilmu sama dia.'' Jimmy menunjuk kepada pengawalnya yang sudah mendekat.


''Dia?''


''Hmm..''


''Baik Tuan.''


Dini menyerahkan kunci mobilnya lalu ikut bersama dengan Jimmy dan juga pak Ikhsan.


Tidak lama kemudian, mereka tiba di kantor pusat. Semua menyambut kedatangan Edgar dan lainnya.


Berita itu sudah terlanjur diketahui oleh banyak orang yang aktif terhadap media. Mereka saling berbisik melihat kedatangan rombongan yang wajahnya sangat serius itu.


''Silahkan duduk.''


Jimmy mengarahkan ke ruangan meeting.


''Sebentar, kenapa ada dia?'' tunjuk Edgar pada Dini.


Dini menatap Jimmy sekilas lalu menunduk.


''Maaf Tuan, nona Dini adalah saksi kunci dari penyelesaian untuk kasus ini. Jadi, mohon biarkan dia berada di ruangan ini.''


Edgar langsung terdiam. Meskipun dari penuturan Mentari, dia teman yang baik. Tetap saja, Dini adalah orang luar yang patut ia waspadai.


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Jimmy, Edgar menghilangkan rasa waspadanya, karena tentu saja Jimmy orang yang sudah ia percayai.


''Baiklah, silahkan duduk semuanya.'' ucap Edgar.

__ADS_1


__ADS_2