Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 44 : Ikuti Saja Alurnya


__ADS_3

''Apa kau bahagia?'' tanya Edgar menghentikan langkahnya di ruang tamu setelah mengajak Mentari berkeliling villa.


Berkeliling villa memperlihatkan pemandangan yang sangat menyejukkan disini kepada Mentari. Tanpa disadari Edgar sangat antusias untuk menunjukkan apa yang dimiliki oleh keluarganya kepada istrinya.


Edgar memperkenalkan Mentari kepada para petugas di villa tersebut. Seakan tak ingin membuat orang lain penasaran, Edgar dengan tanpa keraguan mengatakan bahwa Mentari adalah istrinya, yang beberapa waktu lagi perayaan resepsi pernikahan akan digelar.


''Saya berterimakasih kepada Tuan karena sudah memperkenalkan saya kepada mereka.'' balas Mentari dengan diikuti senyumnya.


Edgar menghadap Mentari, ia meraih tangan tersebut.


''Kenapa harus berterimakasih? bukankah kau memang istriku?''


Mentari menatap tangannya yang digenggam oleh Edgar, ia merasakan jari-jarinya gemetaran.


Edgar tertawa kecil saat merasakan tangan Mentari yang dingin didalam genggamannya.


''Apa segugup itu?''


''Hah?''


Mentari menarik paksa tangannya dari genggaman Edgar, ia menghadap ke samping menghindari tatapan suaminya.


''Nggak, biasa saja.'' jawab Mentari tanpa menatap Edgar.


Mentari merutuki dirinya sendiri di dalam hati, ia benar-benar gugup segugup-gugupnya. Malah dengan santainya Edgar bertanya soal gugup, dasar Edgar.


''Kenapa Tuan senyum-senyum?''

__ADS_1


''Kalau kau cemberut, aku jadi lapar.'' jelas Edgar dengan senyumnya yang semakin menaikkan tingkat ketampanannya itu.


''Bukankah kita baru kembali dari resto? Tuan sudah lapar lagi?'' tanya Mentari terheran-heran.


''Iya aku sangat lapar, tapi, kali ini bukan makanan yang ingin ku makan.'' jawab Edgar tanpa mengalihkan pandangannya.


Mentari mengernyitkan keningnya, mencari arti dari jawaban Edgar yang ia rasa mengandung makna lain itu.


Beberapa detik setelah berfikir, tiba-tiba terbersit sebuah bayangan, Mentari langsung menatap tajam kepada Edgar.


''Jangan pernah tinggalkan aku lagi, Mentari..''


Edgar dengan sigap menarik Mentari ke dalam pelukannya dengan sangat erat.


Mentari yang awalnya sangat shock saat dipeluk erat oleh Edgar, perlahan membalas pelukan suaminya dan mengusap punggung Edgar dengan kelembutan.


Beberapa detik hanyut dalam pelukan, Edgar mengurai pelukannya membuat keduanya saling menatap dan tersenyum.


Perlahan Edgar bermain dengan halus meskipun tanpa balasan, Mentari justru terkesan menolak karena semakin mengeratkan kedua bibirnya dan terus bergerak mundur. Hingga baru beberapa langkah, pergerakan kaki Mentari membentur meja sehingga membuatnya hampir terjatuh.


Untung saja Edgar sigap menangkapnya, ia melihat wajah gugup Mentari saat merasakan kedekatan ini.


''Tu-Tuan, bukankah anda sudah berjanji tidak akan menyentuh saya?''


Edgar hanya menyunggingkan senyumnya.


''Aku sedang berusaha untuk pernikahan kita yang normal, kau tidak keberatan kan?''

__ADS_1


''Ta-tapi Tu-Tuan..''


Edgar tersenyum tipis.


''Ikuti saja alurnya, Mentari.''


Edgar mengangkat tubuh Mentari, sehingga membuat Mentari spontan mengalungkan tangannya di leher Edgar dan menyilangkan kedua kakinya di punggung sang suami karena takut terjatuh.


''Tu-Tuan, turunkan saya!''


Edgar tidak menggubris, ia langsung menuju ke dalam kamar. Ia mendudukkan dirinya di sofa, dengan posisi Mentari masih di pangkuannya.


Edgar kembali melanjutkan aksinya, untuk merasakan manis yang berbeda. Kelembutannya perlahan berhasil membuat Mentari luluh dan tidak menolak. Menyadari hal itu, Edgar semakin terpacu, ia semakin memperdalam hingga mendapatkan balasan.


Seperti bara api yang terus berkobar, peluh keringat sudah mulai membasahi tubuh Edgar. Edgar merubah posisi Mentari untuk dibawahnya, lalu ia melepaskan t-shirt yang melekat ditubuhnya.


Mentari pun sepertinya sudah lupa akan penolakannya, tembok yang kokoh perlahan runtuh jika bersama dengan Edgar. Sofa yang menjadi saksi ciuman panas antara Edgar dan Mentari.


Setelah beberapa saat kemudian, Mentari sudah terlihat kehabisan nafas, Edgar menyudahinya dan merengkuh kepala Mentari ke dalam pelukannya.


''Kalau kau ingin melakukan ini setiap saat, katakan saja, aku siap..'' ucap Edgar.


Mentari langsung mundur.


''Bukan saya yang ingin, tapi anda.'' jawabnya dengan wajah yang merona dan tidak mau menatap Edgar.


Edgar tersenyum melihat ekspresi malu Mentari.

__ADS_1


''Iya, aku yang ingin.. berarti kau yang harus siap membalasnya, hot seperti barusan, besok-besok lebih lagi, oke..'' goda Edgar.


Mentari langsung terbelalak, ntah sudah seperti apa wajahnya, mungkin seperti udang rebus.


__ADS_2