
Meskipun sedang menikmati masa liburnya, Edgar tetap tidak bisa diam begitu saja. Ia tetap memantau pekerjaan yang Jimmy kirimkan melalui email. Beberapa proyek yang masih berjalan mengharuskan pengawasan dari pimpinan langsung.
Setelah merasa cukup lelah perjalanan hari ini, Edgar dan Mentari langsung kembali ke penginapan. Setelah membersihkan badannya, Edgar memeriksa pekerjaan, sedangkan Mentari memilih mengistirahatkan tubuh di tempat tidur.
Edgar menutup laptopnya, ia menghampiri sang istri yang sudah terlihat memejamkan kedua matanya dengan memeluk guling berwarna putih itu. Sudut bibir Edgar terangkat, ia tersenyum gemas melihat wanita yang dicintainya tidur dengan mulut yang sedikit terbuka.
''Beneran sudah tidur?'' lirih Edgar.
Hening, tidak ada jawaban. Sepertinya Mentari benar-benar sudah melanjutkan memujudkan mimpinya di dalam mimpi.
Edgar naik ke atas ranjang, ia membelai lembut wajah Mentari dan menyembunyikan anak rambut yang sedikit menutupi wajah sang istri.
''Maaf ya istriku, bukannya fokus dengan perjalanan kita saja, suamimu ini masih harus meluangkan waktu untuk mengurus pekerjaan.''
Edgar mendekatkan tubuhnya dengan Mentari, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Mentari masih tidak bergeming.
Perlahan Edgar pun ikut memejamkan kedua matanya. Ia juga harus segera mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya. Meskipun ada yang mengganjal di hatinya karena si elangnya menganggur. Tak apa, Edgar mengerti, masih ada hari esok dan hari-hari lainnya.
Bayangan laki-laki kecil itu semakin menjauh darinya. Mentari tidak percaya. Ia hanya menangis sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.
''Jangan pergi, Nak.. jangan tinggalkan Mama.'' Mentari masih terus terisak.
''Aku kecewa sama kamu, Mentari! sangat kecewa!''
''Mas, maafkan aku, Mas.. aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi.''
Edgar melepaskan tangan Mentari dengan kasar. Mentari yang masih berada diatas ranjang rumah sakit itu semakin terisak. Suaminya sangat-sangat kecewa atas kehilangan janin ya ia kandung. Tubuhnya yang masih lemah pun sudah tak dihiraukan lagi oleh Edgar.
Kesedihan semakin mendalam Mentari rasakan. Semua menyalahkan dirinya atas musibah ini. Mentari dituduh teledor dalam menjaga kandungannya yang sebelumnya sudah di katakan lemah oleh seorang dokter.
Edgar dan seluruh keluarganya pergi dari ruangan itu dengan amarah. Mentari tak mampu berbuat apa-apa selain menangis, karena memberikan penjelasan pun sudah tak dihiraukan lagi.
''Mas..''
__ADS_1
''Mas Edgar..''
''Jangan pergi..''
''Jangan tinggalkan aku sendiri..''
''Tolong dengarkan aku..''
''Jangan pergi.. Mas..''
..
''Sayang bangun, kamu kenapa? sayang..''
''JANGAN PERGI!''
''Hey istriku, aku nggak pergi kemana-mana, aku disini.. kamu pasti mimpi buruk.''
Edgar langsung memeluk Mentari dengan erat. Mentari masih berusaha mengembalikan kesadarannya setelah tersadar dari mengigau yang membuat Edgar langsung terbangun karena mendengar suara sang istri.
Edgar mengurai pelukannya, ia menangkup wajah Mentari dan mengusap air mata yang sangat khawatir itu.
''Aku disini..'' ucap Edgar lembut.
Edgar mengambilkan air minum di atas meja.
''Kamu minum dulu.''
Mentari menerima gelas itu lalu meneguknya hingga tak tersisa.
Mentari terdiam, ia memperhatikan di sekelilingnya. Mencoba terus mengingat apa yang baru saja terjadi.
Mentari menarik nafasnya dalam-dalam. Kejadian yang baru dialaminya hanya terjadi di dalam mimpi.
__ADS_1
''Aku mimpi buruk, Mas..'' ujar Mentari.
Edgar tersenyum, lalu menarik bahu Mentari ke dalam pelukannya.
''Sudahlah, itu hanya mimpi, sayang. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.''
''Tapi, Mas.. aku takut, aku takut kamu benar-benar meninggalkan aku, Mas. Apalagi sekarang belum ada tanda-tanda apapun tentang kehamilan.'' ungkap Mentari sedih.
Cup
Edgar menciium kening Mentari.
''Memangnya mimpi apa?''
Mentari mendongak sesaat lalu kembali menunduk. Kemudian ia menceritakan tentang mimpi buruknya.
DITINGGAL PERGI
Mungkin kata yang sederhana bagi beberapa orang. Tapi, tidak untuk Mentari. Ia memiliki trauma yang mendalam tentang ditinggal pergi. Kalimat yang mudah diucapkan, tetapi faktanya sangat sulit untuk dilakukan.
"Jangan pernah berpikiran seperti itu lagi ya. Kita akan menua bersama, dengan anak cucu kita nanti. Mungkin ada baiknya dari mimpi itu kita lebih waspada lagi kedepannya." tutur Edgar berusaha menenangkan sang istri.
"Iya Mas, terimakasih sudah menenangkan pikiranku."
Edgar tidak menjawab, ia justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Dan satu lagi, Mas.."
"Apa hem?"
Mentari mendongak.
"Maafkan aku karena sudah mengganggu tidur kamu." ucap Mentari merasa bersalah.
__ADS_1
"Aku tidak terganggu, sayang. Hanya sedikit terkejut.." bisiknya membuat sang istri terkekeh kecil.