Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 264 : Ingat Pesan Mami


__ADS_3

Hari pertama mami berada di tanah air. Setelah berkumpul dengan anak dan menantunya di ruang tengah. Mereka menuju ke kamarnya masing-masing.


Sesampainya di kamar, Edgar dan Mentari masih menahan tawanya.


''Udah ah, Mas. Dosa lho nanti ketawain mami.'' protes Mentari.


''Ya sudah, kita lakukan yang bikin pahala kamu makin bertambah.'' bisik Edgar.


Mentari spontan mengusap telinganya karena tiba-tiba merasa merinding di sekujur tubuhnya setelah mendengarkan bisikan dari suaminya.


''Bikin merinding aja kamu, Mas.''


Edgar hanya tersenyum penuh arti, ia menaikturunkan alisnya dan memberikan sebuah kode bahwa elangnya sudah siap masuk kandang.


''Tidur lang, sudah malam.'' canda Mentari lalu berjalan meninggalkan Edgar.


''Sayaaaang.'' rengek Edgar lalu menyusul sang istri.


Mentari melepaskan tawanya melihat rengekan Edgar yang seperti anak kecil itu.


''Aku mau siapkan baju ganti, Mas.'' ujar Mentari yang sudah berada di depan lemari.


Edgar langsung memeluk Mentari dari belakang. Lalu menahan pintu lemari yang hampir dibuka oleh Mentari.


''Nggak usah disiapkan baju ganti, nggak dipakai juga.'' bisik Edgar lagi.


Edgar menurunkan tangan Mentari dari pintu lemari itu, lalu membalikkan badan sang istri agar menghadapnya.


Keduanya saling menatap lekat, wajah Edgar perlahan mendekat dan memulai aksinya dengan lembut. Ingat pesan ibu.


''Mas, ingat pesan mami, 'kan?'' tanya Mentari setelah beberapa detik.


Edgar mengangguk.


''Aku tidak akan menyakitimu, sayang.'' bisik Edgar.


Mereka melanjutkan di tempat yang semestinya, agar Mentari pun nyaman. Posisi sedang hamil memang harus hati-hati. Apalagi perutnya yang sudah sangat mengganjal.


Malam ini pun terjadi lagi sebuah pengiringan elang untuk masuk ke kandangnya.

__ADS_1


--


Pagi hari, Edgar sudah siap untuk kembali beraktivitas di kantor. Hari ini Jimmy akan menjemputnya sekalian menemui mami.


''Apa nanti Jimmy kesini?'' tanya mami sebelum mereka sarapan.


''Iya Mi.'' jawab Edgar.


Mami mengangguk, mereka tidak melakukan percakapan lagi karena sarapan sudah di mulai.


Sementara itu, Jimmy yang sedang di perjalanan menuju ke arah rumah bosnya menjadi sedikit gugup.


''Ketemu calon mertua, rasanya deg-degan.'' gumam Jimmy.


Jimmy melirik jam tangannya, masih pagi disini, Erin pasti belum bangun. Karena disana masih malam.


Jalanan pagi ini sudah ramai, para pekerja dan anak-anak sekolah sudah memenuhi jalanan kota. Jimmy yang sudah terbiasa dengan pemandangan ini tidak kaget.


Tak lama kemudian, ia tiba di kediaman Raymond. Mengetahui ada yang datang, petugas keamanan rumah tersebut langsung membuka lebar pintu gerbang.


''Selamat pagi, Tuan Jimmy.'' sapa petugas keamanan itu.


Mami, Edgar, dan Mentari yang sudah selesai sarapan beralih ke ruang tamu, sembari menunggu kedatangan Jimmy.


Baru saja duduk, pak Dar masuk ke dalam rumah dengan Jimmy yang berada di belakangnya.


''Silahkan, Tuan.'' ujar pak Dar.


Jimmy mengangguk. '' Terima kasih, Pak.'' ucapnya.


Setelah memberikan anggukan kecil, pak Dar meninggalkan ruang tamu.


Jimmy langsung berjalan mendekati keluarga bosnya itu.


''Selamat pagi, Nyonya ... Tuan Edgar, Nona Mentari.'' sapa Jimmy.


''Pagi, Jim. Gimana kabar kamu?'' tanya mami.


''Sangat baik, Nyonya. Sepertinya Nyonya juga dalam keadaan sehat, 'kan?'' balas Jimmy.

__ADS_1


''Tentu saja saya sehat. Apalagi ketemu sama calon menantu.'' balas mami.


Jimmy langsung tersenyum tipis malu-malu, ingin rasanya ia langsung jingkrak-jingkrak, mungkin akan melakukan kayang jika tidak berada disini. Untung saja kewarasannya masih terkontrol dengan baik.


''Dih! sok imut!'' bathin Edgar.


''EHM! ayo jalan sekarang saja, Jim.'' timpal Edgar.


Jimmy mengangguk. ''Baik Tuan.''


''Saya permisi, Nyonya.'' pamit Jimmy.


''Kalian hati-hati ya, dan selalu akur.'' jawab mami.


Mentari menutup mulutnya mendengar pesan mami.


''Baik Nyonya, saya dan tuan Edgar selalu bersama dan sangat akur.''


''Benar begitu, 'kan, Tuan?'' balas Jimmy langsung menepuk-nepuk pundak Edgar sangat akrab.


Edgar melirik tangan Jimmy yang tengah menepuk-nepuknya.


''Dasar mencari kesempatan!'' bathin Edgar.


''Tidak mungkin juga kita mau berkelahi, Mi.'' jawab Edgar.


''Ya sudah kita jalan sekarang.'' sambungnya.


Kedua pria itu langsung berpamitan. Seperti biasa, Edgar harus mengusap-usap perut Mentari sebelum meninggalkan rumah.


''Papa kerja dulu ya, Nak.'' pamit Edgar lalu menciium perut Mentari.


...****************...


Sembari nunggu update part selanjutnya, Cimai rekomendasikan lagi novel yang ceritanya bikin nagih. Cinta, perjuangan, dan kepercayaan.


Karya dari othor, YANKTIE INO yang berjudul, ''BETWEEN QATAR AND JOGJA" wajib banget untuk kalian baca dan langsung masukkan ke rak favorit kalian 😍


Terima kasih 🙏

__ADS_1



__ADS_2