Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 85 : Maafkan Mama


__ADS_3

''Dira, tunggu!''


Seru suara itu yang semakin dekat dan Mentari tidak salah. Mentari pun mengenali sosok yang tengah berjalan cepat kearahnya.


Edgar menatap seseorang itu dan Mentari secara bergantian untuk mencari jawaban.


''Mertuaku, Mas.'' tutur Mentari seolah paham dengan rasa penasaran yang tersirat di wajah suaminya.


Setelah sekian lama tanpa perjumpaan, jangankan untuk berjumpa, kiriman pesan Mentari sekedar untuk menanyakan kabar pun selalu diabaikan oleh keluarga almarhum suaminya. Sebelum akhirnya ia menggunakan nomor ponselnya yang baru.


Pahit memang kenyataan itu, sangat menyakitkan baginya. Namun, Mentari tetaplah dirinya yang tidak ingin memelihara dendam.


Mentari maju beberapa langkah untuk menyambut ibu mertuanya itu, sedangkan Edgar memilih diam dulu sembari memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


''Mama..'' Mentari mengulurkan tangannya dan disambut dengan baik oleh ibu mertuanya itu.


Wanita itu pun langsung menarik Mentari ke dalam pelukannya. Terlihat sangat hangat pelukan itu.


Mentari langsung bengong sesaat, apa yang terjadi sebenarnya hingga bisa berjumpa dengan seseorang yang sudah lama tidak ia jumpai. Akan tetapi, ia juga sangat merindukan wanita yang kini memeluknya. Biar bagaimanapun, mereka pernah menjadi keluarga.


''Mama apa kabar?'' tanya Mentari.


''Kabar Mama baik, e....'


Ibu mertua mengurai pelukannya, lalu melirik Edgar.


''Mas..'' panggil Mentari pelan.


Edgar paham dengan maksud sang istri, ia pun langsung mendekat dengan sedikit membungkukkan badannya ketika berhadapan dengan wanita paruh baya itu.


''Emm.. Ma,''


''Perkenalkan, saya suaminya Mentari.'' ucap Edgar memotong kalimat sang istri.


''Mentari?''


''Emm.. semenjak aku menikah dengan beliau, nama panggilanku diganti Mentari, Ma..'' jawab Mentari.

__ADS_1


''Oohhhh..''


''Maaf, apa benar anda putra dari tuan Erick Raymond?'' tanya wanita itu.


''Apakah anda tidak mempercayai itu?'' Edgar bertanya balik.


''Ah bukan begitu maksud saya.''


Edgar menelisik wanita paruh baya di depannya itu dengan tangan yang melipat di depan.


''Jadi, sebenarnya ada keperluan apa anda memanggil istri saya?'' tanya Edgar.


''E... tidak.''


''Dira, apa dia tau tentang masalalumu?'' ibu tersebut beralih kepada Mentari dengan sedikit berbisik.


''Iya ta-''


''Saya sudah mengetahui semua tentang istri saya secara luar dalam, apalagi tentang masalalunya. Anda tidak perlu berbisik-bisik seperti itu, bahkan kemarin kami mengunjungi makam putra kesayangan anda, mantan suami istri saya, Nyonya.'' sahut Edgar sedikit menekankan bicaranya


''Mas..'' bisik Edgar dengan mengusap lengan Edgar. Karena ia merasa Edgar bersikap tidak ramah terhadap wanita itu.


Edgar hanya menengok sekilas.


''Mama merindukanmu, Mama tau kabar pernikahan kalian. Untuk itu, Mama ingin memberikan ucapan selamat, dan.. waktu itu Mama mengunjungi rumahmu, ternyata rumah itu kosong.''


''Iya Ma terimakasih, aku sekarang sudah tidak dirumah itu lagi. Aku ikut dengan suamiku.''


''Mama sendirian?''


Mentari mengedarkan pandangannya ke sekitar mereka.


''Iya Nak, Mama sendiri..''


Edgar menatap tidak ramah pada wanita itu, namun, ia masih tetap berusaha meladeni apa yang akan dilakukan selanjutnya.


Tidak jauh berbeda dari pikiran Edgar, Mentari pun merasakan ada sesuatu hal.

__ADS_1


''Dira, Mama mohon maafkan Mama.'' ucap wanita itu yang tiba-tiba langsung bersimpuh di hadapan Mentari. Tak ayal sikapnya itu langsung menarik perhatian orang-orang yang tengah berada disana.


''Mama, aku mohon jangan seperti ini, aku sudah melupakan semuanya.'' Mentari berusaha memapah mantan mertuanya itu untuk bangkit. Namun, wanita itu mengelak, ia menggeleng dengan tangis yang tersedu-sedu.


Mentari pun ikut mensejajarkan dengan wanita itu.


''Berdirilah, Nyonya! dan katakan apa tujuan anda, waktu saya tidak banyak untuk meladeni airmata anda.'' cetus Edgar.


Wanita itu pun perlahan berdiri karena takut dengan tatapan mata Edgar yang tajam seperti ingin menerkamnya hidup-hidup.


''Saya hanya ingin melanjutkan kekeluargaan lagi dengan Dira, e.. maksud saya Mentari.''


''Mama mohon Nak..'' wanita itu menggenggam tangan Mentari dengan menatap Mentari dan Edgar bergantian.


Edgar nampak membuang nafasnya sekilas.


''Ya, silahkan.. tapi, untuk bertemu, istri saya tidak bisa bebas, begitu juga dengan rumah kami, tidak sembarangan orang bisa masuk.'' ujar Edgar.


''Tidak papa, tidak papa. Melalui telepon saja saya sudah senang.'' balas wanita itu sembari menyeka airmatanya.


''Beneran nggak papa Mas?'' tanya Mentari lirih.


Edgar pun mengangguk.


Mentari kemudian mengambil ponselnya dan memberikan nomornya kepada mantan mertuanya.


''Maaf Ma, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini.'' ucap Mentari.


''Iya Nak, tidak papa, Mama mengerti waktumu sekarang pasti lebih padat setelah menikah dengan putra Erick Raymond. Kamu sungguh beruntung.''.


Mentari hanya tersenyum tanpa berniat membalas dengan perkataan apapun.


''Aku duluan ya, Ma..'' Mentari menjabat tangan wanita itu sebelum pergi.


''Hati-hati Nak.''


Mereka berpelukan sebentar lalu Mentari langsung kembali masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2