Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 133 : Termasuk Bibit Unggul


__ADS_3

''Untuk masalah Ardi, biar Papi dan Jimmy yang mengurusnya, Gar. Sementara ini kamu fokus saja dulu sama istrimu. Nanti ada waktunya untuk kamu klarifikasi soal berita ini ke media sebelum Papi kembali ke luar negeri.''


Edgar hanya memberikan anggukan kepala sebagai persetujuannya.


''Maaf Pi, saya potong. E.. tidak papa kalau memang Mas Edgar masih banyak yang harus dikerjakan. Saya tidak papa, ada Mami dan juga Erin.'' ujar Mentari.


Papi tersenyum, ia tau menantunya itu tidak ingin dianggap manja mengenai kehamilannya. Tetapi, ia juga tak ingin membuat menantu dan cucu yang masih berada di dalam kandungannya merasa cemas karena memikirkan Edgar yang masih harus berhadapan dengan permasalahan.


''Tidak papa Mentari, mumpung Papi masih disini. Papi ingin cucu-cucu Papi ditemani sama ayahnya dulu.'' ujar papi.


''Ikuti saja apa kata papi.'' ujar Edgar lirih.


''Hehe ya sudah Pi, kalau memang begitu.''


Papi tersenyum.


''Jim, kami mohon maaf karena dedikasimu kepada kami yang teramat besar membuatmu menunda-nunda tentang pribadimu.''


Jimmy langsung mengangkat wajahnya menatap tuan Erick dengan gagap.


''Ah haha itu.. itu sudah menjadi tanggung jawab saya, Tuan. Iya, begitu.'' jawab Jimmy gugup.


''Semoga nanti kamu mendapatkan pasangan yang mengerti kesibukanmu.'' imbuh tuan Erick.


''Iya, Tuan. Semoga..'' jawabnya dengan senyum yang kikuk.


Papi tertawa kecil melihat respon dari Jimmy yang gugup. Sedangkan Jimmy langsung menggaruk kepalanya.


''Aku ke kamar dulu, Mi. Sepertinya ada tugas yang dikirimkan lewat email.''


Erin berdiri dengan berbicara kepada maminya.


''Memangnya masih ada tugas?'' sahut Edgar.


''Ada, tugas tambahan.'' jawab Erin cepat.

__ADS_1


''Permisi..''


Erin sedikit membungkukkan badannya dan langsung meninggalkan perkumpulan itu dengan salah tingkah.


''Anak kecil-anak kecil..'' ujar Edgar dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


''Hust!'' protes Mentari.


Erin langsung mengunci pintu kamarnya, ia tak ingin tiba-tiba ada yang masuk. Cukup sekali saja waktu itu ketika Mentari langsung masuk ke dalam kamarnya.


Huuuuhhhhhh


Erin membuang nafasnya yang seperti habis lari maraton keliling kota. Ia menyandarkan tubuhnya di belakang pintu.


''Aku deg-degan, jantungku serasa mau lepas dari tempatnya.'' gumam Erin.


Tuan Erick, Jimmy, dan pak Ikhsan meninggalkan rumah tersebut. Mereka tidak ingin berlama-lama dan membuang-buang waktu. Apalagi kedatangan tuan Erick di tanah air tentu saja tidak akan lama.


''Kalian istirahat saja dulu ya.. Mami juga mau istirahat di kamar. Kebanyakan duduk bikin punggung Mami lelah.'' ujar mami sembari menunjuk punggungnya.


''Faktor U itu Mi..'' canda Edgar langsung terkekeh.


''Ah kamu itu, bukannya kasih solusi malah ngeledek Mami.'' protes mami.


''Yaudah Mami sayang sekarang istirahat dulu, nanti malam aku panggilkan tukang pijit.''


''Ya, ya.. terserah kamu saja.''


''Pelan-pelan jalannya, sayang. Hati-hati lho ya.. ingat jangan capek-capek! kalau suamimu nggak pengertian, lapor sama Mami!''


Mendengar kalimat yang dilontarkan mami membuat Mentari sedikit mengernyit.


Sesaat kemudian Mentari hanya tertawa kecil dan mengiyakan ucapan mertuanya yang terdengar ambigu itu.


''Iya Mi, siap..''

__ADS_1


''Dah sana istirahat.''


Mami langsung masuk ke kamarnya.


Ruangan itu kembali sepi, hanya para pekerja yang mondar mandir melakukan aktivitasnya. Mentari dan Edgar pun langsung ke atas juga. Mereka duduk di balkon untuk menikmati suasana siang hari yang cuacanya sedikit mendung.


''Mas, boleh aku tanya?'' ujar Mentari.


''Sepertinya pertanyaan serius, ada apa sayang?'' tanya Edgar.


''Nanti kamu mau di panggil apa sama anak-anakku?'' tanya Mentari.


''Anak-anak kita.'' protes Edgar tidak terima karena pertanyaan Mentari ada yang salah.


Mentari langsung terkekeh pelan.


''Iya maaf, aku salah bicara. Maksudku anak-anak kita.'' ucap Mentari.


''Enak aja yang bercocok tanam nggak diakui. Termasuk bibit unggul loh ini.'' protes Edgar masih belum terima.


Mentari mencubit gemas hidung mancung suaminya itu.


''Iya Mas, maaf. Maksudnya anak-anak kita gitu.. tadi apa yang ada dipikiran sama yang terucap beda hehe.''


''Apa perlu diingatkan lagi sekarang nih?'' goda Edgar.


''Mas ih! nggak lihat-lihat waktu!'' gerutu Mentari membuat Edgar tertawa.


Edgar memeluk Mentari dengan memberikan usapan lembut diperutnya yang masih rata itu.


''Tumbuh sehat diperut Mama ya sayang. Papa dan Mama sangat menanti kehadiran kalian.''


Mentari ikut tersenyum melihat interaksi suaminya. Jiwanya terasa sangat tenang ketika mendapatkan perlakuan yang manis.


''Terimakasih sayang, aku mencintaimu, sangat mencintaimu.'' ucap Edgar yang merasa jatuh cinta setiap hari sehingga tidak bosan mengungkapkan perasaannya berkali-kali.

__ADS_1


''Aku juga sangat mencintaimu, Mas Edgar, suamiku yang sangat tampan." balas Mentari.


Mentari membenamkan kepalanya di dada Edgar dengan kedua matanya yang ia pejamkan.


__ADS_2